Mitos vs Fakta: Sahur Harus Makan Banyak biar Kuat Puasa, Benarkah?

- Banyak orang masih percaya makan banyak saat sahur bikin kuat puasa, padahal porsi besar justru bisa bikin tubuh berat dan cepat lemas.
- Kualitas makanan lebih penting dari jumlahnya; karbohidrat kompleks, protein, dan serat bantu energi bertahan lebih lama dibanding gula sederhana.
- Hidrasi cukup dan tidur yang baik turut menentukan daya tahan puasa, sementara porsi seimbang membuat tubuh tetap ringan dan fokus sepanjang hari.
Banyak orang percaya bahwa semakin banyak makan saat sahur, semakin kuat menjalani puasa seharian. Piring diisi penuh dengan nasi, lauk berlemak, dan minuman manis demi “bekal energi”. Rasanya seperti logis, karena tubuh butuh bahan bakar sebelum berpuasa.
Namun apakah benar makan dalam jumlah besar otomatis membuat tubuh lebih tahan lapar dan tidak mudah lemas? Atau justru ada pendekatan yang lebih efektif dan sehat? Mari kita kupas lewat mitos dan faktanya.
Table of Content
1. Mitos: Makan sebanyak mungkin bikin kuat sampai magrib

Banyak yang mengira kunci kuat puasa adalah kuantitas makanan. Akibatnya, sahur jadi ajang balas dendam makan sebanyak-banyaknya sebelum imsak. Perut terasa penuh, tapi belum tentu energi bertahan lama.
Tubuh tidak menyimpan energi hanya berdasarkan banyaknya porsi sekali makan. Sistem metabolisme tetap bekerja sesuai ritmenya. Jika berlebihan, justru tubuh terasa lebih berat dan mengantuk setelah sahur.
2. Fakta: Kualitas makanan lebih penting dari jumlahnya

Komposisi makanan jauh lebih berpengaruh dibanding porsi besar semata. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau oatmeal dicerna lebih lambat sehingga energi dilepas bertahap. Protein dan serat juga membantu rasa kenyang lebih lama.
Sebaliknya, makanan tinggi gula sederhana membuat gula darah cepat naik lalu turun drastis. Efeknya tubuh terasa cepat lapar dan lemas di siang hari. Jadi bukan soal banyaknya, tetapi keseimbangan nutrisinya.
3. Mitos: Makan berat bikin tidak cepat lapar

Perut yang terasa penuh sering disamakan dengan daya tahan yang lebih kuat. Padahal rasa kenyang bukan satu-satunya indikator energi stabil. Makan terlalu berat justru bisa membuat sistem pencernaan bekerja ekstra.
Akibatnya, tubuh terasa lesu karena energi banyak digunakan untuk mencerna makanan. Beberapa orang bahkan merasa begah dan kurang nyaman sepanjang pagi. Kondisi ini jelas tidak ideal untuk menjalani aktivitas.
4. Fakta: Hidrasi dan pola tidur juga menentukan

Selain makanan, asupan cairan sangat berpengaruh pada daya tahan puasa. Kurang minum saat sahur bisa membuat tubuh cepat dehidrasi dan lemas sebelum siang. Air putih yang cukup jauh lebih penting daripada minuman manis berlebihan.
Pola tidur juga tidak kalah penting. Jika sahur dilakukan setelah tidur yang terlalu singkat, tubuh tetap terasa lelah meski makan banyak. Energi yang stabil berasal dari kombinasi nutrisi, cairan, dan istirahat cukup.
5. Fakta: Porsi cukup dan seimbang lebih ideal

Sahur sebaiknya terdiri dari karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah. Porsi tidak perlu berlebihan, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Prinsipnya adalah seimbang dan tidak berlebihan.
Dengan pola makan seperti ini, energi dilepas lebih stabil sepanjang hari. Tubuh pun terasa lebih ringan dan fokus tetap terjaga. Jadi kuat puasa bukan karena makan banyak, melainkan makan dengan tepat.
Anggapan bahwa sahur harus makan banyak agar kuat puasa tidak sepenuhnya benar. Yang lebih penting adalah kualitas dan keseimbangan nutrisi yang dikonsumsi. Tubuh bekerja lebih efektif dengan pola makan teratur dan cukup.
Daripada mengejar porsi besar, lebih baik perhatikan komposisi dan hidrasi. Puasa jadi lebih nyaman, tubuh tetap bertenaga, dan kesehatan pun lebih terjaga.


















