Ilustrasi tren Favorite Person (pexels.com/Vitaly Gariev)
Selain pada orang lain, kamu bisa mempraktikkan tren My Favorite Person kepada diri sendiri. Anggap hal ini sebagai latihan refleksi diri, karena menurut psikoterapis Dipesh Patel, jenis latihan ini relevan dengan psikologi positif, bidang penelitian kesehatan perilaku tentang kekuatan manusia, rasa syukur, dan penghargaan.
Secara khusus, praktik ini dapat membantu kamu menghargai diri sendiri apa adanya, bukan hanya apa yang kamu lakukan. Kamu bisa jadi orang favorit dirimu sendiri, hingga meningkatkan welas asih terhadap diri sendiri.
Daripada berpikir "Aku tidak melakukan cukup banyak" atau "Aku tidak baik", kamu dapat mulai mengamati diri sendiri dengan cara yang berbeda dan berkata, "Aku menyadari bahwa saya hadir untuk orang lain" atau "Aku menyadari bahwa saya menyelesaikan tugas itu hari ini".
Kamu juga akan mengurangi hormon stres ketika memberikan kebaikan kepada diri sendiri, karena tubuhmu merasa lebih aman. Jenis refleksi diri ini dapat memperdalam pemahaman diri, yang merupakan cara untuk mengembangkan kepercayaan diri.
“Ketika konsisten menghargai diri sendiri, artinya kamu mengumpulkan bukti bahwa kamu berharga, mampu, dan layak dicintai. Ini juga merupakan bentuk pengaturan sistem saraf, karena kamu menghentikan siklus stres dan penilaian diri," ungkap terapis Chloë Bean, LMFT, dikutip dari Real Simple.
Nah, itulah pembahasan mengenai tren My Favorite Person yang viral di media sosial, yang ternyata punya manfaat psikologi. Manfaat ini bisa dirasakan oleh orang lain dan diri sendiri yang bersangkutan dengan apresiasi, optimisme, hingga kepercayaan diri. So, apakah kamu mau mulai mengikuti tren My Favorite Person ini?