Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
100 Hari Kecelakaan Kereta Bekasi Timur, Keluarga Korban Tagih Transparansi
Keluarga korban kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur gelar doa bersama. (IDN Times/Imam Faishal)
  • Keluarga korban menggelar doa bersama pada 100 hari tragedi di Stasiun Bekasi Timur sambil menagih transparansi dan kepastian hukum atas penanganan kecelakaan.
  • Mereka menilai proses hukum dan investigasi KNKT berjalan lambat, belum ada pihak dipidana maupun laporan akhir, serta meminta seluruh instansi membuka informasi secara profesional.
  • Santunan Rp50 juta bagi korban meninggal disebut baru diterima empat dari 16 keluarga; kecelakaan 27 April 2026 menewaskan 16 orang dan melukai 91 lainnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Keluarga korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur berkumpul dan berdoa setelah 100 hari. Dulu ada dua kereta bertabrakan. Ada 16 orang meninggal dan 91 orang terluka. Keluarga sedih karena belum ada orang yang dihukum. Mereka juga masih menunggu hasil pemeriksaan dan uang bantuan untuk beberapa korban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bekasi, IDN Times - Puluhan keluarga korban tragedi kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan KRL menggelar doa bersama untuk mengenang 100 hari persitiwa itu di Stasiun Bekasi Timur, Jumat (7/8/2026).

Dalam momen tersebut, keluarga korban menagih transparansi serta kepastian hukum karena hingga kini mereka menilai penanganan kasus belum menunjukkan kejelasan.

Salah satu kelurga korban, Anggi Alhakim, mengatakan kesedihan keluarga semakin bertambah lantaran belum ada perkembangan yang signifikan dalam penanganan perkara tersebut.

"Sampai hari ini kami melihat belum ada keadilan yang ditegakkan atas kasus ini. Belum ada yang dipidana, belum ada proses investigasi akhir dari KNKT yang katanya 2-3 bulan selesai. Tapi sampai saat ini kami belum menerima itu," ujar Anggi kepada jurnalis usai melakukan doa bersama.

1. Keluarga nilai penanganan kasus berjalan lambat

Salah satu kelurga korban, Anggi Alhakim. (IDN Times/Imam Faishal)

Anggi menilai, janji penanganan cepat yang sebelumnya disampaikan sejumlah pihak belum terlihat hasilnya. Hingga memasuki hari ke-100 pascakecelakaan, keluarga masih menunggu informasi resmi mengenai perkembangan proses hukum maupun investigasi.

"Ada beberapa pejabat yang bilang gerak cepat, gerak cepat, namun sampai saat ini hasilnya adalah gerak lambat," katanya.

Dia juga meminta seluruh instansi yang terlibat memberikan informasi secara terbuka kepada keluarga korban, agar mereka mengetahui sejauh mana penanganan kasus berlangsung.

2. Minta investigasi KNKT dibuka secara transparan

Keluarga korban kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur gelar doa bersama dan tabur bunga. (IDN Times/Imam Faishal)

Selain menunggu proses hukum, keluarga juga mendesak agar hasil investigasi akhir dari KNKT segera disampaikan. Menurut Anggi, laporan tersebut penting untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban.

"Kami meminta semua instansi yang terkait, yang bertanggung jawab atas tragedi ini, atas kecelakaan ini, untuk transparan kepada kami, menginformasikan semuanya kepada kami," ujarnya.

Dia menegaskan, keluarga hanya menginginkan seluruh instansi bekerja sesuai standar dan profesional dalam menangani tragedi tersebut.

3. Santunan disebut belum seluruhnya diterima keluarga korban

16 korban tewas kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur. (IDN Times/Imam Faishal)

Dalam kesempatan yang sama, Anggi juga menyoroti proses penyaluran santunan yang dijanjikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebesar Rp50 juta bagi korban meninggal dunia.

Dia menyebut, hingga kini masih ada keluarga korban yang belum menerima dana santunan yang dijanjikan tersebut.

"Yang belum tersantun juga ada 12 korban. Yang baru disantun itu baru 4," ungkapnya.

Diketahui, tabrakan maut antar KRL dan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Insiden bermula saat KRL Cikarang arah Jakarta menabrak taksi yang melintas di pelintasan sebidang tanpa palang pintu.

Akibat kejadian itu, perjalanan KRL lainnya arah Jakarta-Cikarang yang berada di Stasiun Bekasi Timur terhambat, sehingga rangkaian KRL tersebut tak bisa melaju.

Nahas, rangkaian KRL itu ditabrak Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi Surabaya hingga kecelakaan tak terhindarkan. Akibat peristiwa itu, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka.

Curated For You

Editorial Team

Related Article