Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Begini Kondisi SD di Medan Usai Direhabilitasi Pascabencana
Pemerintah terus memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana di Sumatera. Salah satunya melalui rehabilitasi SD Negeri 065010 di Jalan Sentosa, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. (dok. Tim Media Satgas PRR)
  • SD Negeri 065010 Medan direhabilitasi dengan anggaran Rp1,2 miliar setelah rusak akibat banjir rob dan hujan deras pada akhir 2025, memulihkan fasilitas belajar bagi 75 siswa.

  • Perbaikan selama tiga bulan mencakup enam kelas, ruang guru, perpustakaan/laboratorium, toilet, listrik, serta lapangan agar pembelajaran, penggunaan proyektor, upacara, dan senam kembali berjalan.

  • Rehabilitasi ini bagian pemulihan 4.922 fasilitas sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat; per 14 Oktober 2026, 51 sekolah di Sumatera Utara telah selesai diperbaiki.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    SD Negeri 065010 di Medan telah direhabilitasi setelah rusak akibat banjir rob dan hujan deras. Perbaikan mencakup ruang kelas, ruang guru, perpustakaan atau laboratorium, toilet, instalasi listrik, serta lapangan sekolah.
  • Who?
    Pemerintah, Kemendikdasmen, Satgas PRR Kementerian Dalam Negeri, guru, dan 75 siswa SD Negeri 065010 terlibat dalam pemulihan serta penggunaan kembali fasilitas sekolah.
  • Where?
    SD Negeri 065010 berada di Jalan Sentosa, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, di kawasan rawa-rawa yang masih menghadapi banjir rob.
  • When?
    Rehabilitasi dimulai pada Mei 2026 dan rampung dalam tiga bulan. Pada 13 Oktober 2026, 75 siswa kembali mengikuti pembelajaran di ruang kelas yang telah diperbaiki.
  • Why?
    Perbaikan dilakukan karena banjir rob dan curah hujan tinggi pada akhir 2025 memasukkan air serta lumpur ke sekolah, merusak bangunan dan mengganggu kegiatan belajar mengajar sekitar satu pekan.
  • How?
    Kemendikdasmen mengalokasikan Rp1,2 miliar untuk memperbaiki delapan ruangan, plafon, lantai, pintu, jendela, toilet, listrik, dan lapangan. Lapangan ditimbun tanah serta dipasangi kembali paving block.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah terus memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana di Sumatera. Salah satunya melalui rehabilitasi SD Negeri 065010 di Jalan Sentosa, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara.

Hingga 14 Oktober 2026, sebanyak 51 sekolah di Sumatera Utara telah selesai direhabilitasi berdasarkan Laporan Kemajuan Fisik (Lapjusik) Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Kementerian Dalam Negeri.

Rehabilitasi SD Negeri 065010 menggunakan anggaran Rp1,2 miliar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Perbaikan yang dilaksanakan mulai Mei 2026 tersebut rampung dalam waktu tiga bulan untuk mengembalikan kelayakan fasilitas belajar bagi 75 siswa.

Perbaikan fasilitas tentu membantu siswa dan guru kembali menjalankan kegiatan pendidikan dengan lebih nyaman. Sementara pemerintah melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah lain di wilayah terdampak bencana.

Upaya ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada keberlanjutan layanan pendidikan bagi masyarakat. Melalui kerja sama pemerintah pusat, kementerian terkait, dan berbagai pihak, pemulihan fasilitas pendidikan di Sumatera terus dilakukan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara lebih layak.

Sekolah ini mengalami kerusakan akibat banjir rob dan tingginya curah hujan pada akhir 2025. Air dan lumpur masuk ke ruang kelas, merusak sejumlah bagian bangunan, serta mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Perbaikan mencakup delapan ruangan, terdiri dari enam ruang kelas, satu ruang guru, serta satu ruang perpustakaan atau laboratorium. Pemerintah memperbaiki plafon yang rusak dan lapuk, memperkuat lantai di empat ruangan yang mengalami kemiringan, serta memperbaiki atau mengganti kusen jendela dan pintu.

Pekerjaan juga meliputi pengecatan ulang dinding dan jeruji jendela, serta perbaikan tiga toilet melalui peninggian lantai, penggantian pintu dan keran air, serta pembaruan plafon. Setelah diperbaiki, ketiga toilet yang sebelumnya hanya satu yang berfungsi dapat kembali digunakan.

Pemulihan turut menyasar lapangan sekolah. Area yang sebelumnya rendah dibongkar dan ditimbun dengan tanah sebelum dipasangi kembali paving block yang masih layak. Pembenahan ini dilakukan agar lapangan tidak mudah tergenang dan dapat kembali dimanfaatkan untuk kegiatan siswa.

1. Siswa kembali belajar dengan lebih nyaman

ilustrasi belajar (pexels.com/picjumbo.com)

Pada Selasa (13/10/2026), kegiatan belajar mengajar berlangsung di SD Negeri 065010. Sebanyak 75 siswa mengikuti pembelajaran di ruang kelas yang telah diperbaiki. Mereka duduk di bangku masing-masing sambil menyimak penjelasan guru.

Kondisi tersebut berbeda dibandingkan situasi setelah banjir rob dan hujan deras pada Desember 2025. Saat itu, air dan lumpur menggenangi lingkungan sekolah. Sejumlah plafon ambruk, dinding ruangan mengalami kerusakan, dan bagian bawah meja serta kursi berkarat akibat terendam air.

Kerusakan juga terjadi pada pintu, kusen, instalasi listrik, lampu, hingga toilet. Kegiatan belajar mengajar bahkan sempat terhenti selama sekitar satu pekan.

Guru kelas 6 SD Negeri 065010, Perawati Banjarnahor (28), mengatakan kerusakan bangunan sebelumnya membuat guru dan siswa khawatir. Kondisi plafon dan lantai membatasi penggunaan sejumlah ruang kelas, bahkan beberapa area terpaksa dikosongkan karena dikhawatirkan membahayakan siswa.

“Lebih nyamanlah, Pak. Dindingnya ini juga kan terkelupas, takutnya berjamur dan jadi penyakit sama anak-anak, tapi sekarang tidak lagi,” ujar Perawati.

Kerusakan instalasi listrik sebelumnya juga membuat guru tidak dapat menggunakan proyektor sebagai media pembelajaran. Kegiatan belajar lebih banyak mengandalkan buku dan papan tulis. Setelah perbaikan selesai, instalasi listrik kembali dapat digunakan sehingga guru bisa memanfaatkan proyektor untuk mendukung pembelajaran.

2. Siswa senang bisa upacara lagi

ilustrasi upacara (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)

Perbaikan lapangan sekolah turut mengembalikan aktivitas siswa di luar kelas. Sebelumnya, genangan air kerap menghambat kegiatan seperti upacara bendera dan senam.

Chelsea Olivia, siswa kelas 6, mengatakan lapangan sekolah dahulu sering tergenang ketika banjir rob datang. Kondisi tersebut membuat siswa kesulitan mengikuti kegiatan bersama di luar kelas. “Sudah bisa upacara setiap Senin,” kata Chelsea.

Siswa kelas 6 lainnya, Adinda Safira, juga merasakan perubahan setelah ruang kelas diperbaiki. Menurutnya, kondisi sekolah yang lebih baik membuat kegiatan belajar terasa lebih nyaman.

“Lebih nyaman saja sih. Terus kalau belajar lebih enak gitu. Kalau dulu kan was-was, sekarang sudah tidak,” ujar Adinda.

Meski bangunan sekolah telah diperbaiki, banjir rob masih menjadi tantangan bagi SD Negeri 065010 yang berada di kawasan rawa-rawa. Rehabilitasi fasilitas membantu memulihkan kelayakan ruang belajar.

Guru kelas 1, Lasmaida Simatupang (54), yang telah mengajar selama 22 tahun di sekolah tersebut, mengatakan jumlah siswa terus menurun sejak 2024, seiring semakin seringnya banjir rob terjadi.

Menurut Lasmaida, jumlah siswa yang dahulu mencapai sekitar 250 orang kini tersisa 75 siswa. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang memiliki usaha tambak ikan.

Ia mengatakan banjir rob yang sebelumnya relatif dapat diprediksi kini semakin sulit diperkirakan dan dapat terjadi hampir setiap minggu. Kondisi itu turut memengaruhi akses masyarakat menuju sekolah dan kenyamanan kegiatan belajar.

Karena itu, perbaikan fasilitas pendidikan menjadi bagian penting dari upaya memulihkan layanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana. Ruang kelas, toilet, instalasi listrik, dan lapangan yang kembali berfungsi membantu sekolah melanjutkan kegiatan pendidikan dalam kondisi yang lebih layak.

3. Bagian dari pemulihan 4.922 fasilitas sekolah

Ilustrasi sekolah (freepik.com/Odua)

Rehabilitasi SD Negeri 065010 merupakan bagian dari upaya pemerintah memulihkan fasilitas pendidikan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Pemerintah telah dan sedang melakukan perbaikan terhadap 4.922 fasilitas sekolah di tiga provinsi tersebut.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengatakan pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah berasal dari anggaran reguler Kemendikdasmen serta tambahan anggaran dari Kementerian Keuangan.

“Beliau (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti) menggunakan anggaran dari reguler ditambah dengan dari Kementerian Keuangan tambahan yang totalnya lebih kurang Rp5 triliunan, dan itu digunakan untuk melakukan rehab dan rekon 4.922 sekolah ke tiga provinsi,” kata Tito.

Pemerintah menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut selesai dalam waktu tiga tahun. Pelaksanaannya diupayakan dapat dipercepat agar kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung dalam kondisi ideal, bukan dalam situasi darurat.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari swakelola hingga kerja sama antarlembaga. Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp100,1 triliun untuk pemulihan pascabencana Sumatera. Anggaran tersebut dialokasikan sebesar Rp38,9 triliun pada 2026, Rp32,9 triliun pada 2027, dan Rp28,2 triliun pada 2028. Pada 2026, fokus pemulihan mencakup infrastruktur prioritas, sekolah, dan hunian.

Berdasarkan Lapjusik Satgas PRR Kementerian Dalam Negeri per 14 Oktober 2026, sebanyak 51 sekolah di Sumatera Utara telah selesai direhabilitasi. Rinciannya meliputi 11 sekolah di Kabupaten Langkat, satu sekolah di Kota Tebing Tinggi, empat sekolah di Kabupaten Tapanuli Utara, 13 sekolah di Kabupaten Tapanuli Tengah, 13 sekolah di Kabupaten Tapanuli Selatan, delapan sekolah di Kabupaten Nias Selatan, dan satu sekolah di Kota Medan. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article