Jakarta, IDN Times - Salah satu kesepakatan penting yang diteken saat kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta yakni Indonesia sepakat membeli rudal jelajah supersonik BrahMos. Namun, hingga kini belum terungkap berapa unit rudal yang disepakati Kementerian Pertahanan untuk dibeli dari India.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait mengatakan, jumlah unit, nilai kontrak maupun jadwal pengiriman bersifat kontraktual yang tak dapat dipublikasikan secara terbuka.
"Saat ini prosesnya masih terkait dengan ketersediaan anggaran dan mekanisme lebih lanjut. Nanti, akan kami kabari bila akan tiba," ungkap Rico ketika dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Jenderal bintang satu itu mengatakan, rencana untuk mengakuisisi rudal BrahMos sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, pada 2024 telah dilakukan kesepahaman minat di antara kerangka kerja sama antara Indonesia dan India.
"Pada tahun 2024, telah dilakukan kesepahaman minat atau expression of interest di dalam kerangka kerja sama pertahanan antara Indonesia dan India," tutur dia.
Sementara, analis militer dari lembaga riset Semar Sentinel, Alman Helvas Ali mengatakan, Indonesia belum menetapkan unit pembelian rudal BrahMos. Dokumen yang diteken di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi, baru sebatas seremoni.
"Yang kemarin itu baru seremonial. Artinya, kontrak pengadaannya belum tanda tangan," ungkap Alman ketika dihubungi IDN Times melalui telepon pada Kamis, 9 Juli 2026.
Alasan kontrak pengadaan rudal supersonik itu belum diteken, katanya, lantaran Indonesia belum memutuskan mau membeli berapa banyak baterai untuk dipakai di dalam rudal tersebut. Di dalam sistem pertahanan rudal dibutuhkan beberapa baterai.
"Di dalam kontrak yang diteken harus dijelaskan dengan detail berapa banyak baterai yang ikut dibeli," imbuhnya.
