Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Pria Suka Menunda Beli Baju Lebaran Sampai H-1 Lebaran?

Kenapa Pria Suka Menunda Beli Baju Lebaran Sampai H-1 Lebaran?
ilustrasi pria belanja (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Banyak pria menunda beli baju Lebaran karena menganggapnya bukan prioritas utama, lebih fokus pada pekerjaan, mudik, atau kebutuhan keluarga.
  • Gaya belanja pria yang praktis dan cepat membuat mereka merasa efisien membeli baju di H-1 Lebaran tanpa banyak pertimbangan.
  • Suasana menjelang Lebaran memberi sensasi emosional tersendiri, ditambah kebiasaan menunda keputusan kecil dan keyakinan stok masih tersedia hingga akhir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Fenomena pria yang baru membeli baju Lebaran saat mendekati hari raya bukan hal baru. Setiap tahun, suasana pusat perbelanjaan selalu dipenuhi oleh pria yang tampak santai memilih pakaian di detik-detik terakhir. Padahal, pilihan ukuran sudah mulai terbatas dan antrean kasir semakin panjang. Namun anehnya, kebiasaan ini tetap saja terulang tanpa banyak perubahan.

Di balik kebiasaan tersebut, ada berbagai alasan yang cukup menarik untuk dipahami. Mulai dari pola pikir yang praktis, hingga kecenderungan menunda keputusan yang dianggap tidak mendesak. Kebiasaan ini juga sering kali dipengaruhi oleh gaya hidup serta cara pria memandang kebutuhan fashion. Kalau diperhatikan lebih dalam, ada banyak faktor yang membuat fenomena ini terasa sangat relatable. Yuk bahas satu per satu alasannya!

Table of Content

1. Menganggap baju Lebaran bukan prioritas utama

1. Menganggap baju Lebaran bukan prioritas utama

ilustrasi pria belanja
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Bagi sebagian pria, baju Lebaran bukan termasuk kebutuhan yang harus dipikirkan jauh-jauh hari. Fokus utama biasanya lebih tertuju pada hal yang dianggap lebih penting seperti pekerjaan, perjalanan mudik, atau kebutuhan keluarga. Selama masih memiliki pakaian yang layak, keinginan membeli baju baru sering kali ditempatkan di urutan belakang.

Cara pandang seperti ini membuat keputusan membeli baju terasa bisa ditunda tanpa masalah. Bahkan, ada anggapan bahwa membeli terlalu awal justru terasa kurang penting. Akibatnya, momen menjelang Lebaran menjadi waktu yang dianggap paling pas karena kebutuhan tersebut akhirnya terasa mendesak.

2. Gaya belanja yang cenderung praktis dan cepat

ilustrasi pria belanja
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Max Fischer)

Pria umumnya memiliki gaya belanja yang lebih sederhana dibanding perempuan. Mereka cenderung tidak terlalu lama mempertimbangkan pilihan selama pakaian tersebut sudah terasa nyaman dan sesuai kebutuhan. Proses memilih yang cepat ini membuat waktu belanja terasa tidak perlu direncanakan jauh hari.

Dengan pola pikir seperti ini, membeli baju saat H-1 Lebaran justru terasa efisien. Cukup datang ke toko, memilih satu atau dua opsi, lalu selesai tanpa banyak pertimbangan. Meski terlihat terburu-buru, cara ini justru dianggap lebih praktis dan tidak menguras energi.

3. Menunggu suasana Lebaran terasa dekat

ilustrasi pria belanja
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Ada sensasi berbeda ketika membeli baju saat suasana Lebaran sudah terasa dekat. Lampu hias mulai terpasang, pusat perbelanjaan ramai, dan aroma khas Lebaran mulai terasa di mana-mana. Kondisi ini menciptakan pengalaman emosional yang membuat aktivitas belanja terasa lebih hidup.

Sebagian pria justru menikmati suasana tersebut sebagai bagian dari tradisi. Membeli baju di saat-saat terakhir memberi sensasi tersendiri yang sulit didapat jika dilakukan jauh hari sebelumnya. Meski terlihat kurang terencana, pengalaman ini justru menjadi hal yang dinanti setiap tahun.

4. Sering menunda keputusan kecil

ilustrasi pria berpikir
ilustrasi pria berpikir (pexels.com/Alyssa DeGarde)

Kebiasaan menunda bukan hanya terjadi pada hal besar, tetapi juga pada keputusan kecil seperti membeli pakaian. Dalam keseharian, banyak pria cenderung menunda hal yang dirasa tidak mendesak. Kebiasaan ini secara tidak langsung terbawa hingga momen Lebaran.

Menunda membeli baju terasa aman selama belum benar-benar kehabisan waktu. Pola pikir seperti ini membuat batas waktu terasa lebih fleksibel dari yang seharusnya. Akibatnya, keputusan baru diambil ketika waktu sudah sangat mepet.

5. Percaya masih ada pilihan di saat terakhir

ilustrasi pria belanja
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Erik Mclean)

Salah satu alasan paling umum adalah keyakinan bahwa stok pakaian masih tersedia meski waktu sudah mendekati Lebaran. Banyak pria merasa bahwa pilihan baju akan selalu ada, sehingga tidak perlu terburu-buru. Kepercayaan ini sering muncul dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya.

Meski kenyataannya ukuran atau model tertentu bisa cepat habis, keyakinan tersebut tetap bertahan. Hal ini membuat keputusan belanja terus tertunda hingga hari terakhir. Bagi sebagian pria, selama masih menemukan satu pakaian yang cocok, itu sudah lebih dari cukup.

Kebiasaan menunda membeli baju Lebaran ternyata bukan sekadar soal malas atau lupa. Ada pola pikir, kebiasaan, serta pengalaman yang membentuk perilaku tersebut dari waktu ke waktu. Meski terlihat sederhana, fenomena ini mencerminkan cara pria mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us