Jakarta, IDN Times - Deretan orang berpakaian hitam duduk berjajar di hadapan layar bertuliskan “Rapor Merah”. Wajah mereka serius, sebagian menggenggam dokumen, sementara yang lain menatap lurus ke depan.
Pemandangan itu menjadi pembuka kritik Konferensi Republik terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Warna hitam mendominasi pakaian mereka yang tergabung dalam Konferensi Republik. Dalam konferensi tersebut, hitam dimaknai sebagai simbol demokrasi sekaligus gambaran Indonesia gelap, merujuk pada situasi demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang mereka nilai sedang menghadapi persoalan serius.
"Soal baju, saya rasa hitam itu kan sebenarnya simbol demokrasi ya. Simbol demokrasi, tetapi ada maknanya juga. Jadi ini multitafsir, Indonesia kelam," ujar Wakil Ketua Konferensi Republik, Jaleswari Pramodhawardhani, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Konferensi Republik menyampaikan evaluasi tersebut bertajuk “Rapor Merah Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Republik Tidak Sedang Baik-Baik Saja”. Mereka menilai sejumlah persoalan konstitusi, kebebasan sipil, korupsi, hingga penanganan bencana menjadi catatan buruk selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Di barisan depan, sejumlah tokoh dan pegiat masyarakat sipil hadir mengenakan pakaian bernuansa hitam. Mereka ialah Yanwar Nugroho, Bivitri Susanti, Jaleswari Pramodhawardhani, Sudirman Said, Saiful Mujani.
Ada delapan poin utama yang menjadi catatan Konferensi Republik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun terakhir.
