Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6.000 Bencana per Tahun, BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Melalui Pendidikan

3 min read
6.000 Bencana per Tahun, BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Melalui Pendidikan
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)
  • BNPB mencatat Indonesia menghadapi 15–20 bencana per hari yang ditangani lintas pihak, dengan total tahunan termasuk penanganan daerah mencapai 5.000–6.000 kejadian.

  • Kesiapsiagaan perlu menjadi pembelajaran berkelanjutan karena bencana geologi tidak dapat dihentikan; pengurangan risiko bergantung pada bangunan tahan gempa dan kesiapan manusia.

  • BNPB mendorong SPAB melalui sekolah tahan bencana, SOP evakuasi jelas, serta pendidikan dan simulasi rutin agar peserta didik mampu merespons peringatan dini dengan tenang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan pendidikan, sebagai langkah krusial dalam menekan risiko dampak bencana geologi, seperti gempa bumi, megathrust, dan letusan gunung api.

BNPB mencatat dalam tiga tahun terakhir, setidaknya 15 hingga 20 kali kejadian bencana setiap hari, yang membutuhkan dukungan penanganan langsung dari pemerintah pusat, daerah dan lintas sektor lembaga lainnya. Apabila diakumulasikan secara keseluruhan bersama penanganan mandiri oleh pemerintah daerah, total kejadian bencana di Indonesia mencapai 5.000 hingga 6.000 kejadian dalam setahun.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, saat memberikan sambutan sekaligus membuka Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten" yang digelar Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026).

  1. 1. Catatan historis kebencanaan Indonesia perlu diatasi dengan pembelajaran mitigasi keberlanjutan

    6.000 Bencana per Tahun, BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Melalui Pendidikan
    Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)

    Abdul Muhari mengungkapkan catatan historis kebencanaan Indonesia menunjukkan tingginya frekuensi ancaman bencana setiap tahunnya. Untuk mengatasi tingginya potensi risiko bencana tersebut, ia menekankan, mitigasi dan kesiapsiagaan tidak boleh dianggap sebagai agenda sekilas, melainkan sebuah proses pembelajaran berkelanjutan sepanjang hidup.

    Bencana alam seperti aktivitas vulkanik maupun pergerakan lempeng tektonik, kata Muhari, merupakan dinamika alam yang tidak bisa dihentikan manusia, sehingga fokus utama penanggulangan bencana terletak pada upaya pengurangan dampak risiko bagi keselamatan jiwa manusia.

    "Kejadian bencananya sendiri tidak bisa kita hentikan. Gunung Krakatau butuh meletus agar tubuhnya tumbuh, dan gempa bumi terjadi demi menjaga stabilitas kerak bumi. Namun, yang wajib kita lakukan sebagai manusia adalah mengurangi dampak risikonya. Karena itu, kunci utamanya terletak pada pembangunan infrastruktur gedung yang tahan gempa serta kesiapan manusianya," ucap dia.

  2. 2. Tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)

    6.000 Bencana per Tahun, BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Melalui Pendidikan
    Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)

    Pada diskusi tersebut, BNPB turut menekankan tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pertama, ketersediaan fasilitas sekolah tahan bencana. Kedua, regulasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi yang jelas. Ketiga, integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

    Muhari mencontohkan gempa Yogyakarta pada 2006 yang memakan korban jiwa lebih dari 6.000 orang itu, hanya dalam guncangan berdurasi 5,3 detik. Singkatnya durasi guncangan gempa membuktikan keselamatan masyarakat sangat bergantung pada ketahanan fisik struktur bangunan, dan kecepatan simulasi evakuasi yang telah terlatih secara naluriah.

  3. 3. Pentingnya membangun budaya simulasi evakuasi berkala tanpa panik

    6.000 Bencana per Tahun, BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Melalui Pendidikan
    Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)

    Mengenai pelatihan simulasi, kata Muhari, BNPB juga menegaskan pentingnya membangun budaya simulasi evakuasi yang dilakukan secara berkala, dan dalam kondisi yang nyaman tanpa kepanikan, terutama bagi peserta didik di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

    Dengan pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, harapannya, siswa mampu membentuk memori jangka panjang (long-term memory), serta dapat berpikir jernih saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya.

    "Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) bertujuan membentuk kemampuan berpikir jernih di tengah situasi sekitar yang panik. Jika simulasi tidak dilatih sejak dini dan secara berkala, manusia cenderung terjebak dalam psikologi massa, dan hanya ikut-ikutan berlari ke mana orang banyak pergi tanpa tahu apakah arah tersebut aman atau tidak," kata dia.

    Muhari menegaskan edukasi kebencanaan tidak perlu kurikulum khusus yang rumit, melainkan bisa disisipkan langsung dalam mata pelajaran sehari-hari seperti fisika, matematika, hingga agama.

    Perlu diketahui, pelaksanaan agenda ini menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026 yang diselenggarakan BNPB, atas sinergi dengan Pemerintah Provinsi Banten.

    Acara ini melibatkan kolaborasi lintas sektor ini, yang diharapkan seluruh sekolah dan lembaga pendidikan di Banten dan wilayah rawan bencana lainnya, dapat segera memperkuat penerapan SPAB serta SOP evakuasi mandiri, demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh menghadapi bencana dan keadaan darurat.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More