Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Asri Pratiwi Wulandari: Merawat Suara Perempuan Lewat Karya Sastra

Asri Pratiwi Wulandari: Merawat Suara Perempuan Lewat Karya Sastra
Asri Pratiwi Wulandari dan beberapa karya terjemahannya (dok. Istimewa | moooipustaka.com | penerbitmai.com | gramedia.com)
Share Article

Dalam dunia sastra, karya-karya perempuan sesungguhnya tidak pernah sedikit. Dari masa ke masa, perempuan telah menulis, menerjemahkan, dan menciptakan karya yang menyimpan kedalaman pemikiran sekaligus keberanian bersuara. Nama-nama itu tersebar di berbagai penjuru.

Namun seperti banyak hal yang berharga lainnya, karya-karya itu perlu dirawat agar tetap hidup dan relevan. Perlu ada orang yang mau meluangkan waktu untuk menggali, menerjemahkan, dan memperkenalkan karya-karya perempuan kepada pembaca di berbagai lintas generasi.

Asri Pratiwi Wulandari, atau akrab disapa Ulan, adalah salah satunya. Sebagai penerjemah sastra Jepang-Indonesia, ia tak hanya memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Lewat karya-karya terjemahannya, tulisan-tulisannya sendiri, dan keterlibatannya di berbagai proyek budaya feminis. Ulan pelan-pelan membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar profesi, yakni sebuah komitmen untuk memastikan suara perempuan punya tempat yang semestinya dalam kesusastraan.

IDN Times berkesempatan melakukan exclusive interview bersama Ulan secara daring pada Senin (25/5/2026). Ia bercerita tentang perjalanannya sebagai penerjemah sastra hingga komitmennya untuk terus merawat suara-suara perempuan lewat karya sastra.

1. Dari dunia kuliah hingga terjun ke dunia penerjemahan

Foto Asri Wulandari bersama Matsuda Aoko, penerjemah Where The Wild Ladies Are dari Brasil dan Thailand dan Yoshio Hitomi (bookmark.jpf.go.j
Foto Asri Wulandari bersama Matsuda Aoko, penerjemah Where The Wild Ladies Are dari Brasil dan Thailand dan Yoshio Hitomi (bookmark.jpf.go.jp)

Perjalanan Ulan sebagai penerjemah tidak dimulai dari satu keputusan besar yang tiba-tiba. Ia mulai memberanikan diri menerima job penerjemahan sejak tahun kedua kuliah. Dari job-job kecil yang masuk ke jurusan, hingga menjadi staf di konser yang membutuhkan kemampuan bahasa Jepang. Pengalaman itu terus berkembang ketika ia mengikuti exchange program di Kyoto pada 2016-2017, di mana ia sempat bekerja sebagai staf penerjemah di sebuah platform online shop yang menjual produk Jepang ke berbagai negara.

Setelah kembali ke Indonesia dan lulus S1, Ulan bekerja di korporat sebagai interpreter dan penerjemah dokumen. Namun kecintaannya pada sastra dan fiksi sudah lama tumbuh jauh sebelum itu. Pada 2019, ia mulai menerjemahkan bagian awal Ningen Shikkaku (No Longer Human) karya Dazai Osamu secara mandiri. Tanpa tahu bahwa langkah itu akan mempertemukannya dengan Penerbit Mai dan membuka pintu ke dunia penerjemahan sastra yang selama ini ia impikan. Di sisi lain, Andry Setiawan dari Penerbit Mai sejak awal memiliki ketertarikan untuk membuat ruang belajar bagi penerjemah pemula. Bersama Andry dan Windy Ariestanty dari Patjarmerah ini juga, pada 2025, Ulan mengelola lokakarya penerjemahan sastra Jepang, didukung The Japan Foundation Jakarta.

"Nah, aku memang dari kecil dan dari di kuliah pun aku sangat suka sangat suka sastra, fiksi, aku memang sudah lama suka dan punya mimpi untuk menerjemahkan sastra secara langsung. Waktu itu aku sudah mulai menerjemahkan satu karya klasik Jepang yang judulnya Ningen Shikkaku dari Dazai Osamu, yang kemudian diterjemahkan bersama penerbitnya menjadi Gagal Menjadi Manusia," tambahnya.

Dari pertemuan dengan Penerbit Mai itulah, karier Ulan sebagai penerjemah sastra mulai mengalir lebih deras. Tawaran demi tawaran datang dari berbagai penerbit. Nama Ulan pun pelan-pelan dikenal sebagai penerjemah yang serius dan teliti. Sebuah perjalanan yang, kalau ditelusuri, bermula dari keberanian kecil seorang mahasiswa tahun kedua yang memutuskan untuk mencoba.

2. Menerjemahkan lewat hati, bukan cuma kata

Asri Wulandari saat menggagas dan mengelola lokakarya penerjemahan, "Sulih Bahasa" bersama Rantai Kata dengan The Japan Foundation
Asri Wulandari saat menggagas dan mengelola lokakarya penerjemahan, "Sulih Bahasa" bersama Rantai Kata dengan The Japan Foundation (dok. Istimewa)

Pada dasarnya, penerjemahan bukan lah suatu pekerjaan yang straightforward. Bukan sekadar mengambil kata dalam satu bahasa dan mencari padanannya di bahasa lain. Lebih dari itu, proses dan perjalanannya cukup panjang. Tak terkecuali bagi Ulan sendiri, yang sudah lama berkiprah di dunia ini. Setiap kata, frasa, bahkan tanda baca, membutuhkan riset panjang sebelum ia merasa yakin terjemahannya sudah benar-benar menyampaikan apa yang dimaksud penulis aslinya.

Dalam teknisnya, Ulan juga membedakan dengan jelas antara proses menerjemahkan dan mengedit naskah. Hal tersebut dilakukan untuk tetap menjaga 'makna' atau pesan yang ingin disampaikan penulis aslinya. Di sisi lain, Ulan juga berusaha menyampaikan pesan-pesannya dengan natural dan nyaman untuk pembaca. Itu mengapa, Ulan memiliki ritual tersendiri saat menerjemahkan suatu karya sastra.

"Aku membedakan proses ketika menerjemahkan naskah dan ngedit naskah. Waktu menerjemahkan, aku lebih banyak riset tentang makna-maknanya, pokoknya maknanya tidak bisa keliru. Proses editing baru aku benar-benar risetnya itu tentang gaya menulisnya. Aku bakal baca ulang bahasa Jepangnya, lalu ngecekin apakah misalnya kalimat yang pendek memang tetap pendek, atau kalimat yang panjang tetap panjang. Lalu aku bakal cari buku Indonesia yang genrenya atau menurutku temanya mirip dengan buku Jepang yang sedang kuterjemahkan," lanjut Ulan.

Proses yang panjang dan teliti itu bukan sesuatu yang Ulan anggap sebagai beban. Justru di situlah ia menemukan salah satu hal yang paling ia sukai dari pekerjaannya. Kesempatan untuk membaca sebuah karya secara sangat dekat dan berdialog langsung dengan pikiran si penulis dalam kurun waktu yang lama. Bagi Ulan, menerjemahkan bukan sekadar memindahkan bahasa, tapi sebuah percakapan panjang yang kaya dan personal.

3. Sejauh proses penerjemahannya, ada satu karya yang sangat membekas

Cover buku Susu dan Telur karya terjemahan Asri Wulandari
Cover buku Susu dan Telur karya terjemahan Asri Wulandari (moooipustaka.com)

Sampai saat ini, Ulan telah menejermahkan beberapa karya sastra Jepang. Di antaranya adalah Ningen Shikkaku dari Dazai Osamu (Gagal Menjadi Manusia), Funiculi Funicula dari Toshikazu Kawaguchi, Pasta Kacang Merah dari Durian Sukegawa, Breasts and Eggs karya Mieko Kawakami (Susu dan Telur), hingga Weathering with You dari Makoto Shinkai. Dari sekian banyak karya tersebut, ada satu yang meninggalkan bekas paling dalam, yaitu Susu dan Telur dari Kawakami Mieko.

Bukan hanya karena kualitas sastranya, namun juga karena proses menerjemahkannya memaksa Ulan untuk berdialog dengan hal-hal yang sangat personal dalam hidupnya sendiri. Karya itu berbicara tentang perempuan. Bukan hanya satu, namun lebih jauh tentang hubungan antar perempuan.

Membaca karya itu secara sangat lambat dan dekat, membuat Ulan merefleksikan hubungannya sendiri dengan kakak perempuannya bahkan ibunya. Di bagian akhir buku, ia dihadapkan pada pertanyaan yang sebelumnya belum pernah ia pikirkan sedalam itu. Tentang keputusan memiliki anak, tentang kesiapan, dan tentang tanggung jawab yang datang bersamanya.

"Itu pertama kalinya aku mengalami emosi yang sangat emosional dan sentimental ketika menerjemahkannya. Karena dia kan sangat-sangat membicarakan perempuan, dan bukan cuma satu perempuan, tapi hubungan antar perempuan. Aku merasakan ada hal-hal yang sangat relatable dari ketiga karakter tersebut. Ceritanya juga sangat membuatku memikirkan lagi hubunganku dengan kakak perempuanku sendiri dan keponakanku yang juga perempuan. Ada banyak sekali pertimbangan dan kedalaman karakter yang membuatku berhadapan juga dengan apa yang sedang kualami saat itu," ujarnya.

Bagi Ulan, itulah yang membuat penerjemahan menjadi pengalaman yang begitu kaya dan sulit tergantikan. Kalau membaca biasa mungkin selesai dalam sekali duduk lalu beralih ke buku lain, menerjemahkan memaksanya untuk tinggal lebih lama bersama sebuah karya. Semacam menyerap setiap lapisannya secara perlahan.

4. Pelan-pelan, Ulan menemukan suara sendiri

Karya sastra Asri Pratiwi Wulandari (mojok.co | goodreads.com)
Karya sastra Asri Pratiwi Wulandari (mojok.co | goodreads.com)

Ulan bukan orang yang baru mengenal dunia menulis. Sejak muda ia sudah sering menulis dan terbiasa menulis puisi sebagai terapi yang dimulainya sejak kecil. Tapi ada satu hal yang selalu mengganjal, ia tak pernah bisa menyelesaikan tulisannya sendiri. Ide-ide itu berhenti di tengah jalan, tersimpan tanpa akhir.

Tak disangka, hal yang menjadi penyambung nafas draft tulisannya itu ternyata pekerjaannya sehari-hari sebagai penerjemah. Semakin dalam ia menyelami karya orang lain, ia jadi memahami bagaimana sebuah cerita dibangun. Serta bagaimana dinamika plot bekerja dan mengapa suatu cerita harus berakhir dengan cara tertentu. Tanpa ia rencanakan, ia belajar menulis dari menerjemahkan.

"Karena membaca sangat dekat, mau gak mau aku juga harus perhatiin plotnya dan gimana sih si penulis ini menciptakan dinamika dari suatu cerita. Lalu kenapa, misalnya, suatu cerita itu harus berakhir seperti ini. Dari situ kayaknya aku jadi gak sengaja belajar nulis dari menerjemahkan, yang mana gak pernah aku rencanakan, tapi akhirnya terjadi," sambung Ulan.

Dari sana, kumpulan cerpen Yang Menguar di Gang Mawar lahir, sebuah karya yang mengeksplorasi kehidupan orang-orang yang tinggal di gang. Ada juga karya lainnya bertajuk Parade yang Tak Pernah Usai. Sementara karya terbarunya yakni Memasak Harapan, berkolaborasi dengan penulis lainnya. Proyek terbarunya ini lahir dari pertemuannya dengan perempuan-perempuan penyintas 65 (secara langsung, melalui memoar, dan dari nyanyian Paduan Suara Dialita) dan arsip majalah Api Kartini, sebuah majalah yang dikelola Gerwani pada masa itu. Lewat proses memasak resep-resep dari majalah tersebut dan menuliskan refleksinya, Ulan bersama teman-teman berkontribusi merawat ingatan tentang perempuan-perempuan yang kerap terlupakan dari sejarah.

5. Ketika feminisme menjadi cara untuk merawat suara perempuan

Poster seminar di Macquarie University, mempresentasikan antologi Memasak Harapan dan metode riset feminis Sekolah Pemikiran Perempuan (dok.
Poster seminar di Macquarie University, mempresentasikan antologi Memasak Harapan dan metode riset feminis Sekolah Pemikiran Perempuan (dok. Istimewa)

Ada satu momen yang Ulan ingat betul sebagai titik baliknya. Tahun 2020, ia mengikuti festival online Etalase Pemikiran Perempuan dari Sekolah Pemikiran Perempuan. Di sana ia mendengar tentang metode feminis dalam kekaryaan dan budaya. Lalu sesuatu dalam dirinya tersadar bahwa selama ini ia tanpa sadar memisahkan dua hal yang sebenarnya bisa dan perlu bertemu, yaitu penerjemahan dan feminisme.

"Aku baru sadar saat itu 2020 bahwa, oh selama ini tuh aku menganggap penerjemahan dan feminisme itu sesuatu yang tidak akan pernah bertemu di dalam kehidupanku. Seolah-olah kayak aku, ya, kerja nyari uang sebagai penerjemah, tapi feminisme tuh kayak hal lain. Festival ini menyadarkanku bahwa gak kok, ternyata bisa, aku bisa mencoba menggunakan lensa feminis di penerjemahan juga," katanya.

Dari kesadaran itu, Ulan mulai meriset karya-karya perempuan Jepang yang belum pernah diterjemahkan atau bahkan dibahas di Indonesia. Pelan-pelan, lensa feminis itu bukan hanya mengubah cara ia memilih karya untuk diterjemahkan, tapi juga cara ia memandang orang-orang di sekitarnya.

"Feminisme membuatku jadi bisa melihat orang secara utuh, apalagi perempuan, dan bahkan ibuku sendiri. Sepertinya waktu kecil ada banyak hal tentang ibuku yang aku tidak bisa memahami, kenapa misalnya dia memutuskan ini, memutuskan itu. Setelah belajar feminisme, aku jadi merasa bisa berbicara dengan ibuku dengan lebih baik, punya komunikasi yang lebih baik dengannya," tambah Ulan.

Kini misi itu terasa lebih besar dari sekadar memilih karya yang diterjemahkan. Ulan ingin karya-karya perempuan tak perlu terus-terusan digali ulang. Ingin suatu hari nama-nama itu sudah ada di sana tanpa perlu dicari dengan susah payah. Bagi Ulan, merawat suara perempuan itu bukan hanya pekerjaan. Namun menjadi sebuah komitmen yang tak pernah benar-benar selesai, dan selalu layak untuk terus digaungkan.

Pada akhirnya, perjalanan Ulan dalam menulis dan menejermahkan tak hanya berlabuh pada kata-kata atau narasi yang diterbitkan. Lebih dari itu, ia ingin dua hal ini juga menjadi caranya untuk terus merawat suara perempuan dan menggaungkannya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Asri Pratiwi Wulandari: Merawat Suara Perempuan Lewat Karya Sastra

31 Mei 2026, 20:00 WIBLife