Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Media Sosial Membuat FOMO Makin Kuat? Ini Alasannya

Kenapa Media Sosial Membuat FOMO Makin Kuat? Ini Alasannya
ilustrasi menggulir media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)
  • Media sosial membuat kita terus melihat aktivitas dan pengalaman orang lain secara real-time.

  • Konten terbaik, tren viral, algoritma, dan notifikasi dapat memperkuat rasa takut ketinggalan.

  • FOMO mendorong kita terus mengecek media sosial agar tidak merasa tertinggal dari orang lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa hidupmu ketinggalan setelah melihat teman pergi liburan, bekerja di perusahaan impian, menghadiri konser, mencoba restoran baru, mencoba kuliner viral, atau sekadar berkumpul tanpa mengajakmu? Perasaan seperti ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Singkatnya, FOMO adalah rasa takut ketinggalan pengalaman atau informasi yang sedang dinikmati orang lain.

Sebenarnya, FOMO bukanlah hal baru. Namun, kehadiran media sosial membuat perasaan tersebut jauh lebih mudah muncul. Kini, kita bisa melihat aktivitas orang lain hampir sepanjang waktu, bahkan ketika mereka sedang tidak berada di dekat kita. Masalahnya, media sosial tidak hanya memperlihatkan kehidupan orang lain. Cara platform dirancang juga dapat membuat kita terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan orang lain. Lantas, kenapa media sosial bisa membuat FOMO semakin kuat?

  1. 1. Kita bisa terus melihat kehidupan orang lain

    ilustrasi Instagram
    ilustrasi Instagram (unsplash.com/Thought Catalog)

    Dulu, kita mungkin baru mengetahui teman sedang berlibur setelah mereka pulang dan bercerita. Sekarang, pengalaman tersebut bisa kita lihat secara langsung melalui media sosial. Instagram Stories, Feed, hingga Live sering kali jadi tempat orang mengunggah momen liburan, bahkan sebelum mereka kembali ke rumah.

    Kehidupan orang lain seolah selalu terlihat di depan mata. Ketika melihat teman sedang pergi bersama, menghadiri acara, atau mencoba sesuatu yang menyenangkan, kita bisa merasa bahwa ada pengalaman menarik yang sedang berlangsung tanpa kita. Padahal, belum tentu ada sesuatu yang benar-benar kita lewatkan. Namun, karena semuanya terlihat secara real-time, rasa tertinggal tersebut menjadi lebih nyata.

  2. 2. Media sosial dipenuhi momen-momen terbaik

    ilustrasi Instagram
    ilustrasi Instagram (pexels.com/Viralyft)

    Salah satu alasan FOMO mudah muncul karena apa yang kita lihat di media sosial biasanya bukan gambaran kehidupan seseorang secara utuh. Orang lebih sering membagikan liburan yang menyenangkan daripada perjalanan yang melelahkan. Mereka mengunggah makanan yang menggugah selera, bukan saat sedang makan sendirian di rumah. Pencapaian, pesta, konser, dan momen bahagia pun lebih sering masuk ke dalam feed dibandingkan hari-hari biasa. Akibatnya, kita bisa mendapatkan kesan bahwa kehidupan orang lain selalu menyenangkan. Ketika kehidupan sendiri sedang terasa biasa saja, perbandingan ini dapat memunculkan pikiran, "Kok semua orang bersenang-senang, sementara aku begini-begini saja?"

  3. 3. Algoritma terus menunjukkan apa yang sedang tren

    ilustrasi Instagram
    ilustrasi Instagram (pexels.com/cottonbro studio)

    Media sosial juga membuat tren bergerak semakin cepat. Sesuatu yang viral hari ini bisa terasa sudah ketinggalan hanya dalam beberapa hari. Algoritma kemudian membantu memperkuat siklus tersebut dengan menampilkan konten yang dianggap menarik atau sedang banyak dibicarakan. Semakin sering kita melihat dan berinteraksi dengan konten tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang muncul di layar.

    Sebagai contoh, ketika kita mulai melihat video tentang konser, tempat wisata, atau produk yang sedang viral, platform akan terus menyajikan konten dengan tema serupa. Semakin sering konten tersebut muncul, semakin besar pula perhatian kita terhadap tren yang sedang ramai dibicarakan. Tanpa sadar, kita pun merasa harus ikut mengikuti tren tersebut agar tidak merasa ketinggalan.

  4. 4. Notifikasi membuat kita terus mengecek HP

    ilustrasi aplikasi media sosial
    ilustrasi aplikasi media sosial (pexels.com/Tracy Le Blanc)

    "Temanmu baru saja mengunggah cerita."

    "Seseorang menyukai unggahanmu."

    "Ada siaran langsung yang sedang berlangsung."

    Notifikasi-notifikasi seperti ini terlihat sederhana, tetapi dapat membuat kita terdorong untuk kembali membuka media sosial berkali-kali. Ditambah lagi, dengan fitur seperti infinite scroll dan konten yang terus diperbarui, selalu ada sesuatu yang baru untuk dilihat. Kita pun bisa merasa harus terus mengecek HP karena khawatir ada informasi, percakapan, atau momen yang terlewat. Akibatnya, kebiasaan membuka media sosial bukan lagi sekadar mencari hiburan. Kita melakukannya karena takut ketinggalan apa yang sedang terjadi.

    Jika membuka media sosial membuat kita terus membandingkan diri, merasa harus mengikuti semua tren, atau cemas ketika tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, mungkin sudah waktunya mengambil jeda. Pada akhirnya, kita memang tidak mungkin mengikuti semua hal. Adapun, melewatkan sesuatu bukan berarti kehidupan kita menjadi kurang berharga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More