Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan periode 2026/2027 akan didominasi pada bulan Januari hingga Februari. Bersama dengan ini, awal musim hujan diperkirakan akan mengalami keterlambatan dari rerata biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.
Hal ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang sangat kuat dan IOD positif. Khususnya di Pulau Jawa, periode puncak musim hujan tidak terjadi secara serentak, melainkan bergeser dan didominasi pada awal tahun 2027.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63, yang mengindikasikan El Nino sangat kuat. Sementara di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal pada konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Selasa (22/9/2026), yang dilansir bmkg.go.id.
