Proses evakuasi bangkai gerbong KRL perempuan yang mengalami kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek masih berlangsung hingga Selasa (28/4/2026) sore. (IDN Times/Pitoko)
Sebelum peristiwa kecelakaan itu, Harum juga beberapa kali menyampaikan kepada Sri bahwa dirinya ingin pulang ke Cipayung.
“Dia sebelum meninggal dia minta pulang. ‘Aku mau pulang ke rumah Mama, aku mau pulang.’ Itu tandanya dia, ya, itu, ya, akhirnya pulang,” ujar Sri.
Selain kepada ibunya, Harum sudah menyampaikan pesan yang sama kepada sejumlah temannya.
“Kalau sama teman-temannya malah ngomong, ‘Aku mau pulang, sudah capek.’ Capek apa aku gak tahu, aku tahunya pas dari teman-temannya, dia sama teman-temannya begitu juga bilang, ‘Mau pulang ke rumah Mama, ah, capek,’ gitu. Eh, dia pulangnya selamanya,” kata Sri.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur, bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampak peristiwa itu, petugas lalu memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur. Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.
Harum menjadi salah satu dari 16 orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.