Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trauma Bonding dengan Orangtua: Pernah Disakiti Lalu Diberi Hadiah?

Trauma Bonding dengan Orangtua: Pernah Disakiti Lalu Diberi Hadiah?
ilustrasi tanda trauma bonding dengan orangtua (pexels.com/kaboompics.com)
  • Trauma bonding dengan orangtua dapat muncul melalui siklus dimarahi atau disakiti, lalu diberi hadiah tanpa membahas masalah, sehingga anak bingung dan merasa bersalah saat marah.
  • Pola ini dapat membuat permintaan maaf dan komunikasi sehat tergantikan kompensasi materi, serta membentuk toleransi terhadap hubungan yang menyakitkan atau penuh konflik di masa depan.
  • Tandanya mencakup takut ditinggalkan meski disakiti, membenarkan perilaku kasar, mencari validasi dari drama, dan sulit mengenali emosi sendiri; bantuan profesional disarankan bila kewalahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak setelah dimarahi habis-habisan oleh orangtua sampai menangis, eh, tiba-tiba dibelikan makanan favorit seolah gak terjadi apa-apa? Sikap tarik-ulur seperti ini sering bikin kamu bingung dan merasa bersalah karena sudah sempat marah kepada mereka. Padahal, siklus marah lalu dikasih 'hadiah' ini bisa jadi merupakan tanda trauma bonding dengan orangtua yang sering gak disadari.

Kalau kamu terus membiarkan pola ini terjadi, pelan-pelan mentalmu bakal capek dan kamu jadi kehilangan batasan diri yang sehat, lho. Kamu mungkin akan mulai menoleransi perilaku toksik dari orang lain di masa depan karena otakmu sudah terbiasa dengan pola kasih sayang yang membingungkan ini. Jadi, simak lima tanda trauma bonding ini agar kamu bisa mencegahnya.


  1. 1. Merasa bersalah saat ingin marah balik

    ilustrasi merasa bersalah saat ingin marah balik
    ilustrasi merasa bersalah saat ingin marah balik (pexels.com/Jill Burrow)

    Saat orangtua menyakiti perasaanmu, insting alaminya pasti kamu ingin membela diri atau setidaknya merasa marah. Namun, karena mereka langsung bersikap manis setelahnya, emosi marahmu itu langsung diredam secara paksa. Kamu malah jadi merasa sebagai anak yang durhaka karena sudah menyimpan kesal kepada orangtua yang 'katanya' sangat menyayangimu. Perasaan campur aduk ini membuatmu selalu memendam emosi negatif sendirian, lho.

    Hal membingungkan ini disebut cognitive dissonance, di mana otakmu kesulitan memproses dua kenyataan yang bertolak belakang dalam satu waktu. Jadi, pagi harinya kamu diteriaki karena masalah sepele, tapi sorenya kamu malah dibelikan martabak manis kesukaanmu. Secara gak sadar, martabak manis itu bukan lagi sekadar makanan penutup yang enak, tapi berubah jadi alat manipulasi agar kamu lupa dengan luka paginya. Lucunya, kamu tetap saja memakannya meski hati ini perih?


  2. 2. Menganggap permintaan maaf gak lagi penting

    ilustrasi ucapan maaf gak lagi penting
    ilustrasi ucapan maaf gak lagi penting (pexels.com/lil artsy)

    Dalam hubungan keluarga yang sehat, permintaan maaf secara verbal jadi hal penting saat ada pihak yang berbuat salah. Sayangnya, pola asuh yang penuh siklus tarik-ulur ini membuat tindakan kompensasi menggantikan kata maaf yang seharusnya diucapkan. Orangtua merasa cukup dengan membelikan barang atau makanan tanpa pernah duduk bersama untuk membahas masalah aslinya. Lama-kelamaan, kamu jadi terbiasa dengan penyelesaian masalah yang menggantung tanpa ada evaluasi, lho.

    Kondisi ini bikin kamu percaya bahwa setiap luka bisa dibayar tuntas dengan materi, bukan dengan komunikasi yang sehat. Coba bayangkan kalau nanti kamu punya pasangan yang suka membentak, lalu dia cuma kasih hadiah untuk menyelesaikan masalah tanpa berjanji untuk berubah. Kamu pasti bakal gampang luluh karena otakmu sudah merekam bahwa itulah cara kerja kasih sayang sejak kamu masih kecil. Padahal, masalah utamanya belum diselesaikan dan bakal terus terulang.


  3. 3. Selalu mencari validasi dari rasa sakit

    ilustrasi anak mencari validasi dari rasa sakit yang diberikan orangtua
    ilustrasi anak mencari validasi dari rasa sakit yang diberikan orangtua (pexels.com/Kindel Media)

    Ketika kamu terbiasa berada dalam drama emosional di rumah, otakmu mulai mengaitkan cinta dengan intensitas emosi yang ekstrem. Kamu merasa bahwa hubungan yang damai dan tenang itu justru membosankan atau malah terasa mencurigakan. Akibatnya, kamu selalu merasa butuh sedikit konflik atau pertengkaran hebat agar bisa merasakan indahnya momen baikan. Perasaan divalidasi setelah disakiti ini menjadi semacam candu yang merusak mentalmu perlahan-lahan.

    Secara ilmiah, ini ada hubungannya dengan lonjakan hormon dopamin dan oksitosin di otakmu ketika momen rekonsiliasi itu terjadi. Ibaratnya naik rollercoaster, adrenalin ketika dimarahi membuatmu stres berat, tapi momen dibelikan hadiah langsung memberikan euforia yang bikin lega luar biasa. Kalau gak hati-hati, kamu bakal terus mencari 'drama' di tempat kerja atau sirkel pertemanan cuma demi merasakan kebahagiaan semu ini.


  4. 4. Takut ditinggalkan meski sering disakiti

    ilustrasi takut ditinggalkan meski sering disakiti
    ilustrasi takut ditinggalkan meski sering disakiti (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Siklus kekerasan emosional yang diselingi dengan kebaikan akan menciptakan rasa ketergantungan yang sangat kuat antara anak dan orangtua. Kamu sadar betul bahwa perlakuan kasar mereka sering kali menguras energi, tapi anehnya kamu justru merasa ketakutan setengah mati kalau harus menjauh. Ada keyakinan di dalam dirimu bahwa cuma mereka yang bisa menerima kamu apa adanya. 

    Secara psikologis, ini mirip dengan fenomena Stockholm syndrome, di mana korban justru bersimpati pada sosok yang menyakitinya. Misalnya, saat temanmu bilang betapa toksik perlakuan orangtuamu, kamu malah otomatis maju paling depan untuk membela mereka habis-habisan. Kamu selalu punya banyak alasan untuk membenarkan sikap kasar mereka, seperti "Ya, mereka kan lagi stres kerja," atau "Mereka marahnya demi kebaikanku juga, kok." Padahal, memaklumi perilaku kasar ini akan membuatmu makin kehilangan harga diri.


  5. 5. Kesulitan mengenali emosi diri sendiri

    ilustrasi kesulitan mengenali emosi diri
    ilustrasi kesulitan mengenali emosi diri (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Terus-menerus dihadapkan pada realitas ganda membuat radarmu dalam mendeteksi emosi jadi kacau. Kamu jadi kesulitan membedakan mana kebaikan yang tulus dan mana kebaikan yang sekadar dipakai sebagai alat peredam konflik sesaat. Saat kamu merasa sedih, otakmu malah menyuruhmu untuk merasa bersyukur atas hal-hal materi yang sudah diberikan. Akibatnya, kamu sering merasa hampa atau mati rasa karena emosimu gak pernah benar-benar diakui.

    Gak heran kalau generasi yang tumbuh dengan pola asuh seperti ini sering mengalami krisis identitas yang parah. Kamu selalu sibuk menerka-nerka mood orang lain sampai lupa menanyakan apa yang sebenarnya kamu rasakan saat ini. Mulai sekarang, belajarlah untuk memvalidasi perasaanmu sendiri tanpa harus menunggu izin atau hadiah hiburan dari siapa pun, ya.

    Menghadapi siklus ini memang gak mudah, tapi menyadari tanda trauma bonding dengan orangtua jadi langkah pertama yang hebat untuk memutus rantainya. Jangan ragu buat cari bantuan profesional kalau kamu merasa kewalahan mengatur emosi yang tumpang tindih ini. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More