Kenapa Berat Badan Biasanya Justru Naik di Minggu Kedua Ramadan?

Tubuh beradaptasi, nafsu makan kembali normal
Balas dendam saat berbuka
Minuman manis jadi jebakan utama
Banyak orang masuk Ramadan dengan harapan berat badan turun. Minggu pertama biasanya terasa ringan karena pola makan berubah dan nafsu makan masih terkendali. Tapi anehnya, memasuki minggu kedua angka timbangan justru melonjak.
Fenomena ini bukan kebetulan dan bukan pula “metabolisme rusak”. Ada pola yang sering tidak disadari setelah tubuh mulai beradaptasi. Kalau tidak dikontrol, kenaikannya bisa lebih cepat dari yang kamu kira.
Table of Content
1. Tubuh sudah beradaptasi, nafsu makan balik normal

Di minggu pertama, tubuh masih beradaptasi dengan perubahan jadwal makan. Nafsu makan cenderung belum stabil dan asupan sering lebih sedikit. Ini membuat berat badan terlihat turun atau setidaknya stagnan.
Memasuki minggu kedua, tubuh mulai menyesuaikan ritme baru. Rasa lapar saat berbuka menjadi lebih kuat dan terkadang berlebihan. Akibatnya, porsi makan tanpa sadar jadi jauh lebih besar dari kebutuhan harian.
2. Balas dendam saat berbuka

Setelah seharian menahan lapar, banyak orang merasa “berhak” makan apa saja. Gorengan, minuman manis, dan dessert tinggi kalori jadi menu wajib setiap hari. Kalori masuk bisa jauh melebihi kondisi normal.
Masalahnya, jendela makan saat Ramadan lebih sempit. Ketika kalori tinggi dikonsumsi dalam waktu singkat, tubuh lebih mudah menyimpannya sebagai lemak. Inilah salah satu penyebab lonjakan berat badan di minggu kedua.
3. Minuman manis jadi jebakan utama

Es teh manis, sirup, kolak, dan minuman susu jadi favorit saat berbuka. Satu gelas saja bisa mengandung gula setara beberapa sendok makan. Jika dikonsumsi setiap hari, surplus kalori sulit dihindari.
Minuman manis sering dianggap “ringan” karena tidak mengenyangkan. Padahal, kalorinya tetap dihitung oleh tubuh. Tanpa kontrol, asupan cairan manis ini jadi penyumbang utama kenaikan berat badan.
4. Aktivitas fisik menurun drastis

Banyak orang mengurangi aktivitas karena merasa lemas saat puasa. Olahraga ditunda, langkah harian berkurang, dan waktu lebih banyak dihabiskan duduk atau rebahan. Pengeluaran energi otomatis menurun.
Ketika kalori masuk meningkat tapi kalori keluar turun, hasilnya jelas: surplus energi. Minggu kedua menjadi titik di mana pola ini mulai terlihat di timbangan. Kombinasi makan lebih banyak dan bergerak lebih sedikit sangat berpengaruh.
5. Pola tidur berantakan

Ramadan sering mengubah jam tidur karena sahur dan aktivitas malam. Kurang tidur memengaruhi hormon lapar seperti ghrelin dan leptin. Akibatnya, rasa lapar meningkat dan kontrol diri menurun.
Kurang tidur juga memperlambat metabolisme dan meningkatkan keinginan makan makanan tinggi gula. Ini memperparah pola makan berlebihan saat berbuka. Dalam jangka dua minggu saja, efeknya sudah terasa signifikan.
Kenaikan berat badan di minggu kedua Ramadan bukan misteri. Itu hasil kombinasi adaptasi tubuh, balas dendam kalori, minuman manis, kurang gerak, dan tidur yang berantakan. Tanpa sadar, surplus kecil setiap hari bisa menumpuk cepat.
Ramadan tetap bisa jadi momen memperbaiki pola hidup, bukan malah menambah beban timbangan. Kuncinya ada pada kontrol porsi, batasi gula, tetap aktif, dan jaga kualitas tidur. Jadi, mau lanjut pola “balas dendam” atau mulai atur strategi dari sekarang?


















