Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Analisis AI Soroti Belanja Komdigi Rp135 Juta buat Aquarium
Ilustrasi uang rupiah. (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)
  • Abil Sudarman, peneliti AI, menyoroti pengadaan di Komdigi yang dianggap janggal sepanjang 2026 berdasarkan analisis data pengadaan pemerintah.
  • Ia menemukan anggaran pemeliharaan akuarium senilai Rp135 juta dan penyewaan tanaman hias Rp1,1 miliar di lantai tujuh kantor Komdigi yang dinilai tidak wajar.
  • Sebelumnya, Abil juga mengkritik proses rekrutmen Komdigi melalui Google Drive karena berpotensi membocorkan data pribadi pelamar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang namanya Kak Abil. Dia pakai komputer pintar buat lihat uang belanja kantor Komdigi. Dia kaget karena ada biaya besar buat rawat akuarium di lantai tujuh, sampai seratus tiga puluh lima juta rupiah. Ada juga uang banyak banget buat sewa tanaman hias. Sekarang banyak orang jadi heran kenapa biayanya mahal sekali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Seorang peneliti kecerdasan buatan sekaligus kreator konten, Abil Sudarman, menyoroti praktik pengadaan di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang dinilainya janggal sepanjang 2026. Melalui analisis berbasis AI yang ia lakukan terhadap data pengadaan instansi pemerintah, Abil menyebut, Komdigi sebagai salah satu kementerian dengan pola belanja yang patut dipertanyakan.

“Pengadaan teraneh yang gue lihat tahun ini dimenangkan lagi oleh Komdigi. Kalau kemarin loker aneh, sekarang pengadaan teraneh,” kata Abil dikutip dari unggahannya di Instagram, dikutip Senin (20/4/2026).

1. Anggaran pemeliharaan akuarium

komdigi

Salah satu temuan yang dia soroti adalah anggaran pemeliharaan akuarium di kantor Komdigi, khususnya di lantai tujuh. Nilainya mencapai Rp135 juta. Abil mempertanyakan rasionalitas biaya tersebut, mengingat fungsi dan urgensinya tidak dijelaskan secara rinci dalam data yang ia telaah.

“Sini kita lihat. Pengadaan yang ditandai absurd di Komdigi. Coba kita lihat, pemeliharaan akuarium lantai 7, akuarium apa ini Rp135 juta,” ujarnya.

Dia juga mengaitkan lokasi tersebut dengan area kerja pimpinan kementerian. Dia juga mempertanyakan komponen biaya yang membuat pemeliharaan tersebut membengkak.

“Jadi ikan apa yang hidup di akuarium ini? Kenapa bisa sampai Rp150 juta ya biaya pemeliharaannya? Mahal sekali,” katanya.

2. Pemeliharaan tanaman hias yang disewa

Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). (IDN Times/Yovita Arnelia)

Tidak hanya itu, ia juga menyoroti anggaran penyewaan tanaman hias di lokasi yang sama, yang nilainya mencapai Rp1,1 miliar. Menurutnya, angka tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan yang tampak di permukaan.

“Sewa tanaman hias di lantai 7. Ada apa sih di lantai 7 Komdigi ini? Rp1,1 miliar di ruang menteri dan ruang Pak Wamen. Rp1 miliar buat sewa tanaman hias, buat apaan itu?” ujar Abil.

“Di ruangan kerja sama di rumah dinas loh. Rp1 miliar sewanya. Nyembuhin kanker, tapi gak boleh dimakan ya. Kalau sewa ya. Gak boleh ya,” ujar Abil.

3. Sebelumnya kritisi masalah rekrutmen lewat Google Drive

Kantor Komdigi (IDN Times/Lia Hutasoit)

Selain pengadaan, Abil sebelumnya juga menyoroti proses rekrutmen di Komdigi yang dinilainya bermasalah, dan mengkritisi mekanisme pendaftaran lowongan melalui Google Drive, yang memungkinkan data pribadi pelamar diakses secara terbuka.

“Penghargaan loker paling aneh di 2026 gue berikan kepada Komdigi. Ini lowongan pengadaan jasa lainnya perorangan di Komdigi. Tapi dia bisa kerja, tapi kayaknya dia gak PNS,” kata dia.

Abil menjelaskan pelamar diminta mengunggah dokumen penting seperti KTP, ijazah, hingga riwayat pekerjaan ke folder yang tidak memiliki sistem pembatasan akses.

"Masalahnya adalah semua pelamar kelihatan di Google Drive ini. Semua. Foldernya kelihatan nih nama-namanya,” ujarnya.

Editorial Team