Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Mengetahui Bentuk Kaki untuk Sepatu Lari

 5 Cara Mengetahui Bentuk Kaki untuk Sepatu Lari
ilustrasi memakai sepatu lari yang sesuai dengan bentuk kaki (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Wet test membantu mengenali lengkungan telapak: normal, datar, atau tinggi. Hasilnya menjadi petunjuk awal kebutuhan dukungan dan bantalan, bukan diagnosis mutlak.
  • Pola keausan sepatu, pendaratan saat berlari, serta rekaman gerak dapat menunjukkan pronasi, supinasi, dan kebutuhan jenis sepatu. Analisis profesional disarankan bagi pemula atau yang punya keluhan.
  • Ukur panjang dan lebar kedua kaki pada penghujung hari, gunakan kaki lebih besar sebagai acuan, serta pastikan ruang jari dan tumit pas. Sesuaikan sepatu dengan permukaan latihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sepatu lari yang terlihat keren belum tentu cocok untuk kakimu. Salah memilih sepatu dapat mengurangi kenyamanan dan membuat tubuh menerima tekanan yang tidak semestinya saat berlari.

Karena bentuk serta cara bergerak setiap kaki berbeda, memahami cara mengetahui bentuk kaki untuk sepatu lari menjadi langkah penting sebelum menentukan pilihan. Lengkungan telapak, arah pergerakan kaki saat mendarat, hingga pola pijakan dapat memengaruhi jenis dukungan yang kamu butuhkan.

Kabar baiknya, kamu tidak selalu membutuhkan peralatan rumit untuk mulai mengenali karakteristik kaki. Beberapa pemeriksaan sederhana di rumah bisa memberikan petunjuk awal, lalu hasilnya dapat dilengkapi dengan analisis profesional jika diperlukan. Yuk, simak lima caranya berikut ini!

1. Lakukan wet test untuk melihat lengkungan telapak kaki

Ilustrasi pemakaian sepatu lari yang sesuai dengan bentuk kaki untuk mendukung kenyamanan saat berlari.
ilustrasi menggunakan sepatu lari yang sesuai dengan bentuk kaki (magnific.com/freepik)

Salah satu cara paling mudah untuk mengenali bentuk kaki adalah melalui wet test. Kamu hanya perlu membasahi telapak kaki, kemudian menginjak selembar kertas atau permukaan lain yang dapat memperlihatkan jejak kaki dengan jelas. Bentuk jejak yang tertinggal akan memberikan gambaran awal mengenai tinggi-rendahnya lengkungan telapakmu.

Apabila jejak kaki memperlihatkan lekukan yang cukup jelas di bagian tengah, kemungkinan kamu memiliki lengkungan normal atau neutral arch. Tipe ini umumnya memiliki pembagian beban yang lebih seimbang sehingga pilihan sepatunya relatif fleksibel. Sepatu kategori neutral atau stability ringan biasanya dapat menjadi titik awal untuk dicoba, tetapi tingkat bantalan dan kesesuaian ukuran tetap perlu diperhatikan.

Sementara itu, jejak yang terlihat hampir penuh tanpa banyak lekukan dapat menandakan kaki datar atau flat foot. Sebaliknya, apabila jejak hanya memperlihatkan tumit dan bagian depan kaki dengan sedikit atau tanpa sambungan di tengah, kamu mungkin memiliki lengkungan tinggi atau high arch. Kaki datar biasanya membutuhkan dukungan lebih kuat, sedangkan lengkungan tinggi cenderung memerlukan bantalan tambahan untuk membantu meredam benturan.

Meski praktis, hasil wet test sebaiknya dipakai sebagai petunjuk awal, bukan diagnosis mutlak. Bentuk lengkungan memang penting, tetapi belum menjelaskan sepenuhnya bagaimana kaki bergerak ketika kamu mulai berjalan atau berlari.

2. Periksa pola keausan pada sepatu lama

Ilustrasi sepasang sepatu lari sebagai perlengkapan olahraga untuk berlari dan mendukung aktivitas kebugaran sehari-hari.
ilustrasi sepatu lari (pexels.com/pedro furtado)

Sepatu lari atau sepatu jalan yang sudah lama digunakan bisa menyimpan banyak informasi mengenai pola pijakanmu. Letakkan sepatu di permukaan datar, lalu perhatikan bagian sol yang paling aus serta arah kemiringan sepatu. Pemeriksaan ini dapat membantu mengenali tipe pronasi, yaitu cara kaki mendarat dan bergulir untuk meredam benturan.

Pada pronasi netral, keausan biasanya membentuk pola menyerupai huruf S, mulai dari sisi luar tumit menuju bagian tengah telapak depan dan ibu jari. Pola ini menunjukkan kaki bergulir sedikit ke dalam dan mendistribusikan beban secara relatif merata.

Jika keausan lebih banyak terkumpul di sisi dalam sol (terutama pada tumit bagian dalam, pangkal ibu jari, dan telapak depan) kamu mungkin mengalami pronasi berlebih. Sepatu juga dapat terlihat miring ke dalam ketika diletakkan di permukaan rata. Kondisi ini kerap berkaitan dengan kaki datar atau lengkungan rendah sehingga sepatu stability maupun motion control dapat dipertimbangkan sesuai tingkat dukungan yang dibutuhkan.

Sebaliknya, keausan yang dominan di sisi luar dan membuat sepatu terlihat miring keluar dapat mengarah pada supinasi. Pola ini sering ditemukan pada kaki dengan lengkungan tinggi. Sepatu neutral dengan bantalan yang cukup atau kategori cushioned biasanya lebih sesuai dibandingkan sepatu motion control yang terlalu membatasi gerakan alami kaki.

3. Amati bagian kaki yang pertama kali menyentuh permukaan

ilustrasi sepatu lari
ilustrasi sepatu lari (unsplash.com/Josue)

Mengetahui tinggi lengkungan dan tipe pronasi belum menyelesaikan seluruh pemeriksaan. Dalam memahami cara mengetahui bentuk kaki untuk sepatu lari, kamu juga perlu memperhatikan pola pendaratan, yaitu bagian kaki yang pertama kali menyentuh permukaan ketika berlari.

Pelari dengan pola heel strike akan mendarat menggunakan tumit terlebih dahulu. Karena beban awal terkonsentrasi di bagian belakang kaki, sepatu dengan bantalan tumit lebih tebal dan selisih ketinggian tumit ke bagian depan atau heel-to-toe drop yang lebih tinggi dapat membantu meredam benturan. Rentang tinggi sekitar 8–12 mm dalam referensi juga dikaitkan dengan pelari jarak jauh dan mereka yang kerap berlari di tanjakan curam.

Pada pola midfoot strike, bagian tengah telapak menjadi titik kontak pertama. Beban cenderung tersebar lebih merata pada pergelangan kaki, lutut, pinggul, dan punggung. Sepatu dengan selisih ketinggian sedang sekitar 5–8 mm dapat menjadi pilihan serbaguna, terutama bagi pelari pemula yang masih mencari karakter sepatu paling nyaman.

Berbeda lagi dengan forefoot strike yang mengandalkan telapak depan sebagai titik pendaratan awal. Pelari dengan pola ini biasanya lebih menyukai sepatu berselisih rendah sekitar 1–4 mm atau model zero drop. Namun, perubahan menuju sepatu berselisih rendah perlu dilakukan secara bertahap karena dapat menambah beban pada tendon Achilles dan otot betis. Tidak ada satu pola pendaratan yang otomatis menjamin pelari bebas cedera, sehingga kenyamanan tubuh tetap harus menjadi pertimbangan utama.

4. Rekam gerakan kaki atau lakukan analisis gaya lari

ilustrasi sepatu lari (unsplash.com/louis tricot)
ilustrasi sepatu lari (unsplash.com/louis tricot)

Gerakan kaki saat berlari terkadang sulit diamati hanya dengan melihat ke bawah. Kamu dapat meminta bantuan orang lain untuk merekam kakimu dari belakang ketika berlari. Perhatikan apakah pergelangan dan tumit terlihat bergulir terlalu jauh ke dalam, tetap relatif lurus, atau justru bergerak ke arah luar.

Untuk mendapatkan penilaian yang lebih akurat, lakukan analisis gaya lari atau gait analysis di toko olahraga yang menyediakan layanan tersebut maupun bersama tenaga profesional. Prosesnya dapat dilakukan dengan merekam gerakan kaki saat kamu berlari di atas treadmill. Dari rekaman itu, arah pronasi, pola pendaratan, dan kebutuhan dukungan sepatu dapat terlihat lebih jelas.

Jangan lupa menceritakan riwayat latihan dan cedera yang pernah dialami. Analisis gerakan memang memberi informasi penting, tetapi kondisi tubuh serta pengalaman berlari tetap memengaruhi rekomendasi sepatu. Jika kamu masih pemula atau sering mengalami keluhan, pemeriksaan profesional akan lebih aman daripada sekadar menebak berdasarkan bentuk telapak.

5. Ukur panjang dan lebar kedua kaki sebelum membeli sepatu

ilustrasi sepatu lari
ilustrasi sepatu lari (unsplash.com/Getty Images)

Bentuk kaki tidak hanya ditentukan oleh lengkungan. Panjang dan lebar kaki juga perlu diperiksa karena kaki kanan dan kiri tidak selalu memiliki ukuran yang sama. Ukur keduanya, kemudian jadikan kaki yang lebih besar sebagai acuan saat memilih ukuran sepatu.

Sebaiknya pengukuran dilakukan pada penghujung hari karena ukuran kaki dapat sedikit membesar setelah beraktivitas. Gunakan pula kaus kaki, penyangga, atau sol tambahan yang biasa kamu pakai saat berlari. Dengan begitu, hasil pengukuran lebih mendekati kondisi sebenarnya ketika sepatu digunakan.

Saat mencoba sepatu, pastikan ruang jari terasa pas, tetapi tidak membatasi gerakan. Referensi menyarankan adanya jarak sekitar satu sentimeter antara jari kaki terpanjang dan ujung depan sepatu. Tumit juga tidak boleh terangkat atau bergeser saat berjalan. Cobalah kedua sisi sepatu untuk berjalan dan berlari kecil, bukan hanya berdiri diam di depan cermin.

Pertimbangkan pula permukaan tempatmu paling sering berlatih. Sepatu untuk jalan raya dirancang ringan, lentur, dan nyaman digunakan di permukaan keras yang rata. Sementara itu, sepatu trail cenderung lebih kaku serta memiliki gerigi sol yang lebih dalam untuk mencengkeram tanah, bebatuan, lumpur, atau permukaan tidak rata. Jadi, hasil pengukuran kaki tetap perlu dipadukan dengan kebutuhan latihanmu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles