Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wilsen Willim Bawa Tenun Indonesia ke Pasar Global lewat Storytelling
Fashion talk “Tenun Masa Kini” bersama Wilsen Willim, Raisha Syarfuan dari PT. Sarinah, dan Sjamsidar Isa dari Cita Tenun Indonesia. (IDN Times/Maura Thirza)
  • Wilsen Willim memakai storytelling, motif tradisional, dan benang daur ulang berestetika denim untuk membuat tenun lebih mudah diterima pasar global tanpa melepas akar pengerjaannya.
  • Sarinah mendukung keberlanjutan penenun melalui pencarian wastra daerah, pemahaman kebutuhan pasar, serta program Sarinah Pandu agar regenerasi teknik tenun terus berjalan.
  • Cita Tenun Indonesia melakukan pembinaan berulang dan kolaboratif sesuai kondisi tiap daerah, sekaligus menegaskan harga tenun mencerminkan proses panjang serta banyaknya pelaku yang terlibat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tenun Indonesia punya cerita panjang yang melekat pada motif, teknik, hingga daerah asalnya. Namun, bagaimana membuat warisan tersebut tetap relevan di tengah selera fashion yang terus berubah? Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan dalam fashion talk “Tenun Masa Kini” bersama desainer Wilsen Willim, Raisha Syarfuan selaku President Director PT. Sarinah, dan desainer Sjamsidar Isa dari Cita Tenun Indonesia di Sarinah Thamrin, Minggu (7/9/2026).

Alih-alih hanya mempertahankan tenun dalam bentuk tradisional, ketiganya melihat pentingnya membuka ruang baru agar wastra Indonesia bisa dikenal lebih luas, termasuk oleh generasi muda dan pasar internasional. Berikut ulasan selengkapnya.

1. Storytelling jadi cara Wilsen mengenalkan tenun ke pasar global

(Dari Kiri) Raisha Syarfuan Selaku Direktur PT. Sarinah, Desainer Wilsen Willim, dan Sjamsidar Isa Pengurus Cita Tenun Indonesia. (IDN Times/Maura Thirza)

Bagi Wilsen Willim, membawa tenun ke pasar global tidak cukup hanya dengan membuat desain yang terlihat modern. Ada cerita yang perlu disampaikan agar konsumen dari budaya berbeda bisa memahami nilai di balik selembar kain. Menurutnya, sebagian konsumen luar negeri sebenarnya tertarik dengan tenun Indonesia, tetapi masih memiliki kekhawatiran karena menganggapnya terlalu tradisional atau takut melakukan cultural appropriation.

“Jadi aku tuh mengusung temanya itu Algorithm. Algorithm itu bahasa angka yang dipahami seluruh dunia. Jadi kan perbedaannya cuma bahasa. Jadi aku menggunakan benang daur ulang yang akhirnya menciptakan tenunnya itu dengan estetik akhir denim. Jadi, apakah itu bisa disebut tenun tradisional? Tidak. Tapi motifnya sangat tradisional, pengerjaannya juga tradisional,” ujar Wilsen.

Pendekatan tersebut membuat tenun tetap memiliki akar tradisional. Akan tetapi, karya tersebut bisa hadir melalui bahasa visual yang lebih mudah dikenali konsumen masa kini.

2. Tenun juga perlu ekosistem yang menjaga keberlanjutan penenun

Koleksi Fashion Kain Tenun by Wilsen Willim. (IDN Times/Maura Thirza)

Perubahan desain bukan satu-satunya pekerjaan untuk membuat tenun tetap hidup. Raisha Syarfuan mengatakan Sarinah juga berupaya memastikan para pengrajin memiliki keberlanjutan dalam menjalankan pekerjaannya. Salah satunya dilakukan dengan mencari berbagai wastra dari daerah di Indonesia sekaligus membantu pengrajin memahami kebutuhan pasar. Sarinah juga memiliki program Sarinah Pandu untuk mendukung para penenun dan pengrajin.

“Jadi, fungsi Sarinah justru untuk make sure sustainability ada di penenunnya. Ada generasi-generasi mendatang yang dengan bangga bisa melanjutkan turun-temurun teknik dari nenek moyangnya untuk 100 tahun ke depan lagi,” kata Raisha.

Menurutnya, keberadaan Sarinah nantinya bukan hanya sebagai tempat membeli wastra. Sarinah juga bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal cerita dan proses di balik produk yang mereka pilih.

3. Menjaga tenun berarti memahami cerita di balik prosesnya

Made to Order Wastra diwujudkan dalam siluet Wilsen Willim. (IDN Times/Maura Thirza)

Sementara itu, Sjamsidar Isa menilai pelestarian tenun tidak bisa dilakukan hanya dengan datang sekali ke daerah penghasil tenun. Cita Tenun Indonesia bahkan melakukan pembinaan secara berulang dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari textile designer, fashion designer, hingga instruktur pewarnaan dan marketing.

Pasalnya, setiap daerah memiliki kebiasaan dan tantangan berbeda yang turut memengaruhi proses menenun. Karena itu, pembinaan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

“Cita Tenun Indonesia sendiri kalau melakukan pembinaan itu selalu membuat satu teamwork. Jadi, hasil suksesnya satu daerah pembinaan bukan karena satu orang saja. Jadi di dalam teamwork itu ada namanya project officer-nya udah pasti, ada manager training-nya, ada textile designer-nya, ada fashion designer karena mereka adalah pemakainya nanti,” jelas Sjamsidar.

Ia juga mengingatkan bahwa harga tenun yang terlihat mahal sebenarnya mencerminkan panjangnya proses dan banyaknya orang yang terlibat di dalamnya. Mulai dari menggulung benang, mencelup, membuat motif, hingga menenun, setiap tahapan ikut menghidupi masyarakat di daerah.

Membuat tenun tetap relevan bukan berarti harus meninggalkan identitas tradisionalnya. Eksplorasi Wilsen menunjukkan bahwa wastra bisa memiliki wajah baru melalui desain, material, dan storytelling, sementara keberlanjutan para perajinnya tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan. Dengan begitu, tenun bukan hanya menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi juga punya ruang untuk terus dikenakan, diceritakan, dan berkembang di masa kini.

Curated For You

Editorial Team

Related Article