Wabah Demam Babi Afrika, Serbia Musnahkan 11 Ribu Ekor Ternak

- Pemerintah Serbia memusnahkan 11 ribu babi di Desa Hrtkovci setelah terkonfirmasi wabah demam babi Afrika, sebagai langkah darurat mencegah penyebaran virus ke peternakan lain.
- Kebijakan pemusnahan menyebabkan kerugian lebih dari 1,5 juta euro bagi peternak, dan pemerintah menyiapkan skema ganti rugi dengan larangan beternak kembali selama enam hingga dua belas bulan.
- Wabah masih aktif di wilayah barat Serbia dekat Bosnia dan Kroasia, sehingga otoritas menyerukan peningkatan biosekuriti karena belum ada vaksin efektif meski virus tidak berbahaya bagi manusia.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Serbia mengambil langkah cepat untuk mengendalikan penyebaran penyakit demam babi Afrika di wilayah barat negara tersebut pada Kamis (9/7/2026). Langkah darurat ini diterapkan setelah virus terkonfirmasi menyerang sebuah fasilitas peternakan lokal.
Otoritas terkait segera mensterilisasi area terdampak agar virus tidak meluas ke wilayah sekitarnya. Selain itu, pemerintah telah menyiapkan skema bantuan keuangan bagi para peternak yang merugi akibat kebijakan ini.
1. Pemusnahan massal populasi babi di Desa Hrtkovci
Otoritas peternakan Serbia mulai memusnahkan 11 ribu ekor babi di sebuah peternakan besar di Desa Hrtkovci, Kotamadya Ruma. Keputusan ini diambil setelah hasil uji laboratorium memastikan adanya penularan virus demam babi Afrika di Peternakan Mistral yang menjadi pusat penyebaran.
Petugas kesehatan menerapkan metode pemusnahan yang aman agar sesuai dengan standar kebersihan internasional. Proses penanggulangan penyakit menular ini diperkirakan berlangsung selama beberapa hari ke depan demi memastikan seluruh wilayah kembali steril.
"Pemusnahan 11 ribu babi ini terpaksa dilakukan untuk mencegah penularan virus ke puluhan peternakan lainnya," kata Menteri Pertanian Serbia, Dragan Glamocic.
2. Skema ganti rugi bagi peternak
Kebijakan pemusnahan ternak ini menimbulkan dampak finansial yang besar bagi pemilik usaha. Kerugian ekonomi langsung akibat pemusnahan babi di peternakan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 juta euro (Rp31 miliar).
Sebagian besar hewan yang dimusnahkan merupakan induk babi pembibitan berkualitas tinggi. Kondisi ini mengganggu keberlangsungan industri peternakan lokal, rantai pasokan produk daging, serta mata pencaharian para pekerja di sektor pertanian.
"Pemerintah akan mengganti rugi kerusakan yang dialami pemilik peternakan. Namun, mereka belum boleh memelihara babi baru lagi selama enam bulan hingga satu tahun ke depan," kata Glamocic, dilansir Vijesti.
3. Penyebaran virus demam babi Afrika di wilayah perbatasan
Wabah demam babi Afrika dilaporkan masih aktif di beberapa kawasan barat Serbia yang berbatasan langsung dengan Bosnia dan Kroasia. Otoritas veteriner mencatat ribuan babi telah dimusnahkan dalam dua bulan terakhir di Distrik Macva dan Srem.
"Virus ini menyebar di banyak tempat, terutama di Distrik Srem dan Macva karena kedua wilayah tersebut memiliki populasi babi paling padat," ujar Glamocic.
Mengingat belum ada vaksin yang efektif untuk virus ini di Eropa, pemerintah mengimbau para peternak untuk memperketat keamanan hayati (biosekuriti) kandang. Meski menular cepat di antara hewan, masyarakat diimbau tidak panik karena virus ini tidak membahayakan kesehatan manusia.




















