Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi hubungan yang menyakitkan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Trauma bonding adalah ikatan emosional kuat dengan pasangan yang menyakiti atau mengendalikan, terbentuk dari siklus perlakuan buruk yang diselingi perhatian, maaf, dan janji perubahan.
  • Pola ini diperkuat ketergantungan emosional atau finansial, isolasi, manipulasi, ancaman, serta harapan pasangan berubah; korban dapat membenarkan perlakuan buruk dan sulit pergi.
  • Dampaknya meliputi kebingungan emosional, kecemasan, sulit tidur, dan hilang percaya diri. Melepaskannya sering memerlukan waktu, dukungan aman, serta pertimbangan keselamatan dan kondisi pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah bertanya-tanya mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang membuatnya terluka, meskipun berkali-kali berjanji untuk pergi? Dari luar, keputusan untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi orang yang mengalaminya, melepaskan pasangan bisa terasa sangat sulit karena masih ada rasa sayang, harapan bahwa keadaan akan berubah, atau ketakutan kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Salah satu dinamika yang dapat menjelaskan kondisi tersebut adalah trauma bonding.

Trauma bonding sering dibicarakan dalam konteks hubungan romantis yang melibatkan kekerasan atau manipulasi emosional. Ikatan ini dapat terbentuk ketika perlakuan menyakitkan berulang kali diselingi dengan perhatian, kasih sayang, permintaan maaf, atau janji untuk berubah. Perpaduan antara rasa takut dan harapan tersebut dapat membuat seseorang kesulitan melepaskan hubungan, bahkan ketika ia menyadari bahwa hubungan itu berdampak buruk bagi dirinya. Untuk memahaminya lebih jauh, berikut penjelasan mengenai trauma bonding, penyebab, dampak, dan cara mengatasinya.

1. Apa Itu trauma bonding?

Ilustrasi sedang bertengkar (pexels.com/Keira Burton)

Trauma bonding adalah ikatan emosional yang kuat dengan seseorang yang juga memberikan perlakuan menyakitkan, mengendalikan, atau melakukan kekerasan terhadap dirinya. Istilah ini bukan sekadar menggambarkan hubungan yang memiliki banyak masalah atau pasangan yang sering bertengkar. Trauma bonding biasanya berkaitan dengan pola perlakuan buruk yang berulang, ketimpangan kuasa, serta pergantian antara penderitaan dan perlakuan penuh kasih sayang yang membuat korban tetap terikat.

Sebagai contoh, seseorang memiliki pasangan yang kerap merendahkan dan mengabaikan perasaannya. Setelah pertengkaran, pasangan tersebut meminta maaf, memberikan hadiah, bersikap sangat perhatian, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Korban kemudian merasa lega dan kembali berharap hubungan akan membaik. Namun, beberapa waktu kemudian, perlakuan menyakitkan yang sama terulang kembali. Siklus ini dapat membuat seseorang semakin sulit pergi karena momen bahagia terasa seperti bukti bahwa pasangannya sebenarnya bisa berubah.

2. Mengapa trauma bonding bisa terjadi?

Ilustrasi merasa takut (pexels.com/Gustavo Fring)

Salah satu faktor yang dapat memperkuat trauma bonding adalah siklus perlakuan buruk dan kasih sayang yang datang silih berganti. Ketika seseorang mengalami perlakuan menyakitkan, kemudian menerima perhatian atau permintaan maaf, ia mungkin merasakan kelegaan yang sangat besar. Perasaan lega tersebut dapat membuat momen rekonsiliasi terasa sangat berarti, terutama setelah mengalami ketakutan, penolakan, atau penghinaan. Jika pola ini terus berulang, harapan akan datangnya perlakuan baik dapat membuat seseorang bertahan meskipun hubungan tersebut tidak sehat.

Faktor lain yang berperan antara lain ketergantungan emosional atau finansial, isolasi dari keluarga dan teman, rasa takut menghadapi kehidupan tanpa pasangan, serta pengalaman masa lalu yang memengaruhi cara seseorang memandang hubungan. Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan manipulasi, ancaman, rasa bersalah, atau janji perubahan untuk mempertahankan kendali. Meski demikian, tidak semua orang yang sulit meninggalkan hubungan mengalami trauma bonding. Kondisi ini perlu dipahami berdasarkan pola hubungan dan situasi yang dialami, bukan hanya karena seseorang masih mencintai pasangannya.

3. Apa saja tanda-tanda trauma bonding?

Ilustrasi memeluk pasangan (pexels.com/pexels.com/)

Salah satu tandanya adalah kamu terus membenarkan perlakuan buruk pasangan meskipun merasa terluka. Kamu mungkin mengatakan kepada diri sendiri bahwa pasangan sedang stres, memiliki masa lalu yang sulit, atau sebenarnya orang baik yang hanya sesekali kehilangan kendali. Kamu juga bisa lebih mengingat momen-momen indah daripada memperhatikan pola perlakuan yang terus berulang. Akibatnya, tindakan menyakitkan yang seharusnya menjadi perhatian justru terasa seperti sesuatu yang harus dimaklumi.

Tanda lainnya adalah merasa sangat sulit pergi meskipun menyadari hubungan tersebut merugikan diri sendiri. Kamu mungkin merasa bersalah ketika mencoba menjauh, takut pasangan akan marah, atau terus berharap bahwa permintaan maaf kali ini benar-benar akan diikuti perubahan. Sebagian orang juga mulai kehilangan kepercayaan diri, menjauh dari orang terdekat, atau merasa bahwa hanya pasangan tersebut yang dapat membuat hidupnya terasa baik kembali. Tanda-tanda ini bukan alat diagnosis, tetapi dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi keamanan dan kesehatan hubungan.

4. Apa dampak trauma bonding terhadap kesehatan mental?

Ilustrasi merasa takut (pexels.com/Alena Darmel)

Trauma bonding dapat membuat seseorang mengalami kebingungan emosional yang berkepanjangan. Di satu sisi, ia merasa takut, kecewa, atau terluka karena perlakuan pasangan. Di sisi lain, ia masih menyayangi pasangan, merindukan momen bahagia, dan merasa bersalah ketika membayangkan perpisahan. Pertentangan ini dapat menguras energi mental karena seseorang terus berusaha memahami mengapa orang yang dicintainya juga menjadi sumber penderitaan.

Jika hubungan tersebut melibatkan kekerasan atau kontrol yang berlangsung lama, dampaknya dapat meluas ke kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin mengalami kecemasan, kesulitan tidur, kehilangan rasa percaya diri, atau merasa takut mengambil keputusan sendiri. Pengalaman tersebut juga dapat memengaruhi kepercayaan terhadap orang lain setelah hubungan berakhir. Dampak setiap orang berbeda, dan trauma bonding tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental tertentu. Namun, penderitaan yang dirasakan tetap layak mendapatkan perhatian dan dukungan.

5. Mengapa memutus trauma bonding tidak semudah mengakhiri hubungan?

Ilustrasi merasa sedih (pexels.com/Alex Green)

Banyak orang mengira seseorang dapat langsung meninggalkan hubungan yang menyakitkan begitu menyadari bahwa pasangannya berperilaku buruk. Kenyataannya, keputusan tersebut dapat melibatkan banyak pertimbangan, termasuk perasaan cinta, ketergantungan finansial, tempat tinggal, anak, tekanan keluarga, atau ancaman dari pasangan. Bagi seseorang yang mengalami kontrol dan manipulasi, pergi bahkan dapat terasa lebih menakutkan daripada bertahan, terutama jika ia khawatir terhadap keselamatannya.

Selain itu, keinginan untuk kembali tidak selalu berarti hubungan tersebut sehat atau bahwa keputusan untuk pergi adalah kesalahan. Seseorang bisa merindukan pasangannya sekaligus menyadari bahwa perlakuan yang diterimanya tidak dapat dibenarkan. Kenangan baik, harapan akan perubahan, dan rasa kehilangan dapat muncul bersamaan. Karena itu, proses melepaskan trauma bonding sering membutuhkan waktu, dukungan yang konsisten, dan langkah-langkah yang mempertimbangkan kondisi serta keamanan orang yang mengalaminya.

Trauma bonding mengingatkan kita bahwa ikatan emosional yang kuat tidak selalu menjadi tanda hubungan yang sehat. Seseorang dapat benar-benar mencintai pasangannya sekaligus mengalami perlakuan yang menyakitkan. Karena itu, menilai sebuah hubungan tidak cukup hanya dengan melihat seberapa besar rasa sayang yang dimiliki, tetapi juga perlu memperhatikan rasa aman, penghormatan, kebebasan, dan konsistensi perilaku di dalamnya.

Kamu berhak mendapatkan hubungan yang tidak membuatmu terus-menerus takut kehilangan, merasa bersalah, atau mempertanyakan harga dirimu sendiri. Jika kamu sedang berada dalam hubungan yang menyakitkan, kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian atau mengambil keputusan besar dalam satu malam. Mulailah dengan mencari dukungan yang aman, mengenali pola yang terjadi, dan mengingat bahwa kebutuhanmu untuk merasa aman dan dihormati tetap penting.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article