Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Fenomena Bediding Bikin Kulit Jadi Lebih Kering?
ilustrasi perempuan dengan kulit kering (magnific.com/magnific)
  • Fenomena bediding menurunkan suhu dan kelembapan udara, sehingga air kulit lebih cepat menguap melalui transepidermal water loss dan memicu kulit kering, kasar, kencang, atau bersisik.
  • Kebiasaan mandi air panas serta penggunaan sabun berlebihan saat cuaca dingin dapat mengikis minyak alami kulit, membuat kelembapan lebih mudah hilang dan risiko iritasi meningkat.
  • Paparan suhu serta kelembapan rendah dapat melemahkan skin barrier, sehingga kulit lebih rentan pecah-pecah, gatal, kemerahan, dan terpapar iritan, terutama pada kulit sensitif atau dermatitis atopik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fenomena bediding yang saat ini sedang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia membuat suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya. Kondisi tersebut bukan hanya membuat kita ingin terus bersembunyi di balik selimut, tetapi juga bisa memengaruhi kondisi kulit tanpa disadari. Tidak sedikit orang yang kemudian merasakan kulit wajah atau tubuhnya menjadi lebih kering, kasar, kencang, atau bahkan gatal.

Nah, bagi kamu yang penasaran kenapa hal tersebut bisa terjadi dan memberi pengaruh pada kulit, kamu bisa menyimak beberapa alasan yang ada dibaliknya dalam artikel ini. Yuk, baca penjelasannya secara detail dan mendalam di bawah dan jangan lupa untuk menghindari hal-hal yang bisa memperburuk kondisi kulit saat bediding, ya!

1. Udara dingin biasanya memiliki kelembapan absolut yang lebih rendah

ilustrasi perempuan dengan kulit kering (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Saat fenomena bediding terjadi, suhu udara cenderung mengalami penurunan. Kondisi ini mengakibatkan atmosfer mengalami penyusutan kemampuan dalam menampung uap air yang membuat kelembapan absolut di lingkungan dapat ikut berkurang. Tak hanya mengubah suhu jadi lebih dingin, udara yang kering ini juga meningkatkan perbedaan kadar air antara permukaan kulit dan lingkungan, sehingga air dari kulit lebih mudah menguap melalui proses transepidermal water loss (TEWL).

Tak heran, jika fenomena bediding bisa membuat kulit terasa lebih kencang, kasar, bersisik, bahkan mudah mengelupas. Dampak tersebut dapat menjadi lebih nyata ketika kulit terpapar udara dingin dan kering dalam waktu lama, terutama pada malam hingga pagi hari saat suhu berada pada titik terendah. Penelitian yang dilakukan oleh Engebretsen et al., (2015) menunjukkan bahwa kombinasi suhu rendah dan kelembapan rendah dapat mengganggu fungsi skin barrier yang berperan penting dalam mempertahankan kadar air dalam kulit.

2. Kebiasaan mandi air panas saat cuaca dingin ikut mengikis minyak alami kulit

ilustrasi perempuan mandi air panas (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Ketika bediding, banyak orang cenderung mandi menggunakan air panas dan menghabiskan waktu lebih lama di bawah pancuran untuk menghangatkan tubuh. Padahal, paparan air panas dan penggunaan sabun secara berlebihan dapat mengurangi lipid serta minyak alami yang berfungsi membantu mempertahankan kelembapan kulit. Ketika lapisan minyak pelindung ini berkurang, air di dalam kulit akan lebih mudah menguap sehingga kulit dapat terasa kering, kencang, kasar, dan mudah mengalami iritasi.

Kondisi tersebut membuat efek udara dingin dan kering selama bediding menjadi semakin kuat karena kulit menghadapi dua tekanan sekaligus. Untuk membantu menjaga skin barrier, dermatolog umumnya menyarankan mandi dengan air hangat, membatasi durasi mandi, serta mengoleskan pelembap segera setelah kulit dikeringkan dengan handuk. Langkah sederhana ini akan membantu mengunci kelembapan dan mengurangi risiko kulit semakin kering selama terpapar udara yang dingin.

3. Suhu dingin dari fenomena bediding dapat melemahkan skin barrier

ilustrasi perempuan dengan kulit kering (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tak hanya membuat tubuh terasa dingin, fenomena bediding juga bisa mengganggu fungsi skin barrier. Lapisan terluar kulit yang disebut stratum korneum bekerja seperti dinding pelindung yang tersusun atas sel-sel kulit dan lipid. Namun, paparan dari suhu serta kelembapan udara yang rendah dapat mengganggu keseimbangan lapisan tersebut.

Ketika fungsi skin barrier menurun, air yang ada di dalam kulit akan lebih mudah menguap sehingga kulit terasa lebih kering, kasar, kencang, dan mudah mengalami pecah-pecah. Skin barrier yang melemah juga membuat kulit lebih rentan terhadap paparan sabun, debu, angin, dan berbagai bahan iritan dari lingkungan yang bisa memicu rasa gatal, kemerahan, atau perih, terutama pada orang yang memiliki kulit sensitif atau dermatitis atopik. Oleh karena itu, udara dingin dan kering saat bediding tidak hanya menyebabkan kulit kehilangan kelembapan, tetapi juga dapat memperburuk gangguan kulit yang sebelumnya sudah ada.

Dengan mengetahui beberapa alasan yang ada di atas, kamu bisa lebih memahami bahwa kondisi kulit yang menjadi lebih kering saat fenomena bediding bukan sekadar akibat udara yang terasa dingin. Itu merupakan kombinasi suhu rendah, kelembapan yang menurun, serta pengaruh dari kebiasaan sehari-hari. Jadi, pastikan gunakan mosturizer yang cukup dan selalu menghidrasi tubuh agar kelembapan kulit tetap terjaga ,ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article