Made to Order Wastra diwujudkan dalam siluet Wilsen Willim. (IDN Times/Maura Thirza)
Sementara itu, Sjamsidar Isa menilai pelestarian tenun tidak bisa dilakukan hanya dengan datang sekali ke daerah penghasil tenun. Cita Tenun Indonesia bahkan melakukan pembinaan secara berulang dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari textile designer, fashion designer, hingga instruktur pewarnaan dan marketing.
Pasalnya, setiap daerah memiliki kebiasaan dan tantangan berbeda yang turut memengaruhi proses menenun. Karena itu, pembinaan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
“Cita Tenun Indonesia sendiri kalau melakukan pembinaan itu selalu membuat satu teamwork. Jadi, hasil suksesnya satu daerah pembinaan bukan karena satu orang saja. Jadi di dalam teamwork itu ada namanya project officer-nya udah pasti, ada manager training-nya, ada textile designer-nya, ada fashion designer karena mereka adalah pemakainya nanti,” jelas Sjamsidar.
Ia juga mengingatkan bahwa harga tenun yang terlihat mahal sebenarnya mencerminkan panjangnya proses dan banyaknya orang yang terlibat di dalamnya. Mulai dari menggulung benang, mencelup, membuat motif, hingga menenun, setiap tahapan ikut menghidupi masyarakat di daerah.
Membuat tenun tetap relevan bukan berarti harus meninggalkan identitas tradisionalnya. Eksplorasi Wilsen menunjukkan bahwa wastra bisa memiliki wajah baru melalui desain, material, dan storytelling, sementara keberlanjutan para perajinnya tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan. Dengan begitu, tenun bukan hanya menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi juga punya ruang untuk terus dikenakan, diceritakan, dan berkembang di masa kini.