Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Analis Militer: Rudal BrahMos India akan Ditempatkan di Pinggir Pantai RI
Ilustrasi Rudal BrahMos yang dibeli Indonesia dari India. (www.brahmos.com)
  • Indonesia sepakat membeli rudal jelajah supersonik BrahMos dari India, namun jumlah unit, nilai kontrak, dan jadwal pengiriman belum diumumkan secara resmi oleh Kementerian Pertahanan.
  • Rudal BrahMos direncanakan ditempatkan di area pinggir pantai seperti Selat Sunda atau Selat Lombok untuk memperkuat strategi pertahanan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) Indonesia.
  • Pembiayaan pembelian rudal kemungkinan menggunakan pinjaman luar negeri, sementara BrahMos sendiri merupakan hasil kerja sama pengembangan antara India dan Rusia dengan kecepatan hingga Mach 3.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Indonesia mau beli rudal cepat dari India namanya BrahMos. Rudal itu dibuat India sama Rusia dan bisa terbang sangat kencang. Katanya nanti rudalnya mau ditaruh di pinggir pantai biar jaga laut. Tapi belum tahu beli berapa dan kapan datangnya. Uangnya juga masih diurus, mungkin pakai pinjaman dari luar negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Rencana pembelian rudal BrahMos menunjukkan langkah serius Indonesia dalam memperkuat pertahanan pantai melalui kerja sama strategis dengan India. Proses yang hati-hati dan transparan mencerminkan kehati‑hatian pemerintah dalam memastikan kesiapan anggaran serta efektivitas sistem yang akan digunakan. Dengan teknologi presisi tinggi dan kecepatan supersonik, proyek ini menandakan kemajuan penting dalam modernisasi alutsista nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Salah satu kesepakatan penting yang diteken saat kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta yakni Indonesia sepakat membeli rudal jelajah supersonik BrahMos. Namun, hingga kini belum terungkap berapa unit rudal yang disepakati Kementerian Pertahanan untuk dibeli dari India.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait mengatakan, jumlah unit, nilai kontrak maupun jadwal pengiriman bersifat kontraktual yang tak dapat dipublikasikan secara terbuka.

"Saat ini prosesnya masih terkait dengan ketersediaan anggaran dan mekanisme lebih lanjut. Nanti, akan kami kabari bila akan tiba," ungkap Rico ketika dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).

Jenderal bintang satu itu mengatakan, rencana untuk mengakuisisi rudal BrahMos sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, pada 2024 telah dilakukan kesepahaman minat di antara kerangka kerja sama antara Indonesia dan India.

"Pada tahun 2024, telah dilakukan kesepahaman minat atau expression of interest di dalam kerangka kerja sama pertahanan antara Indonesia dan India," tutur dia.

Sementara, analis militer dari lembaga riset Semar Sentinel, Alman Helvas Ali mengatakan, Indonesia belum menetapkan unit pembelian rudal BrahMos. Dokumen yang diteken di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi, baru sebatas seremoni.

"Yang kemarin itu baru seremonial. Artinya, kontrak pengadaannya belum tanda tangan," ungkap Alman ketika dihubungi IDN Times melalui telepon pada Kamis, 9 Juli 2026.

Alasan kontrak pengadaan rudal supersonik itu belum diteken, katanya, lantaran Indonesia belum memutuskan mau membeli berapa banyak baterai untuk dipakai di dalam rudal tersebut. Di dalam sistem pertahanan rudal dibutuhkan beberapa baterai.

"Di dalam kontrak yang diteken harus dijelaskan dengan detail berapa banyak baterai yang ikut dibeli," imbuhnya.

1. Rudal BrahMos rencananya bakal ditempatkan di area pinggir pantai

Joint press statement Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Lebih lanjut kata Alman, BrahMos menjadi rudal pertama yang dibeli Indonesia untuk pertahanan di pantai. "Rencananya ini akan ditempatkan di area atau pinggir pantai. Bisa ditempatkan di choke point seperti Selat Sunda atau Selat Lombok," katanya.

Choke point merupakan jalur sempit strategis yang menghubungkan dua area yang lebih besar dan sangat menentukan kelancaran arus transportasi, perdagangan atau militer. Menurut Alman, titik choke point sudah disadari sejak lama oleh TNI Angkatan Laut (AL). Tetapi, jadi semakin mendesak setelah serangan militer terjadi di Selat Hormuz, Iran.

"Ketika Selat Hormuz dicekik sama Iran, kan semua terpengaruh. Nah, kita juga bisa memainkan peran itu kalau ada apa-apa," tutur dia.

Salah satu strategi yang dapat diterapkan, kata Alman, yakni Anti-Access/Anti Denial (A2/AD). Itu merupakan taktik untuk menghalangi musuh masuk ke suatu wilayah dan membatasi gerak musuh di dalam wilayah tersebut. Taktik itu dapat dijalankan menggunakan pertahanan udara, rudal jarak jauh dan kapal perang.

2. Pembelian alutsista rudal BrahMos akan menggunakan utang

Ilustrasi Rudal BrahMos yang dibeli Indonesia dari India. (www.brahmos.com)

Alman menduga kuat pembiayaan untuk pembelian rudal BrahMos bakal menggunakan pinjaman luar negeri. Namun, skema pendanaan yang digunakan belum diketahui.

"Skema (pembiayaannya) apakah menggunakan lembaga penjamin kredit ekspor (LPKE) atau kredit komersil. Kredit komersial biasanya memberikan bungka 8 hingga 9 persen per tahun," kata Alman.

Alternatif lain pinjaman diberikan langsung oleh Pemerintah India. Tetapi, ia mengaku belum mengetahui apakah India bakal memberikan pinjaman kredit.

"Tapi, kelihatannya ini akan menggunakan skema pembiayaan kredit komersial atau bank tanpa ada penjamin," tutur dia.

Sementara, bila pembiayaan pembelian rudal BrahMos menggunakan LPKE artinya kredit itu dijamin oleh negara penjual alutsista. "Kalau kredit ekspor, bunga yang dikenakan maksimal 3 persen per tahun," katanya.

3. Rudal BrahMos dikembangkan bersama-sama India dan Rusia

Ilustrasi Rudal BrahMos yang dibeli Indonesia dari India. (www.brahmos.com)

Sementara, nama BrahMos sendiri diambil dari Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskva di Rusia. Kedua negara itu mengembangkan rudal supersonik lewat kerja sama.

Sistem rudal jelajah supersonik ini dirancang sebagai senjata dengan tingkat kepresisian yang tinggi untuk menyerang target baik di darat maupun laut. Salah satu keunggulan rudal BrahMos ini memiliki kecepatan yang mencapai sekitar Mach 2,8 hingga Mach 3 atau hampir tiga kali lipat kecepatan suara. Kecepatan tinggi yang ada pada rudal BrahMos membuat rudal supersonik ini sulit dicegah oleh sistem pertahanan udara.

Selain presisi dan cepat, rudal BrahMos memiliki jangkauan yang jauh. Varian standar BrahMos dapat menjangkau target sekitar 300 hingga 500 kilometer. Sedangkan varian ekspor biasanya jangkauannya dibatasi menjadi 290 kilometer, sebagaimana aturan pengendalian teknologi rudal internasional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article