ilustrasi ayat Al Qur'an (pexels.com/Zeynep Sude Emek)
Pemindahan kiblat ini diyakini bukan hanya sekadar berubah tempat saja. Namun, hal ini bermakna ibadah shalat semata-mata ditujukan kepada Allah SWT. Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah SAW terkait pemindahan kiblat umat Islam, yakni Q.S Al-Baqarah ayat 144. Arti Q.S Al Baqarah ayat 144 sebagai berikut:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (QS. Al-Baqarah [2]: 144).
Pemindahan kiblat tidak terlepas dari keraguan dari kaum muslimin. Peristiwa ini menjadi seleksi keimanan bagi umat Islam. Jika mempunyai iman yang kokoh, maka mereka patuh terhadap Rasulullah SAW.
Sejarah pemindahan kiblat mempunyai arti yang istimewa, khususnya umat Islam. Baitul Maqdis dikenal sebagai kiblat sementara. Sekarang, kita shalat menghadap ke Ka'bah, Masjidil Haram.