Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kekerasan Masih Jadi Ancaman, Tanda Perempuan Membutuhkan Ruang Aman

Kekerasan Masih Jadi Ancaman, Tanda Perempuan Membutuhkan Ruang Aman
Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan. (IDN Times/Adyaning Raras))
Intinya Sih
  • Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih tinggi, dengan lebih dari 445 ribu kasus pada 2024, mayoritas terjadi di ranah personal dan sebagian besar berbentuk kekerasan seksual.
  • Penyebab utama kekerasan berbasis gender berakar pada ketimpangan relasi kuasa, budaya patriarki, serta kurangnya edukasi dan sistem perlindungan yang berpihak pada korban.
  • L’Oréal Indonesia bersama Yayasan Pulih meluncurkan program edukatif seperti 5D dan Abuse is Not Love untuk meningkatkan kesadaran publik serta menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perempuan gak luput dari berbagai tantangan semasa hidupnya. Baik itu dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, atau lingkungan publik sekalipun. Padahal, perempuan Indonesia memiliki potensi yang bisa dimaksimalkan. 

Untuk mempercepat langkah menuju kesetaraan, perempuan butuh ruang aman, akses yang setara, serta dukungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang. Melanie Masriel selaku Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oreal Indonesia menjadikan momen International Women’s Day yang jatuh pada 8 maret 2026 sebagai momen refleksi dan komitmen untuk mendorong kesetaraan yang nyata.

“Kami berupaya menghadirkan tiga hal yang kami yakini penting bagi kemajuan perempuan: rasa aman sebagai fondasi, peluang yang nyata untuk berkembang, serta pengakuan atas kontribusi dan potensi mereka. Kami percaya, ketika perempuan maju, dampaknya akan dirasakan jauh lebih luas,” ujar Melanie.

1. Kekerasan terhadap perempuan di tahun 2024 meningkat lebih dari 43 ribu kasus dibanding tahun-tahun sebelumnya

Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan.
Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan. (IDN Times/Adyaning Raras))

Dalam Media Gathering yang berlangsung pada Kamis (5/3/2026), L’Oreal memaparkan beberapa data terkait kasus yang dialami oleh sebagian besar perempuan di Indonesia. Data Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2024 mengungkapkan bahwa ada 445.502 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtp) di Indonesia. Data ini lebih banyak 43 ribu kasus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Mayoritas kasus terjadi di ranah personal dengan 309.516 kasus. Sementara itu, baru ada 12.004 kasus dilaporkan terjadi di ranah publik atau komunitas. Di samping itu, kekerasan berbasis gender juga banyak terjadi di ruang online seperti pelecehan online, cyberstalking, penindasan atau diskriminasi, dan pornografi.

“Jadi, perempuan emang gak mudah. Makanya, kita perlu lingkungan yang memampukan untuk kita tetap bisa berkarya,” ujar Dr. Livia Iskandar, M.Sc., Psikolog, Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih.

Livia menyebut 1 dari 3 perempuan pernah mengalami kekerasan menurut data World Health Organization (WHO). Sedangkan, Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menyebut 1 dari 4 perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan.

2. Bentuk kekerasan didominasi oleh kekerasan seksual

Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan.
Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan. (IDN Times/Adyaning Raras))

Livia menyampaikan beberapa tipe-tipe kekerasan yang dilaporkan. Bentuknya beragam, tetapi kekerasan seksual menduduki posisi paling banyak. Kekerasan seksual paling banyak dilaporkan sebesar 36,43 persen.

Kekerasan psikis sebanyak 26,94 persen. Kekerasan fisik yang dilaporkan sebanyak 26,78 persen, serta kekerasan ekonomi 9,84 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa isu kekerasan masih banyak terjadi di lingkungan sekitar kita dan bisa terjadi baik di ruang publik maupun personal.

Menurut Livia, kekerasan berbasis gender berakar pada ketidakadilan berbasis gender, penyalahgunaan relasi kuasa, dan budaya patriarki. Ibarat pohon, maka kekerasan terlihat seperti daun.

“Akar persoalannya ada pada kurangnya edukasi, ketimpangan relasi, dan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada korban. Karena itu, pencegahan harus menyasar akar melalui edukasi, dukungan yang berpihak, dan akses bantuan yang mudah dijangkau,” ujar Livia.

3. Masyarakat butuh ruang aman dengan meningkatkan awareness dan langkah intervensi yang aman

Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan.
Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" pada Kamis (5/3/2026) di Jakarta Selatan. (IDN Times/Adyaning Raras))

Sebagai bentuk komitmen terhadap perempuan, L’Oreal Indonesia memiliki beberapa program yang khusus ditujukan untuk membekali masyarakat agar mereka bisa mencegah kekerasan di ruang publik. L’Oreal Paris lewat tagline-nya, percaya bahwa setiap perempuan itu berharga.

“Kami memperkenalkan metodologi 5D, lima langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa pun dengan aman; mulai dari Dialihkan, Ditegur, Dilaporkan, Ditenangkan, dan Dokumentasikan,” ujar Rosyanti Chijanadi, Brand General Manager L’Oréal Paris.

YSL Beauty bekerjasama dengan Yayasan Pulih mewujudkan program Abuse is Not Love untuk meningkatkan kesadaran tentang kekerasan dalam hubungan berpasangan. Melalui Abuse is Not Love, masyarakat akan mendapatkan edukasi untuk mengetahui bahwa ada sembilan tanda kekerasan dalam hubungan yaitu mengabaikan, meremehkan, mengontrol, memanipulasi, mengancam, mencemburui, mengintrusi, mengisolasi, dan mengintimidasi.

“Intervensi tidak selalu berarti konfrontasi. Bisa dimulai dari langkah sederhana, memastikan korban merasa aman, mengalihkan situasi, atau mencari bantuan. Yang terpenting, jangan menyalahkan korban. Kekerasan bukan kesalahan korban, dan victim-blaming hanya memperparah trauma serta membuat korban semakin enggan melapor,” ungkap Psikolog Agata Paskarista saat ditemui di Jakarta Selatan pada Kamis (5/3/2026).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us