Orang bilang, untuk benar-benar bisa melepaskan seseorang, kita butuh setengah dari waktu yang kita habiskan bersamanya. Jadi teorinya, setelah satu tahun kebersamaan kalian, kamu akan membutuhkan enam bulan untuk melepasnya. Tiga tahun akan butuh satu setengah tahun. Sebulan butuh dua minggu. Dan begitu seterusnya.
Jadi kamu mulai menandai tanggal di kalender. Kamu bersiap tidur setiap malam dengan harapan terbangun dan akhirnya tidak peduli lagi dengan makhluk itu. Kamu dapat melangkah maju, kamu akan membiarkannya pergi. Kamu tidak akan memikirkan perpisahan kalian lagi, tidak akan terobsesi dengannya, kamu yakin akan mendapatkan sesuatu yang lebih pantas untukmu dan tentunya semua akan baik-baik saja. Kamu mulai mencentang hari demi hari dalam kalender imajiner di kepalamu, menghitung mundur sampai hari ketika kamu akhirnya merasa lebih baik.
"Aku punya 72 hari dan kemudian aku akan baik-baik saja."
"Dalam tiga minggu lebih aku tidak akan merindukanmu lagi."
"Besok aku akan baik-baik saja."
Dan kemudian hari itu datang. Matahari terbit pada tanggal ajaib itu, tepat setengah dari lamanya kebersamaan kalian. Saatnya kamu merasa bebas dari rasa sakit. Sekarang, hari ini, kamu tidak akan merasa kehilangannya. Ini hari ketika akhirnya kamu move on. Tapi... tidak.
Ternyata kamu tidak merasa lebih baik, kamu tidak merasa seperti yang kamu bayangkan. Kamu masih merindukannya dan masih merasakan sakit yang sama. Hari, minggu, bulan, tahun tetapi kalender sedihmu tidak kunjung habis. Teori tadi salah. Tidak berlaku untukmu, segalanya masih terasa seperti saat ia pergi. Untukmu luka itu terasa masih segar, baru. Rasanya seperti itu kemarin.
Jadi kamu mengacak-acak kalender imajiner itu, memeriksa kemampuan matematikamu. Mungkin kamu masih memiliki seminggu atau 24 jam lagi untuk pergi. Mungkin besok kamu akan baik-baik saja. Ya. Itu dia. Besok kamu akan melewatinya. Kamu hanya butuh satu tidur lagi. Tapi kemudian besok datang dan ... Tidak ada yang berubah.
Hari esok terus datang dan pergi, matahari terbit dan terbenam. Kamu merasa terjebak dalam siklus tak berujung, tidak mampu bergerak maju lagi. Kamu melihat pantulan dirimu di cermin, melihat tubuh pesakitan yang terjebak dalam pertanyaan, “Apakah aku harus hidup seperti ini selamanya?”
Tetapi kamu salah tentang satu hal, sesuatu tentang melupakan. Tidak ada resep, tidak ada rumus, tidak ada cara ajaib yang dapat membuatmu terbangun suatu pagi dan berhenti peduli. Bahkan setelah kamu browsing “Cara Melupakan Seseorang” dan membaca setiap artikel yang muncul dalam laman hasil pencarian sampai matamu mengancam untuk minggat dari tubuhmu. Bahkan jika kamu memutuskan mengambil kelas yoga, meditasi, dan segala cara untuk menjadi dirimu yang lebih baik. Kamu dapat menempelkan senyum raksasa dan mengulangi mantra "Aku baik-baik saja" sampai suaramu habis tak bersisa. Tetapi kenyataannya tidak ada hal-hal yang akan membuatmu benar-benar melupakan seseorang.
Satu rahasia besar yang membuatmu kesulitan membiarkan seseorang pergi adalah kamu tidak siap untuk itu. Kamu tidak siap menghadapi dunia meskipun sebenarnya kamu baik-baik saja tanpa mereka. Kamu tidak siap menerima kenyataan bahwa dia bukan seseorang yang tepat untukmu. Kamu tidak siap kembali menjadi ‘aku’ dan bukan ‘kita’. Kamu tidak siap untuk melanjutkan karena kamu masih terfokus pada kamu yang sekarang, dan bukan masa depanmu.
Dan tahukah kamu? Itu hal yang biasa. Tidak apa-apa jika kamu tidak tahu kapan akan merasa bebas dan sudah move on. Tidak apa-apa untuk merasa terjebak dan tertekan bahkan sepanjang waktu untuk menemukan dirimu yang terbaik. Tidak apa-apa untuk menjadi sedih, tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Sama sekali tidak masalah. Karena suatu hari nanti, kamu akan melangkah dari patah hati itu.
Tidak ada cara untuk mengetahui kapan, tapi suatu hari nanti kamu tidak akan merasa seperti ini. Suatu hari kamu akan bangun dan merasa bahagia. Suatu hari kamu akan berkata, "Aku baik-baik saja" dan kamu benar-benar baik-baik saja.
Suatu hari kamu akan melihat mereka dan bukannya melihat seorang pemain antagonis dalam drama patah hatimu, kamu hanya akan melihat seseorang. Percayalah. Dan siapa tahu, hari itu adalah besok.
Tulisan ini adalah kiriman dari IDN Community. Kalau kamu ingin mengirimkan artikelmu, kirimkan ke community@idntimes.com
