5 MBTI Cowok yang Menjadi Workaholic demi Menghindari Emosi

Beberapa cowok workaholic menggunakan pekerjaan sebagai pelarian dari emosi, terutama dilihat melalui perspektif tipe kepribadian MBTI.
Tipe MBTI yang disebut rentan terhadap pola ini adalah INTJ, ENTJ, ISTJ, ESTJ, dan ENTP.
Penting untuk menyeimbangkan antara ambisi profesional dan keberanian menghadapi emosi agar kesehatan mental tetap terjaga.
Bekerja keras sering dianggap sebagai tanda ambisi dan tanggung jawab. Namun, dalam beberapa kasus, kesibukan yang berlebihan bisa menjadi bentuk pelarian dari emosi yang gak ingin dihadapi. Fenomena ini sering disebut sebagai kecenderungan workaholic, yaitu kondisi ketika pekerjaan menjadi tempat bersembunyi dari konflik batin.
Dalam dinamika kepribadian berdasarkan MBTI, ada beberapa tipe cowok yang secara pola karakter lebih rentan menggunakan pekerjaan sebagai distraksi emosional. Bukan karena lemah, tapi karena mereka cenderung lebih nyaman menyalurkan energi ke produktivitas daripada mengurai perasaan. Memahami pola ini membantu melihat sisi lain dari ambisi yang terlihat kuat di permukaan. Yuk, kenali lima tipe yang sering terjebak dalam pola kerja berlebihan demi menghindari emosi!
1. INTJ

INTJ dikenal sebagai tipe yang strategis, visioner, dan sangat fokus pada tujuan jangka panjang. Mereka punya kecenderungan menyelesaikan masalah dengan logika dan perencanaan matang. Ketika menghadapi konflik emosional, fokus pada proyek sering menjadi pelarian yang terasa lebih aman.
Alih-alih mengurai perasaan, INTJ lebih memilih menenggelamkan diri dalam target dan pencapaian. Kesibukan memberi rasa kontrol yang kuat, sementara emosi dianggap kurang efisien untuk diproses. Di balik citra tenang dan rasional, ada kemungkinan beban emosi yang gak pernah benar-benar diberi ruang.
2. ENTJ

ENTJ sering digambarkan sebagai pemimpin alami dengan ambisi tinggi. Mereka punya dorongan kuat untuk mencapai posisi terbaik dalam karier dan kehidupan profesional. Saat emosi terasa mengganggu, pekerjaan menjadi alat untuk mengembalikan rasa stabil.
Bagi ENTJ, kesibukan adalah bentuk penguasaan situasi. Dengan mengatur jadwal, proyek, dan tim, mereka merasa tetap memegang kendali. Namun, jika pola ini terus berulang, emosi yang terabaikan bisa menumpuk dan muncul dalam bentuk tekanan mental yang sulit diurai.
3. ISTJ

ISTJ dikenal disiplin, konsisten, dan berorientasi pada kewajiban. Mereka sering menempatkan tanggung jawab di atas kebutuhan emosional pribadi. Ketika menghadapi masalah perasaan, bekerja lebih keras terasa seperti solusi yang rasional.
Fokus pada rutinitas dan struktur membuat ISTJ merasa aman. Kesibukan membantu mengalihkan perhatian dari ketidaknyamanan batin yang sulit diungkapkan. Namun, jika terus mengabaikan sisi emosional, tekanan internal bisa muncul tanpa tanda yang jelas.
4. ESTJ

ESTJ memiliki karakter tegas, praktis, dan sangat terorganisir. Mereka cenderung menghadapi stres dengan meningkatkan produktivitas. Ketika emosi terasa rumit, proyek dan target menjadi prioritas utama.
Pencapaian memberi validasi yang konkret dan terukur. Hal ini membuat ESTJ merasa tetap kuat dan kompeten, meski ada konflik batin yang belum terselesaikan. Namun, tanpa kesadaran emosional, kerja berlebihan bisa berubah menjadi pola yang menguras energi mental.
5. ENTP

ENTP dikenal kreatif, penuh ide, dan selalu tertarik pada tantangan baru. Mereka sering mengalihkan energi emosional ke proyek inovatif atau diskusi intelektual. Aktivitas ini memberi sensasi stimulasi mental yang tinggi.
Daripada duduk dan menghadapi perasaan secara langsung, ENTP cenderung mencari distraksi produktif. Kesibukan dengan ide dan rencana baru membuat mereka merasa tetap bergerak maju. Namun, di balik dinamika tersebut, ada kemungkinan emosi yang terus tertunda untuk dipahami.
Menjadi produktif bukan hal yang salah, bahkan sering kali patut diapresiasi. Namun, ketika pekerjaan dijadikan tameng untuk menghindari emosi, keseimbangan hidup bisa terganggu. Memahami kecenderungan ini membantu melihat sisi manusiawi di balik ambisi yang terlihat kuat. Pada akhirnya, keberanian menghadapi emosi sama pentingnya dengan keberhasilan profesional.


















