Rusia Bakal Perluas Zona Penyangga, Antisipasi Serangan Ukraina?

- Rusia berencana memperluas zona penyangga di Ukraina sebagai respons atas serangan udara Kyiv terhadap infrastruktur minyak di wilayah Rusia.
- Kremlin menegaskan akan melanjutkan operasi militer khusus karena Ukraina dinilai belum menunjukkan niat untuk berdamai, meski ada saran gencatan senjata.
- Pihak Ukraina menyebut serangan besar Rusia pada 2026 gagal mencapai target, sementara pasukan Kyiv berhasil mempertahankan inisiatif dalam operasi ofensifnya.
Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Jumat (10/7/2026), mengatakan bahwa Rusia akan mengekspansi zona penyangga di Ukraina. Langkah ini sebagai respons atas serangan udara Ukraina yang menyasar sejumlah infrastruktur minyak di Rusia.
Sebelumnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengakui bahwa Rusia menghadapi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Moskow bahkan sudah bekerja sama dengan Gazprom untuk merekrut komponen cadangan untuk mengamankan fasilitas energi.
1. Pilih memilih menambah zona penyangga daripada negosiasi damai

Peskov mengatakan, Rusia lebih memilih memperluas zona penyangga daripada melanjutkan negosiasi damai lewat jalur diplomatik. Ia menekankan, Moskow akan terus mengekspansi wilayahnya di Ukraina bagian timur.
“Semakin Kiev berusaha mengeskalasi serangan di Rusia, maka kami akan terus mengekspansi zona keamanan yang lebih luas, zona penyangga ini,” terangnya, dikutip dari The Moscow Times.
Ia menekankan bahwa zona penyangga harus dibentuk di teritori yang berbatasan langsung dengan Rusia. Peskov menyebut, teritori tersebut dalam sejarahnya milik Rusia.
2. Rusia akan lanjutkan operasi militer khusus di Ukraina

Peskov mengungkapkan, posisi Putin tidak berubah hingga saat ini. Menurutnya, Rusia akan terus melanjutkan operasi militer khusus karena Ukraina tidak menunjukkan keinginan untuk berdamai.
Berdasarkan kabar dari orang yang dekat dengan Kremlin, Putin menolak nasehat untuk menyetujui gencatan senjata dan memilih terus berperang. Sementara, salah satu sumber menyebut bahwa terdapat kemungkinan eskalasi memuncak dalam beberapa bulan ke depan.
3. Ukraina sebut serangan terbaru Rusia telah gagal

Kepala Komano Militer Ukraina, Oleksandr Syrsky mengatakan bahwa serangan skala besar Rusia pada 2026 telah gagal. Menurutnya, Moskow telah gagal mencapai tujuannya meskipun unggul jumlah pasukan dan punya perlengkapan yang lebih lengkap.
“Musuh berupaya meluncurkan serangan ofensif skala besar, tapi faktanya mereka gagal mencapai tujuannya. Meskipun mereka memiliki jumlah pasukan dan peralatan tempur dua kali lipat dibanding milik kami,” tuturnya, dilansir dari Kyiv Post.
Syrsky menyampaikan, pasukan Ukraina tidak hanya mengadakan operasi pertahanan. Namun, juga meluncurkan serangan ofensif dan sukses mempertahankan inisiatif dalam operasi tersebut.






















