Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Welah Hatta, Perempuan Indonesia di Balik Layar Piala Dunia 2026

Welah Hatta, Perempuan Indonesia di Balik Layar Piala Dunia 2026
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 di IDN HQ, Selasa (28/7/2026) (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
Intinya Sih

  • Welah Hatta, perempuan Indonesia, dipercaya sebagai Senior Stage Manager Piala Dunia 2026 setelah 16 tahun berkarier; videonya bersama Tom Cruise di MetLife Stadium sempat viral.
  • Sebagai pengatur alur pertunjukan, Welah menangani pembukaan, acara Hari Kemerdekaan AS, dan penutupan Piala Dunia 2026, dengan tuntutan koordinasi, adaptasi, serta kesiapan fisik dan mental.
  • Karier Welah berkembang dari teater menuju acara internasional, termasuk Asian Games 2018 dan Piala Dunia Qatar 2022; ia menekankan kerja tim, adaptasi budaya, disiplin, dan kepribadian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Piala Dunia selalu membawa gemuruh kemeriahan miliaran pasang mata di seluruh dunia. Sorotan lampu dan sorakan puluhan ribu penonton menyambut penampilan spektakuler para bintang dunia di opening dan closing ceremony. Namun, kontribusi orang-orang di belakang layarlah yang sering kali terlupakan. Di balik megahnya pertunjukan tersebut, ada orang-orang yang memastikan semuanya berjalan dengan lancar dan sempurna.

Baru-baru ini, linimasa media sosial Instagram ramai dengan video seorang perempuan Indonesia yang berinteraksi dengan Tom Cruise di pinggir lapangan sepakbola di MetLife Stadium, New Jersey. Tidak banyak yang tahu bahwa butuh perjalanan panjang selama 16 tahun untuk mencapai titik itu. Dialah Welah Hatta, satu satunya perempuan Indonesia yang dipercaya menjadi Senior Stage Manager untuk perhelatan akbar Piala Dunia 2026.

Gak main-main, kegigihannya membuat Welah punya rekam jejak karier yang bergengsi di berbagai acara nasional hingga internasional seperti Asian Games 2018, Asian Para Games 2018, SEA Games Filipina 2019, hingga FIFA World Cup 2026. Perjalanannya menuju panggung dunia menunjukkan bagaimana kegigihan perempuan Indonesia dalam mengejar mimpinya. Inilah obrolan hangat Welah Hatta kepada IDN Times tentang perjalanan kariernya di dunia stage management.

1. Terkuaknya sosok di belakang panggung Piala Dunia 2026 yang viral karena Tom Cruise

Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 (dok. Welah Hatta)

Welah bukanlah orang yang dekat dengan sorotan publik. Tak banyak foto pribadinya dalam media sosial. Ia tak pernah membayangkan bahwa video interaksinya dengan Tom Cruise di Piala Dunia 2026 menyita perhatian publik.

Kepada IDN Times, Welah mengatakan bahwa ia masih tidak menyangka bahwa foto dan videonya viral di mana-mana. Meski begitu, ia tetap menyampaikan bentuk apresiasinya kepada semua orang yang telah mendukung. Baginya, apa yang ia lakukan hanyalah rutinitas pekerjaan yang sudah ia jalani bertahun-tahun, jauh dari kesan spektakuler yang dilihat orang lain.

“Saya gak nyangka, saya tidur, bangun-bangun tiba-tiba notifikasi sudah banyak banget. Jadinya kaget, kaget tapi happy karena antusiasmenya juga bagus sekali, banyak apresiasi, jadi terima kasih banyak,” kata Welah saat IDN Times mewawancarainya secara langsung di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, pada Selasa (28/7/2026).

Nyatanya, unggahan sederhana itu justru membuka mata banyak orang bahwa ada talenta Indonesia yang berdiri di garis depan salah satu perhelatan olahraga terbesar di dunia. Bukan sebagai penonton melainkan bagian dari tim inti yang perannya begitu vital.

Pertemuannya dengan Tom Cruise merupakan suatu hal yang berharga untuk Welah. Ia melihat Tom Cruise sebagai seleb papan atas yang paling ramah. Pemain film Mission Impossible itu benar-benar berusaha mengajak semua orang untuk berjabat tangan dan mengobrol.

“Dia nawarin saya, mau ikutan mau foto juga, gak?. Saya langsung kaget karena gak pernah-pernahnya ada yang malah menawarkan gitu ya. Saya bilang gak, gak apa-apa karena saya gak bawa HP gitu. Terus, ya sudah, dia memastikan ada orang yang pegang HP saat itu, ya sudah pakai HP dia saja, tapi pastiin fotonya dikirim ke Welah gitu. Itu sih yang bikin saya kaget,” ceritanya.

Lanjutnya, “Makanya jadi punya (foto dengan Tom Cruise). Interesting banget soalnya momen itu ya gak nyangka saja. Karena banyak sekali artis yang ramah, tapi ini memang beliau ramahnya ekstra.”

2. Ia menganalogikan Stage Manager sebagai polisi lalu lintas suatu pertunjukkan

Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 (dok. Welah Hatta)

Dengan analogi sederhana, Welah menjelaskan profesinya seperti polisi lalu lintas suatu pertunjukkan. Ia punya peran yang sangat vital karena harus menjaga alur dan timing serta memastikan kesiapan semua pihak.

“(Tanggung jawab) besar banget. Karena berjalannya show, kelancarannya, semuanya itu pasti di-running sama stage manager. Tentunya, pasti banyak departemen lain seperti teknikal, kreatif, segala macam. Tapi untuk yang running show-nya itu sendiri adalah tim SM (stage manager) biasanya,” ungkap Welah.

Bagi Welah, ini bukan karena usahanya sendiri. Bukan juga seorang atasan yang membawahi tim. Buatnya, tim SM bergerak sebagai satu tubuh yang saling menopang.

Welah mengaku dulunya ingin berada di depan panggung. Nyatanya, hidup membawa perempuan lulusan London School of Public Relation (LSPR) ini berkarya di belakang layar. Dari ketidaktahuan total soal stage manager, profesi ini justru membuka matanya bahwa di balik kemegahan suatu pertunjukkan, selalu ada peran orang-orang hebat di belakangnya.

“Ternyata di balik kemegahan panggung gitu ya, kemegahan show, di balik itu semua, ada orang-orang hebat yang running show-nya dan memastikan show-nya itu berjalan dengan baik. Saya selalu bilang apa yang kejadian di belakang panggung itu is another show. Karena benar-benar magic-nya sebenarnya di situ, untuk bisa ngasih apa yang penonton lihat gitu,” sambungnya.

3. Perjalanan Welah menuju panggung dunia tidak dimulai dari rencana besar

Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 di IDN HQ, Selasa (28/7/2026) (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Apa yang diraihnya sekarang, berangkat dari ketidaktahuannya. Semua tidak dimulai dari rencana besar, melainkan hanya berbekal rasa penasaran seorang lulusan pencari kerja yang tidak familier dengan istilah stage manager.

Lulusan Mass Communication ini, kemudian mencoba peruntungannya untuk melamar sebagai stage manager. Setidaknya, ia tahu ilmu dasar dari stage management berkat setiap tugas-tugas kampus.

Keputusan sederhana inilah yang justru mengubahkan hidupnya. Ia betul-betul belajar dari nol sampai merasa bahwa passion-nya ada di bidang ini. 

“Di pekerjaan pertama itu juga, dilakukan training karena waktu itu tim kreatifnya itu juga dari luar (negeri). Jadinya, mereka benar-benar ngajarin kita dari A sampai Z bagaimana caranya menjadi stage manager yang baik. Dari situ, saya merasa kayak menemukan cinta saya sih gitu. Makanya, dari awal lulus kuliah sampai detik ini, pekerjaan saya selalu menjadi stage manager,” tuturnya.

Setelah lulus di tahun 2009, Welah terbang ke Bali untuk menempuh karier di Bali Safari & Marine Park selama hampir 6 tahun. Ia kemudian dipercaya memegang proyek pertamanya yang cukup besar di bidang teater, yaitu Bali Agung Show. Acara ini memenangkan penghargaan di The Indonesia Leading Tourism Show 2015/2016.

“Bali Agung itu dulu indoor theater terbesar di Asia Tenggara. Penarinya banyak banget, ada 200 orang, belum musisinya. Jadi, itu show yang besar sekali. Nah, di situ, saya belajar banyak banget tentang stage management,” ceritanya.

Setelah itu, Welah melanjutkan kariernya sebagai Show & Entertainment Manager di Cartoon Network Amazone Thailand dari 2016 hingga 2018. Welah bahkan sempat punya rencana untuk melanjutkan S2 ke Prancis sehingga ia kembali ke Indonesia untuk belajar bahasa Prancis. Namun, rencananya justru berubah arah total ketika sebuah tawaran datang begitu saja, yaitu Asian Games 2018.

4. 16 tahun merintis karier dari panggung teater menuju panggung Piala Dunia 2026

WhatsApp Image 2026-07-28 at 6.14.31 PM (1).jpeg
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 (dok. Welah Hatta)

Sejak keterlibatannya di Asian Games 2018, kariernya semakin melaju pesat. Berbagai peluang pekerjaan di level internasional semakin banyak. Welah tak pernah menganggap ini semua kesempatan yang datang secara instan. Ketika ia melakukan pekerjaannya dengan rasa cinta dan tulus, ia percaya akan selalu ada pintu-pintu baru yang terbuka.

Sudah 16 tahun, Welah merintis karier sebagai stage manager. Dari tahun 2010 hingga 2018, ia lebih banyak berperan sebagai stage manager untuk teater dan pertunjukan. Dari 2018 hingga sekarang, Welah lebih banyak berkontribusi sebagai stage manager untuk acara-acara seremoni skala internasional.

“Balik lagi ke 2018, itu dapat kesempatan untuk bergabung di Asian Games, lalu ketemu dengan orang-orang yang tepat, saya rasa. Lalu, dari itu diajak terus sampai ke FIFA,” ucapnya.

Hal ini membuktikan bagaimana kekuatan koneksi sangat penting dalam perkembangan kariernya. Meski begitu, Welah percaya kesempatan yang datang kepadanya bukan semata-mata karena koneksi saja.

Welah mengatakan, “Ketika kita melakukan sesuatu yang kita cintai sepenuh hati, itu sudah pasti sisanya semuanya datang dengan secara otomatis gitu, tanpa kita harus maksain untuk cari koneksi apa segala macam. Tapi ketika kita melakukan yang terbaik di pekerjaan kita, pasti orang akan lihat gitu."

Sejak Asian Games 2018, portofolionya semakin dipenuhi oleh beragam proyek bergengsi di skala nasional dan internasional. Ada Asian Para Games 2018, Sea Games Filipina 2019, PON XX Papua 2021, Dubai Expo 2020,  PeSONas (Pekan Special Olympic Nasional) 2022, International Exhibition of National Security and Resilience (ISNR Abu Dhabi 2022), Saudi Games 2022, FIFA World Cup Qatar 2022, PON XXI 2024, Saudi Games 2024,26th Arabian Gulf Cup Championship 2024, Osaka Expo 2025, hingga FIFA World Cup 2026.

Selain itu, Welah juga dipercaya menjadi stage manager untuk beberapa proyek teater. Ia pernah memegang proyek teater musikal Cek Toko Sebelah, Surveyor Indonesia 32nd Anniversary Musical, The Addams Family Musical, teater musikal Interaksi, hingga teater musikal Perahu Kertas. 

Sebagai Stage Manager untuk gelaran Piala Dunia 2026 ini, Welah memegang tiga acara dari upacara pembukaan, acara untuk Hari Kemerdekaan Amerika, dan penutupan. 

5. Ada perjuangan yang tak terlihat demi menyuguhkan pertunjukan di opening dan closing ceremony yang apik

WhatsApp Image 2026-07-28 at 6.14.31 PM.jpeg
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 (dok. Welah Hatta)

Penonton hanya bisa melihat apa yang tampil di layar. Namun, banyak orang tidak tahu betapa besar perjuangan pengisi acara hingga kru yang mengatur seluruh acara demi menyuguhkan penampilan terbaik.

Welah mengaku kompleksitas seremoni untuk sepak bola itu sangat besar. Maka dari itu, perlu keterlibatan tim yang solid dalam mengerjakan proyek ini. Apalagi untuk acara berskala internasional, ia bertemu dengan rekan kerja dari berbagai negara yang menuntutnya untuk cepat beradaptasi dengan tempat di mana dirinya bekerja maupun dengan siapa ia bekerja.

Untuk gelaran Piala Dunia 2026 ini, Welah mengaku lebih mempersiapkan kondisi mental dan fisiknya. Profesi stage manager bukan pekerjaan yang mudah karena ia harus berdiri belasan jam terpapar sinar matahari.

“Memang mereka tidak expect kita untuk mengerjakan atau mempersiapkan apa pun sebelum kita berangkat ke sana. Nanti, ketika kita sudah berangkat di sana, baru kita di-brief, diberi tahu show-nya akan seperti apa, akan bekerja dengan siapa saja, posisinya nanti akan di mana gitu. Jadinya, benar-benar menyiapkan fisik terutama karena pekerjaannya capek, harus berdiri belasan jam di bawah sinar matahari. Terus mental karena memang harus adaptasi dan siap dengan perubahan apa pun,” katanya.

Meski sudah menekuni bidang ini bertahun-tahun, masih ada rasa nervous setiap kali ia hendak memulai sebuah proyek. Welah selalu menanamkan mindset dan keyakinan bahwa ia tidak bekerja sendirian. Ia juga harus belajar percaya kepada tim.

Ia menuturkan, “Kita tuh pasti didukung sama orang-orang yang memang hebat di bidangnya. Jadi, kalau misalnya something doesn't work out atau ada kesalahan apa pun, kita sudah tahu bagaimana cara mengatasinya gitu.”

Setiap hari selama dua bulan membentuk rutinitas baru untuk Welah. Ia mengaku tidak terbiasa sarapan sehingga langsung siap-siap berangkat ke venue latihan atau stadion. Lalu, beranjak ke kantor untuk mempersiapkan dokumen-dokumen yang selalu berubah untuk kepentingan latihan dari pagi sampai sore atau siang sampai malam.

“(Latihannya) berkali-kali. Tergantung lagi dari skala show-nya itu sendiri gitu. Tapi kalau untuk kemarin itu, karena kemarin saya pegang tiga seremoni, berkisar sekitar dua sampai tiga minggu kurang lebih setiap seremoninya,” ucap Welah.

Ia melanjutkan, “Yang lumayan menarik kalau misalnya untuk seremoni sepak bola itu adalah waktu set-up dan striking-nya yang harus cepat sekali karena memang ada limitasi kita tidak boleh berada di lapangannya terlalu lama karena rumput. Jadinya, itu juga salah satu yang harus dilatih (sampai tuntas dalam waktu 2 menit saja).”

Namun buatnya, semua kelelahannya terbayarkan ketika melihat antusiasme dan energi dari orang-orang yang menonton di stadion. Seremoni sepak bola itu singkat, tetapi mampu meningkatkan adrenalin yang luar biasa untuk Welah.

“Meskipun harus panas-panasan, outdoor, terbayar semua. Semua itu pokoknya semua yang kita lakukan capek-capeknya, panas-panasnya setiap hari latihan pada saat kita mendengar sorak-sorainya semua orang, itu terbayar semua sih,” ucapnya.

6. Tantangan bekerja di tengah perbedaan budaya berbagai negara

Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026
Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 di IDN HQ, Selasa (28/7/2026) (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Bekerja jauh dari rumah dan selalu bertemu dengan orang baru menjadi tantangan tersendiri untuk Welah. Itu sebabnya, sebelum memulai proyek baru, ia selalu mempersiapkan diri untuk mencari tahu dengan siapa dirinya akan bekerja. Pasalnya, Welah beranggapan bahwa hubungan antara dirinya dengan pengisi acara serta rekan kerja lainnya itu sangat berpengaruh untuk menciptakan acara yang apik.

Dengan segudang proyeknya di skala internasional, Welah mau tidak mau harus belajar beradaptasi dengan budaya kerja di luar negeri. Menurutnya, setiap orang punya karakter yang berbeda-beda. Misalnya, orang Australia, Meksiko, Italia punya caranya masing-masing dalam bekerja.

“Mungkin perbedaan terbesar dengan di Indonesia, ini menurut pengalaman saya saja ya, kadang di Indonesia tuh kita masih harus serabutan gitu. Satu orang mengerjakan job desc yang ABCD gitu kan ya. Sedangkan kalau di sana, karena timnya besar, jadinya SM hanya benar-benar fokus di pekerjaan SM saja gitu,” terangnya.

Menurut Welah, perbedaan tersebut juga dipengaruhi oleh kebutuhan setiap produksi. Gak semua produksi punya sumber daya yang cukup sehingga memungkinkan satu orang mengemban banyak tugas. Meski begitu, ia melihat perkembangan profesi stage manager di Indonesia semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Welah berharap standar kerja industri di Tanah Air terus meningkat agar para stage manager dapat bekerja lebih fokus sesuai perannya, sekaligus siap bersaing ketika berkolaborasi dengan tim internasional maupun menerima proyek berskala global di Indonesia. 

Awalnya, Welah sempat kaget dengan karakter-karakter orang luar. Orang Indonesia dan luar negeri punya perlakuan dan pandangan yang berbeda terhadap suatu hal.

“Mereka lebih straightforward (to the point). Ketika mereka marah, ya mereka akan marah. Mereka gak akan sugar-coating apa pun. Which is sebenarnya bisa jadi hal yang bagus karena kita tahu kesalahannya apa dan apa yang harus kita perbaiki,” jelasnya.

Karakter tersebut sangat berbeda dengan tipikal orang Indonesia yang ramah, jarang marah, selalu terbuka, selalu bilang ‘iya’. Namun, itu dua hal yang tidak bisa dibandingkan. Kuncinya adalah pintar-pintar membawa atau menempatkan diri sesuai lingkungan.

“Jadinya, dengan personality kita yang sangat ramah gitu ya, itu merupakan sebuah kekuatan sih,” ucapnya.

Justru, pengalaman-pengalaman itulah yang membuat Welah mendapatkan banyak pelajaran dan teladan hidup. Salah satunya soal kedisiplinan, Welah mengaku bahwa orang-orang luar negeri punya time management yang sangat bagus.

“Time management sangat on time sekali. Bukan hanya jam mulainya saja yang on time, tapi jam selesainya juga harus on time. Sama sekali gak ada (lembur),” ujar Welah.

Sebagai stage manager, Welah punya jam kerja yang sangat tinggi dan track record yang bagus. Namun, itu tidak membuatnya menjadi tinggi hati. Justru dalam setiap kesempatannya memulai proyek baru, ia selalu mengingatkan bahwa ia dan orang lain adalah setara.

“Kalau di setting internasional, kita sebaiknya sama semua gitu. Kita harus melihatnya kita sama semua gitu. Kita semua stage manager, mau saya dari Indonesia, teman saya dari Itali, teman saya dari Meksiko, kita semua adalah seorang stage manager. Mungkin itu yang bisa membantu untuk memosisikan diri kita itu setara gitu,” terang Welah.

7. Pesan Welah Hatta untuk anak muda dalam menggapai mimpinya

Welah Hatta di Studio IDN Times (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
Welah Hatta di Studio IDN Times (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Piala Dunia 2026 berhasil membawa Welah ke Amerika Serikat pertama kali. Bukan cuma itu, ia juga berhasil mewujudkan salah satu mimpinya. Sejak awal berkarier, ia menyebut Broadway sebagi panggung impiannya di dunia stage management.

Setiap ada waktu kosong, Welah menyempatkan untuk menonton pertunjukkan Broadway. Ia bahkan sengaja memperpanjang masa tinggalnya untuk kembali menikmati pertunjukkan ternama itu.

Selain bermimpi suatu hari menjadi bagian dari seremoni Olimpiade, Welah juga masih menyimpan harapan besar untuk suatu hari benar-benar terlibat dalam produksi musikal di Broadway. Panggung itulah yang selama ini hanya bisa ia tonton dari kursi penonton.

Hal ini jugalah yang ia harapkan dari generasi muda untuk tetap bermimpi setinggi mungkin. Welah menekankan agar kita selalu bisa menikmati dan menjalankan setiap pekerjaan dengan sepenuh hati.

“Jangan lupa bermimpi, mimpi setinggi-tingginya. Saya orangnya juga manifesting. Jadi, banyak yang saya lakukan dalam hidup saya selama ini, itu karena pernah mengucap. Jadinya, disebut saja dulu gitu. Nanti ketika kita sudah melakukan sesuatu yang kita cintai sepenuh hati, saya sudah yakin pasti promosi, kenaikan gaji, kesempatan diajak kerja di luar, itu sudah pasti akan datang dengan sendirinya,” kata Welah.

Selain itu, Welah juga mengatakan bahwa kepribadian itu jauh lebih berharga dibanding keterampilan. Ketika orang lain merasa nyaman dengan kita, itu bisa membukakan kesempatan-kesempatan baru.

Skill itu semua orang bisa belajar. Tapi kepribadian yang baik, kemampuan beradaptasi, dan selalu bersikap positif terhadap apa pun, itu yang mahal,” tutupnya.


Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More