Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
11 Kandungan Skincare yang Dinilai Overrated Menurut Dermatolog
ilustrasi menggunakan skincare (pexels.com/shvetsproduction)
  • Dermatolog menilai banyak kandungan skincare populer seperti hyaluronic acid, kolagen, dan vitamin C sering dibesar-besarkan manfaatnya dibanding bukti ilmiah yang ada.
  • Beberapa bahan seperti niacinamide, retinoid, dan azelaic acid tetap bermanfaat namun perlu digunakan sesuai kebutuhan karena efeknya bisa berbeda pada tiap jenis kulit.
  • Inovasi baru seperti exosome, postbiotics, dan upcycled botanicals dinilai masih minim riset sehingga konsumen disarankan lebih kritis terhadap klaim pemasaran produk skincare.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia skincare terus menghadirkan tren dan kandungan baru yang menjanjikan berbagai manfaat untuk kulit. Mulai dari melembapkan, mencerahkan, hingga mengatasi tanda penuaan, banyak bahan aktif dipromosikan sebagai solusi untuk hampir semua masalah kulit. Tak heran jika banyak orang tergoda untuk mencoba produk yang sedang viral di media sosial.

Namun, popularitas suatu kandungan gak selalu sejalan dengan bukti ilmiahnya. Sejumlah dermatolog menilai ada beberapa bahan skincare yang manfaatnya kerap dibesar-besarkan oleh pemasaran. Bukan berarti kandungan tersebut buruk, tetapi ekspektasi terhadap hasilnya sering kali terlalu tinggi. Nah, berikut sejumlah kandungan skincare yang dianggap terlalu dibesar-besarkan menurut dermatolog.

1. Hyaluronic acid lebih berfungsi sebagai pendukung hidrasi

ilustrasi menggunakan skincare (pexels.com/ronlach)

Hyaluronic acid atau HA dikenal sebagai salah satu bahan pelembap paling populer dalam dunia skincare. Kandungan ini mampu menarik dan mengikat air sehingga membantu kulit terasa lebih lembap dan kenyal. Karena manfaat tersebut, HA sering dipromosikan sebagai bahan yang dapat membuat kulit tampak sehat dan bercahaya.

Meski demikian, dermatolog mengingatkan bahwa tidak semua hyaluronic acid bekerja dengan cara yang sama. Banyak produk menggunakan molekul HA berukuran besar yang lebih banyak bekerja di permukaan kulit dan sulit menembus lapisan kulit lebih dalam. Oleh sebab itu, manfaatnya lebih tepat dipandang sebagai pendukung hidrasi, bukan bahan yang mampu menghilangkan kerutan secara signifikan.

Hyaluronic acid dipasarkan seperti pelembap ajaib, padahal tidak semua jenis hyaluronic acid dibuat dengan cara yang sama,” ujar Dr. Mona Gohara, profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, dikutip dari Real Simple.

2. Krim kolagen tidak serta-merta meningkatkan kolagen kulit

ilustrasi menggunakan skincare (pexels.com/koolshooters)

Kolagen merupakan protein penting yang berperan menjaga elastisitas dan kekencangan kulit. Hal inilah yang membuat banyak produk skincare menawarkan krim kolagen dengan klaim anti-aging dan kulit tampak lebih muda. Sekilas, konsep ini terdengar masuk akal karena kulit memang kehilangan kolagen seiring bertambahnya usia.

Sayangnya, mengoleskan kolagen ke kulit gak otomatis meningkatkan produksi kolagen alami tubuh. Molekul kolagen cenderung terlalu besar untuk menembus lapisan kulit secara efektif sehingga manfaat utamanya lebih kepada melembapkan kulit. Jika ingin merangsang pembentukan kolagen, bahan seperti retinoid dan penggunaan sunscreen secara rutin justru dinilai lebih efektif.

“Saat diaplikasikan pada kulit, kolagen memang memberikan manfaat pelembap yang baik, tetapi tidak meningkatkan produksi kolagen,” jelas Dr. Joshua Zeichner, Dokter Kulit dan Direktur Penelitian Kosmetik serta Klinis Dermatologi di Mount Sinai Hospital, dikutip dari Real Simple.

3. Vitamin C bukan satu-satunya antioksidan andalan

ilustrasi seorang wanita memotret dirinya dan skincare (pexels.com/karolinagrabowska)

Vitamin C sudah lama menjadi primadona karena dikenal mampu membantu mencerahkan kulit dan melindungi dari radikal bebas. Kandungan ini juga sering dikaitkan dengan manfaat anti-aging sehingga banyak orang menganggapnya sebagai bahan wajib dalam rutinitas skincare. Tak sedikit pula yang menggunakannya setiap hari demi mendapatkan hasil optimal.

Padahal, beberapa dermatolog menilai manfaat vitamin C terkadang terlalu dibesar-besarkan. Vitamin C dikenal mudah teroksidasi sehingga efektivitasnya dapat berkurang jika formulanya kurang stabil. Selain itu, antioksidan lain seperti polifenol teh hijau juga dinilai memiliki potensi manfaat yang tidak kalah baik untuk kulit.

“Ternyata, kamu bahkan tidak harus menggunakan vitamin C setiap hari. Pemakaian selang sehari pun sudah cukup,” ujar Dr. Kavita Mariwalla, dokter kulit bersertifikat ganda dan pendiri Mariwalla Dermatology, dikutip dari Real Simple.

4. Niacinamide tetap bermanfaat, tetapi tidak perlu digunakan berlebihan

ilustrasi wanita menggunakan krim wajah (pexels.com/anntarazevich)

Niacinamide menjadi salah satu kandungan yang paling mudah ditemukan dalam berbagai produk skincare. Bahan ini dikenal membantu memperkuat skin barrier, mengurangi kemerahan, hingga mengontrol produksi minyak. Karena memiliki banyak manfaat, niacinamide kerap dijuluki sebagai bahan serbaguna.

Meski begitu, popularitas niacinamide justru membuat sebagian orang menggunakannya secara berlebihan. Menurut Dr. Mariwalla, hanya butuh konsentrasi sekitar 4 persen sudah cukup untuk memberikan manfaat pada kulit. Penggunaan terlalu banyak produk niacinamide sekaligus justru berpotensi memicu iritasi dan kemerahan.

Niacinamide sebagai bahan yang bermanfaat, tetapi terkadang terlalu dibesar-besarkan sebagai solusi untuk semua masalah kulit,” jelas Dr. Joshua.

5. Retinoid bukan berarti cocok untuk semua orang

ilustrasi wanita menggunakan skincare (pexels.com/mikhailnilov)

Retinoid sering disebut sebagai standar emas dalam dunia perawatan kulit karena manfaatnya untuk jerawat dan anti-aging. Berbagai penelitian memang mendukung efektivitas bahan turunan vitamin A ini dalam mempercepat regenerasi kulit dan merangsang produksi kolagen. Tak heran jika retinoid menjadi salah satu bahan aktif paling direkomendasikan oleh dermatolog.

Namun, retinoid bukanlah solusi universal. Dr. Ellen Marmur, dokter kulit bersertifikat, dikutip dari Real Simple, menilai bahwa retinoid sering dianggap mampu memberikan hasil setara obat resep, padahal efeknya bisa berbeda-beda. Selain itu, bahan ini juga dapat menyebabkan iritasi, kulit kering, atau pengelupasan sehingga perlu digunakan secara bertahap sesuai kondisi kulit.

6. Azelaic acid bukan solusi tunggal untuk semua masalah kulit

ilustrasi skincare (pexels.com/karolinagrabowska)

Azelaic acid cukup populer untuk membantu mengatasi jerawat, rosacea, dan hiperpigmentasi. Kandungan ini memiliki sifat antiinflamasi dan membantu mengurangi pigmentasi berlebih pada kulit. Karena manfaatnya yang beragam, azelaic acid sering dianggap sebagai bahan aktif multifungsi.

Meski demikian, manfaat azelaic acid umumnya tergolong moderat dan tidak selalu memberikan hasil dramatis. Berbeda dengan beberapa bahan aktif lain, azelaic acid juga tidak merangsang produksi kolagen atau mengeksfoliasi kulit secara intensif. Oleh sebab itu, kandungan ini biasanya bekerja lebih optimal sebagai bagian dari rutinitas skincare yang lebih lengkap.

"Meskipun secara teori terdengar seperti bahan yang ideal, dalam praktiknya, bahan ini dapat menyebabkan iritasi pada sebagian orang dan hanya memberikan manfaat yang moderat," ujar Dr. Joshua Zeichner.

7. Exosome masih membutuhkan lebih banyak penelitian

ilustrasi wanita membersihkan wajah (pexels.com/ekaterinabolovtsova)

Exosome menjadi salah satu inovasi terbaru yang mulai menarik perhatian industri kecantikan. Bahan ini diklaim dapat membantu regenerasi kulit dan mengurangi tanda-tanda penuaan. Tak sedikit produk premium yang mengandalkan exosome sebagai kandungan unggulan.

Meski terdengar menjanjikan, Dr. Ellen Marmur menjelaskan bahwa Exosome masih sangat baru sehingga efektivitasnya belum sepenuhnya terbukti. Sebagian besar klaim yang beredar saat ini, belum sepenuhnya didukung oleh penelitian jangka panjang. Karena harganya cenderung mahal, konsumen disarankan untuk lebih kritis sebelum mencobanya.

8. Activated charcoal tidak benar-benar mendetoksifikasi kulit

ilustrasi menyentuh wajah (pexels.com/olly)

Activated charcoal atau arang aktif sering dipasarkan sebagai bahan yang mampu mendetoksifikasi kulit. Kandungan ini banyak ditemukan pada masker maupun pembersih wajah untuk kulit berminyak dan berjerawat. Sensasi kulit terasa kesat setelah menggunakannya juga kerap dianggap sebagai tanda bahwa produk bekerja dengan baik.

Padahal, konsep detoksifikasi kulit tidak bekerja seperti yang sering digambarkan di media sosial. Activated charcoal memang dapat membantu menyerap minyak berlebih untuk sementara waktu, tetapi penggunaan berlebihan justru berisiko mengganggu skin barrier. Karena itu, penting untuk memilih produk yang lembut dan tidak membuat kulit menjadi terlalu kering.

“Kulit tidak melakukan detoks seperti yang sering digambarkan media sosial. Fungsi tersebut sebenarnya sudah dilakukan oleh hati dan ginjal,” ujar Dr. Mona Gohara.

9. Kandungan emas lebih menonjolkan kesan mewah

ilustrasi wanita membersihkan wajah (pexels.com/ronlach)

Skincare dengan kandungan emas sering kali identik dengan kemewahan dan perawatan premium. Produk-produk ini biasanya mengklaim mampu membantu mengurangi kerutan dan meningkatkan elastisitas kulit. Tak sedikit pula yang tertarik mencobanya karena tampilannya yang terlihat eksklusif.

Namun, dermatolog menilai bukti ilmiah yang mendukung manfaat emas untuk kulit masih sangat terbatas. Pada sebagian orang, kandungan ini bahkan berpotensi memicu iritasi atau reaksi alergi. Dibandingkan emas, bahan aktif lain yang sudah terbukti secara ilmiah dinilai lebih layak diprioritaskan.

"Emas adalah salah satu bahan yang terdengar paling mewah dalam dunia kecantikan, tetapi hanya ada sedikit bukti kuat bahwa bahan ini benar-benar meningkatkan kerutan, elastisitas, atau kesehatan kulit secara bermakna," ujar Dr. Mona Gohara.

10. Postbiotics masih menyisakan banyak pertanyaan

ilustrasi wanita membersihkan wajah (pexels.com/sorashimazaki)

Popularitas skincare berbasis mikrobioma turut membuat postbiotics semakin banyak digunakan dalam produk perawatan kulit. Kandungan ini merupakan hasil sampingan dari proses fermentasi yang diklaim dapat mendukung kesehatan skin barrier. Sejumlah merek pun mulai mempromosikannya sebagai inovasi terbaru dalam dunia skincare.

Meski demikian, para ahli menilai penelitian mengenai postbiotics masih belum cukup kuat. Salah satu tantangan utamanya adalah menjaga stabilitas bahan agar tetap efektif hingga digunakan di kulit. Karena itu, dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memastikan manfaatnya dalam penggunaan sehari-hari.

11. Upcycled botanicals lebih sering menjadi strategi pemasaran

ilustrasi menyentuh wajah (pexels.com/shinydiamond))

Istilah upcycled botanicals semakin sering muncul seiring meningkatnya tren keberlanjutan dalam industri kecantikan. Konsep ini mengacu pada pemanfaatan kembali bahan sisa tumbuhan atau pangan menjadi bahan kosmetik. Sekilas, istilah ini memang terdengar inovatif dan ramah lingkungan.

Padahal, praktik menggunakan bahan sampingan sebenarnya sudah lama dilakukan oleh industri kosmetik. Menurut Dr. Mariwalla, istilah ini lebih banyak digunakan untuk menonjolkan nilai pemasaran dibanding menghadirkan inovasi yang benar-benar baru. Karena itu, efektivitas suatu produk tetap perlu dilihat dari formulasi dan bukti ilmiahnya, bukan sekadar label yang digunakan.

Bahan skincare yang viral belum tentu menjadi solusi untuk semua orang. Karena itu, memahami kebutuhan kulit dan melihat bukti ilmiah juga bisa menjadi langkah yang lebih bijak untuk kamu sebelum membeli produk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article