Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Pria yang Tanpa Sadar Membuat Orang Merasa Diremehkan

4 min read
5 Kebiasaan Pria yang Tanpa Sadar Membuat Orang Merasa Diremehkan
Ilustrasi berbicara (pexels.com/Werner Pfennig)
  • Memotong pembicaraan, mengecilkan pencapaian, dan selalu merasa paling tahu dapat membuat orang lain merasa tidak didengar serta pendapatnya dianggap tidak penting.
  • Menjadikan kekurangan fisik, ekonomi, atau kehidupan pribadi sebagai lelucon berpotensi melukai teman, meski mereka ikut tertawa demi menghindari suasana canggung.
  • Sikap ramah yang hanya ditunjukkan kepada orang berjabatan, sambil ketus kepada pekerja lain, memperlihatkan perlakuan berbeda yang bisa membuat orang merasa diremehkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam pergaulan, ada kebiasaan yang mungkin dianggap sepele, tetapi bisa bikin orang lain kesal. Mulai dari cara menanggapi cerita sampai komentar yang terlontar saat bercanda, semuanya bisa memengaruhi hubungan dengan orang sekitar. Bahkan, orang yang merasa dirinya biasa saja belum tentu sadar bahwa sikapnya membuat orang lain tersinggung.

Hal seperti ini kadang baru terasa ketika teman mulai malas mengobrol atau memilih diam saat berkumpul. Bisa jadi, ada kebiasaan yang selama ini luput dari perhatian. Coba cek lima sikap berikut, siapa tahu ada yang masih sering dilakukan.

  1. 1. Memotong pembicaraan sebelum orang lain selesai

    Ilustrasi berbicara
    Ilustrasi berbicara (pexels.com/Thirdman)

    Belum selesai bercerita, lawan bicara sudah disela. Ada yang langsung menyahut karena merasa tahu kelanjutannya, ada pula yang buru-buru menyampaikan pendapat sendiri. Jika terus terjadi, orang yang diajak bicara bisa merasa ucapannya tidak perlu didengarkan sampai selesai.

    Kebiasaan ini juga bisa bikin obrolan terasa melelahkan karena setiap orang seperti berlomba ingin didengar. Apalagi saat teman sedang menceritakan masalah atau pengalaman penting, interupsi berulang bisa membuatnya malas melanjutkan cerita. Padahal, menunggu giliran bicara bukan perkara sulit. Biarkan teman menyelesaikan ceritanya, baru tanggapi bagian yang memang ingin dibahas.

  2. 2. Mengecilkan pencapaian orang lain

    Ilustrasi berbicara
    Ilustrasi berbicara (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Teman baru mendapat pekerjaan, responsnya malah, “Gajinya berapa? Kecil, ya?” Ada juga yang menanggapi kabar baik dengan membandingkannya dengan pencapaian sendiri. Mungkin maksudnya sekadar berkomentar, tetapi ucapan seperti itu bisa membuat orang kehilangan kegembiraannya, terlebih jika dia sudah berusaha keras untuk mencapai hal tersebut.

    Setiap orang punya perjalanan yang berbeda. Pekerjaan pertama, usaha kecil yang mulai menghasilkan, atau keberhasilan menyelesaikan kuliah bisa punya arti besar bagi seseorang. Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa panjang proses yang sudah dilewati orang lain. Jadi, saat teman sedang senang membagikan kabar baik, hargai dulu pencapaiannya tanpa harus mengukur semuanya dengan standar pribadi.

  3. 3. Selalu merasa paling tahu

    Ilustrasi berbicara
    Ilustrasi berbicara (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Saat membahas topik tertentu, pria dengan kebiasaan ini cenderung ingin pendapatnya menjadi acuan. Dia merasa pengalamannya paling relevan, sering mengoreksi hal-hal kecil, atau sulit menerima informasi yang berbeda dari pemahamannya. Sikap seperti ini bisa membuat orang lain merasa pendapatnya selalu dianggap salah.

    Padahal, setiap orang punya pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Jika ada informasi yang kurang tepat, jelaskan bagian yang perlu diluruskan beserta alasannya. Sikap terbuka terhadap pendapat lain juga penting agar diskusi tidak terus berpusat pada satu orang.

  4. 4. Menjadikan kekurangan orang sebagai bahan lelucon

    Ilustrasi berbicara bersama teman
    Ilustrasi berbicara bersama teman (pexels.com/Helena Lopes)

    Mengejek bentuk tubuh, kondisi ekonomi, atau kehidupan pribadi teman sering dianggap candaan biasa. Apalagi jika dilakukan di depan banyak orang dan diikuti tawa satu kelompok. Masalahnya, orang yang diejek belum tentu benar-benar merasa lucu, bisa saja dia ikut tertawa karena tidak ingin suasana menjadi canggung atau dianggap terlalu sensitif oleh teman-temannya.

    Bercanda memang boleh dan bisa membuat suasana lebih akrab. Namun, tetap perhatikan reaksi teman saat sebuah candaan dilontarkan. Jika dia terlihat kesal atau sudah meminta agar topik itu dihentikan, jangan terus mengulangnya hanya demi membuat orang lain tertawa. Candaan yang sama bisa terasa berbeda bagi setiap orang, apalagi jika menyangkut hal yang membuatnya tidak percaya diri.

  5. 5. Hanya ramah kepada orang yang dianggap penting

    Ilustrasi berbicara bersama rekan kerja
    Ilustrasi berbicara bersama rekan kerja (pexels.com/RDNE Stock project)

    Cara seseorang memperlakukan orang lain bisa berubah ketika berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan atau pengaruh. Dia mungkin ramah kepada atasan, tetapi ketus kepada petugas kebersihan, pelayan, atau orang yang dianggap tidak bisa memberinya keuntungan. Perbedaan itu bisa terlihat dari nada bicara hingga kesabaran saat meminta bantuan.

    Kebiasaan ini juga terlihat saat menghadapi situasi sehari-hari. Ketika pesanan terlambat datang, misalnya, seseorang tetap bisa menyampaikan keluhan tanpa membentak pelayan. Begitu juga saat berurusan dengan petugas kebersihan atau pekerja lain yang sering luput dari perhatian.

    Sikap yang membuat orang merasa diremehkan bisa muncul tanpa disadari, bahkan dalam obrolan sehari-hari. Karena itu, ada baiknya mulai memperhatikan cara menanggapi cerita, bercanda, atau menyampaikan pendapat. Jangan sampai kebiasaan yang dianggap biasa justru membuat orang lain merasa tidak nyaman saat berada di dekat kamu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet