Co-Founder Malaka Books, Abigail Limuria (IDN Times Umi Jari W.)
Sementara itu Co-Founder Malaka Books, Abigail Limuria, mengatakan perayaan tiga tahun berdirinya Malaka menjadi momen penting untuk menegaskan kembali komitmen lembaga ini dalam membangun literasi dan edukasi di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Abigail mengungkap sejumlah pembaruan dan rencana pengembangan Malaka Books. Mulai dari perkembangan perpustakaan digital, rencana penerbitan buku audio (audiobook), kelanjutan program Debat Wibu, hingga peluncuran Jurnal Makan yang Mikir. Berbagai pembaruan tersebut menjadi bagian dari upaya Malaka memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan literasi.
Salah satu pembaruan yang disampaikan adalah perkembangan perpustakaan digital Malaka Books melalui situs malakabooks.id dan aplikasi yang tersedia di App Store serta Play Store. Menurut Abigail, platform tersebut telah memiliki sekitar 55.000 pembaca. Buku-buku yang diterbitkan dalam format digital umumnya dirancang lebih ringkas, dengan panjang sekitar 20–30 halaman, agar lebih mudah diakses oleh pembaca di tengah perubahan kebiasaan konsumsi informasi.
Abigail menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan di balik format tersebut adalah semakin pendeknya rentang perhatian masyarakat. Ia menyebut angka 47 detik sebagai gambaran rentang perhatian rata-rata yang dibahas dalam presentasi tersebut. Meski demikian, data penggunaan Malaka Books menunjukkan bahwa pembaca dapat menghabiskan waktu lebih lama untuk membaca.
“Dari data perpustakaan digitalnya Malaka Books dengan 55.000 pembaca tadi, ternyata rata-rata bisa menghabiskan 8 menit,” kata Abigail.
Ia menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap memiliki minat untuk membaca dan mempelajari sesuatu apabila materi disajikan dengan cara yang sesuai. Bahkan, lebih dari separuh pembaca Malaka Books Digital Library disebut berhasil menamatkan buku yang mereka baca.
“Jangan bilang ya, orang Indonesia nggak ada yang suka baca buku. Padahal sebenarnya enggak. Bisa kok, mereka itu suka buku kalau mereka baca,” ujarnya.
Untuk meningkatkan pengalaman membaca, Malaka Books juga menghadirkan fitur berbagi kutipan buku ke Instagram Story maupun media sosial lainnya. Selain itu, tersedia fitur membaca bilingual yang memungkinkan pengguna mempelajari bahasa lain, seperti bahasa Inggris, Jepang, Korea, dan Jerman, melalui buku-buku yang tersedia di platform tersebut.
Malaka Books juga tengah menyiapkan sejumlah buku dalam format audio. Inisiatif ini diharapkan dapat memberi alternatif bagi pembaca yang ingin mengakses pengetahuan sambil melakukan aktivitas lain. Dalam sesi tersebut, Abigail dan Kania turut membahas kemungkinan menghadirkan sejumlah pengisi suara untuk membacakan buku-buku terbitan Malaka Books.