Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Emansipasi Masa Kini: Ini Cara Perempuan Naik Level di Dunia Kerja

 Emansipasi Masa Kini: Ini Cara Perempuan Naik Level di Dunia Kerja
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Intinya Sih
  • Emansipasi masa kini menyoroti tantangan perempuan di dunia kerja, termasuk stereotip kepemimpinan dan kesenjangan posisi antara level pemula dan manajemen puncak.
  • Perempuan didorong untuk proaktif bersuara menghadapi bias, memperlihatkan hasil kerja secara strategis, serta berani menegosiasikan gaji dan jabatan sesuai kemampuan.
  • Meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, mentoring, atau coaching menjadi kunci agar perempuan bisa bangkit setelah career break dan membuktikan potensi terbaiknya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kata "emansipasi" mungkin mengingatkan kita akan perjuangan Kartini. Empansipasi bukan sekadar kata yang melekat kuat di buku sejarah. Emansipasi merupakan tantangan yang harus diperjuangkan sampai sekarang. Ini tentang bagaimana adanya kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Bukti konkret emansipasi ditunjukkan oleh Kartini. Ia membukakan jalan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga perempuan juga bisa bekerja di bidang-bidang yang didominasi oleh laki-laki. Namun, perempuan masih menghadapi banyak tantangan untuk mencapai posisi tertinggi dan potensi terbaik dalam diri mereka.

Sejak 2015, setiap tahunnya LeanIn.Org dan McKinsey & Company merilis laporan mengenai peran perempuan di dunia kerja Amerika. Berdasarkan laporan Women in the Workplace 2025, untuk pertama kalinya perempuan secara signifikan lebih kecil kemungkinannya dibandingkan laki-laki untuk ingin dipromosikan. Lantas, bagaimana perempuan bisa nail level dalam dunia kerjanya?

1. Melawan stereotip dengan mengubah pola pikir

ilustrasi perempuan bekerja
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/@shvetsa)

Palena Neale, Ph.D dalam Psychology Today menyebut, bahwa perempuan masih dihadapkan oleh banyak tantangan, tak terkecuali di dunia kerja. Ia mengungkap bahwa perempuan masih mendapatkan seterotip tentang kepemimpinan. Perempuan dianggap kurang tegas dan berani mengambil keputusan seperti kualitas kepemimpinan laki-laki.

Hal ini ditunjukkan lewat data LinkedIn Economic Graph dalam The World Economic Forum’s Global Gender Gap Report 2024. Hampir 50 persen perempuan menduduki posisi tingkat pemula atau entry level, tetapi hanya 25 persen perempuan yang bisa menduduki manajemen puncak atau level C.

Maka dari itu, untuk bisa naik level di lingkungan kerjanya, perempuan harus berani melawan stereotip. Dimulai dari mengubah pola pikir menjadi growth mindset. Psikolog Carol Dweck dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success (2026) dikutip oleh Harvard Bussiness School, menjelaskan bila individu gak akan mengalami peningkatan kalau mereka mengaplikasikan fixed minset. Sedangkan, growth mindset membentuk individu untuk berani menghadapi tantangan dan mau belajar dari kegagalan.

2. Perempuan harus proaktif bersuara

ilustrasi perempuan bekerja
ilustrasi perempuan bekerja (unsplash.com/Jason Goodman)

Perempuan perlu proaktif bersuara, terlebih ketika mendapatkan komentar atau perlakuan yang bias. Perempuan juga punya hak untuk menyuarakan pendapat terhadap suatu hal yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Survei dari HiBob yang dilakukan pada Desember 2024 kepada pekerja di AS, menunjukkan bahwa perempuan lebih fokus dan termotivasi ke kantor untuk daily work visibility. Artinya, mereka hadir untuk melakukan kebutuhan pekerjaannya. Sementara, laki-laki fokus pada leadership visibility. Maka dari itu, perempuan bisa menggeser strategi mereka supaya hasil kerja keras bisa diketahui oleh lebih banyak orang termasuk pengambil keputusan.

Hal ini juga berkaitan dengan negosiasi gaji. Perempuan berhak menyuarakan pendapatnya tentang gaji dan jabatan yang sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

3. Buktikan lewat kompetensi

ilustrasi perempuan bekerja
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Salah satu cara untuk melawan stereotip dan naik level di dunia kerja adalah membuktikan diri melalui kompetensi. Ada banyak online atau offline course yang bisa diambil. Banyak cara bagi perempuan untuk upgrade skill mereka.

Dengan begitu, akan lebih banyak peluang menunjukkan diri bahwa perempuan juga punya kompetensi yang layak. Ini juga salah satu cara agar perempuan berani untuk keluar dari zona nyaman.

Data survei dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menunjukkan, bahwa 40 persen perempuan mengambil career break. Keputusan perempuan untuk berhenti dari pekerjaannya didominasi faktor kesehatan atau tugas-tugas keperawatan.

Namun, perempuan tetap bisa membuktikan kompetensi mereka dengan kembali bekerja. Setelah jeda yang lama, perempuan yang sempat mengambil career break mungkin akan tertinggal banyak hal. Untuk itu, mereka butuh membekali diri dengan mentoring, konseling, atau coaching supaya kepercayaan diri mereka pulih dan bersinar kembali.

“Potensi gak akan hilang hanya karena career break,” ucap Victoria selaku Chief of Human Resources Officer L’Oréal Indonesia pada Jumat (12/12/2025) di Kantor L’Oreal HQ, Jakarta Selatan.

Ketimpangan yang dialami perempuan memang banyak tetapi perempuan punya kesempatan untuk menunjukkan potensi terbaiknya. Perempuan memiliki banyak peluang untuk naik level di dunia kerja. Kuncinya adalah menjadi lebih berani, tegas, dan mau melakukannya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us