Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perjalanan Terakhir Harum: Akhirnya Pulang ke Rumah Ayah, Kamu, Mbak!
Ayah mendiang Harum Anjarsari (30) di TPU Cipayung (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Harum Anjarsari (30) menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur, setelah keluarga melakukan pencarian ke berbagai rumah sakit dan akhirnya mendapat kabar resmi dari RS Polri.
  • Sebelum meninggal, Harum sempat meminta ibunya merapikan rumah menjelang Lebaran dan memberikan uang untuk perbaikan, menjadi kenangan terakhir bagi keluarga sebelum kepergiannya.
  • Beberapa hari sebelum kecelakaan, Harum sering mengungkapkan keinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Cipayung, yang kemudian dianggap sebagai pertanda sebelum ia berpulang selamanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Seminggu mau Lebaran

Harum memberikan uang kepada ibunya, Sri Lestari, untuk merapikan rumah sebelum Lebaran dan meminta agar pekerjaan selesai tepat waktu.

Senin (27/4/2026) malam

Kecelakaan kereta terjadi di Bekasi Timur. Harum Anjarsari menjadi salah satu penumpang yang terlibat dalam insiden tersebut.

Sekitar pukul 22.00 WIB

Sri Lestari menerima telepon dari menantunya, Radit, yang memberi tahu bahwa Harum berada di gerbong yang mengalami kecelakaan.

Rabu (29/4/2026)

Di rumah duka Cipayung, keluarga menerima banyak pelayat setelah nama Harum muncul dalam daftar korban meninggal dunia di tayangan berita.

kini

Sri Lestari mengenang putrinya dengan penuh duka dan menyebut bahwa keinginan Harum untuk pulang akhirnya terwujud secara tragis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kecelakaan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Perjalanan Luar Biasa 5568, menyebabkan 16 orang meninggal dunia termasuk Harum Anjarsari.
  • Who?
    Korban bernama Harum Anjarsari (30), bersama 15 korban lainnya. Keluarga korban antara lain Sri Lestari (ibu) dan Radit (suami). Petugas Kementerian Perhubungan turut menangani evakuasi dan pemeriksaan.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di area Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Proses identifikasi korban dilakukan di Rumah Sakit Polri, sedangkan keluarga berkumpul di rumah duka di Cipayung, Jakarta Timur.
  • When?
    Kecelakaan berlangsung pada Senin malam, 27 April 2026 sekitar pukul 22.00 WIB. Proses evakuasi dan identifikasi berlanjut hingga Rabu, 29 April 2026.
  • Why?
    Berdasarkan keterangan resmi, insiden bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85 sehingga mengakibatkan gangguan perjalanan dan tabrakan lanjutan dengan KA Argo Bromo Anggrek.
  • How?
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kecelakaan kereta di Bekasi. Seorang ibu namanya Sri sedih sekali karena anaknya, Mbak Harum, meninggal di sana. Suami Harum dan ayahnya pergi ke rumah sakit untuk cari dia. Banyak tetangga datang bilang turut sedih. Dulu Harum sempat minta rumah dirapikan dan ingin pulang ke rumah Mama. Sekarang dia pulang selamanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah duka mendalam, kisah keluarga Sri Lestari memperlihatkan kekuatan cinta dan kebersamaan yang tulus. Upaya tanpa henti sang suami dan menantu mencari Harum menunjukkan kasih sayang yang besar, sementara perhatian terakhir Harum untuk merapikan rumah sebelum Lebaran menjadi kenangan hangat tentang kepeduliannya terhadap keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sri Lestari (58) duduk lemas di kursi plastik di depan rumahnya. Dia berusaha tegar mengenang anak pertamanya, Harum Anjarsari (30) yang meninggal dunia dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Sri pada malam peristiwa ditelepon oleh suami Harum, Radit (36) sekitar pukul 22.00 WIB.

“‘Ma, Arum ada di gerbong yang kecelakaan itu. 'Terus gimana? Gimana akhirnya?' kata aku. ‘Belum, ada kabarnya Ma, aku sudah nyebar anak buah aku sama teman-teman ke semua rumah sakit, dan aku nungguin di tempat evakuasi sampai kelar semua dievakuasi,” kata Sri menirukan percakapannya dengan sang menantu, di rumah duka, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026).

1. Keluarga mendapatkan kabar Harum masuk dalam daftar korban meninggal dunia

Sri Lestari (58), ibu korban kecelakaan kereta Bekasi, Harum Anjarsari (30) di rumah duka, Cipayung, Jakarta Timur (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Pencarian Harum dilakukan ke semua rumah sakit, tempat para korban dievakuasi, tetapi keluarga tidak menemukan Harum. Sampai pada akhirnya, keluarga mendapatkan kabar bahwa ada beberapa korban yang dibawa ke Rumah Sakit Polri.

Sang ayah bersama suami Harum bergegas ke RS Polri. Mereka diminta untuk memberikan data dan menjalankan sejumlah rangkaian pemeriksaan forensik.

Hingga berganti hari, para tetangga berbondong-bondong mendatangi rumah Sri. Mereka menyampaikan duka cita setelah mendapatkan informasi dari tayangan berita bahwa terdapat nama Harum dalam dalam daftar 10 korban meninggal dunia.

“Aku telepon suamiku, aku bilang, ‘Ayah, Mbak Arum sudah gak ada.' ‘Mama tahu dari mana? Di sini belum ada diumumin.’ ‘Ini tetangga sudah ada namanya Harum di TV’. Suamiku nangis, dia (Harum) kan minta pulang pulang mulu, 'Akhirnya pulang juga ke rumah ayah, kamu Mbak,” kata Sri menirukan ucapan ayah Harum.

2. Harum minta orangtua merapikan rumah

Makam Harum Anjarsari (30) di TPU Cipayung, Jakarta Timur. (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sri mengaku sangat dekat dengan Harum, meski sudah tidak tinggal satu atap karena kini Harum harus menemani sang suami. Sesekali dia pulang ke Cipayung, Jakarta Timur untuk mengajak orangtua dan adiknya makan di luar.

Kenangan terakhir, Harum memberikan sejumlah uang kepada sang ibu untuk merapikan rumah sebelum Lebaran.

“Seminggu mau Lebaran dia minta dirapiin rumah ini. Kita gak tahu kalau tanda-tanda mau ada gini kan. ‘Mama rapiin, Ma, seminggu lagi mau Lebaran, harus keburu.’ Suamiku kan tukang, jadi ngerjain sendiri. Rapi benar, rapi,” kata Sri.

3. Pulang selamanya

Proses evakuasi bangkai gerbong KRL perempuan yang mengalami kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek masih berlangsung hingga Selasa (28/4/2026) sore. (IDN Times/Pitoko)

Sebelum peristiwa kecelakaan itu, Harum juga beberapa kali menyampaikan kepada Sri bahwa dirinya ingin pulang ke Cipayung.

“Dia sebelum meninggal dia minta pulang. ‘Aku mau pulang ke rumah Mama, aku mau pulang.’ Itu tandanya dia, ya, itu, ya, akhirnya pulang,” ujar Sri.

Selain kepada ibunya, Harum sudah menyampaikan pesan yang sama kepada sejumlah temannya.

“Kalau sama teman-temannya malah ngomong, ‘Aku mau pulang, sudah capek.’ Capek apa aku gak tahu, aku tahunya pas dari teman-temannya, dia sama teman-temannya begitu juga bilang, ‘Mau pulang ke rumah Mama, ah, capek,’ gitu. Eh, dia pulangnya selamanya,” kata Sri.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur, bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.

Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.

Sebagai dampak peristiwa itu, petugas lalu memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur. Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.

Harum menjadi salah satu dari 16 orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.

Editorial Team