Dalam dunia sastra, karya-karya perempuan sesungguhnya tidak pernah sedikit. Dari masa ke masa, perempuan telah menulis, menerjemahkan, dan menciptakan karya yang menyimpan kedalaman pemikiran sekaligus keberanian bersuara. Nama-nama itu tersebar di berbagai penjuru.
Namun seperti banyak hal yang berharga lainnya, karya-karya itu perlu dirawat agar tetap hidup dan relevan. Perlu ada orang yang mau meluangkan waktu untuk menggali, menerjemahkan, dan memperkenalkan karya-karya perempuan kepada pembaca di berbagai lintas generasi.
Asri Pratiwi Wulandari, atau akrab disapa Ulan, adalah salah satunya. Sebagai penerjemah sastra Jepang-Indonesia, ia tak hanya memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Lewat karya-karya terjemahannya, tulisan-tulisannya sendiri, dan keterlibatannya di berbagai proyek budaya feminis. Ulan pelan-pelan membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar profesi, yakni sebuah komitmen untuk memastikan suara perempuan punya tempat yang semestinya dalam kesusastraan.
IDN Times berkesempatan melakukan exclusive interview bersama Ulan secara daring pada Senin (25/5/2026). Ia bercerita tentang perjalanannya sebagai penerjemah sastra hingga komitmennya untuk terus merawat suara-suara perempuan lewat karya sastra.
