Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Begini Sikap PDIP soal Anies-Rano dan Koalisi dengan PKB di Pilgub DKI
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Jakarta, IDN Times - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) buka suara terkait sikapnya dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta yang akan digelar pada akhir tahun ini.

Sebagaimana diketahui, PDIP belum mengusung kandidat atau berkoalisi dengan partai mana pun, dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta periode 2025-20230.

PDIP menyatakan ada usulan dari akar rumput mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Gubernur Banten, Rano Karno, berpasangan dalam Pilkada DKI Jakarta.

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyampaikan pandangan partai terkait duet Anies-Rano yang dianggap bisa menjadi opsi dukungan PDIP.

"Ya baik-baik saja. Itu aspirasi. Ya kalau kita lihat dengan antusiasme lari, mungkin calon kepala daerah nanti harus bisa lari cepat juga," kata Hasto kepada awak media, selepas mengikuti Soekarno Run, Minggu (18/8/2024).

1. Kemungkinan koalisi PDIP-PKB dalam Pilkada Jakarta

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menemui KH Syukron Makmun jelang Muktamar Bali. (IDN Times/Amir Faisol)

Selain kemungkinan mengusung Anies-Rano, Hasto juga menyampaikan sikap PDIP terkait rumor yang menyebut akan adanya koalisi PDIP dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hasto tidak membantah dan juga tidak mengiyakan terkait koalisi tersebut.

"Ya kita tunggu muktamar dari PKB. PKB juga baru melakukan langkah konsolidasi. PDI Perjuangan menjadi kekuatan yang mendukung pihak-pihak yang berani menentukan nasib bangsa dengan berani mengambil keputusan meskipun ada intimidasi," ujarnya.

2. PDIP bisa mengulangi sejarah politik pada 1997

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memimpin upacara peringatan HUT ke-79 RI di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. (IDN Times/Aryodamar)

Meski begitu, PKB juga masih berpeluang merapat ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus dalam kontestasi Pilkada Jakarta. Jika itu terjadi, Hasto mengisyaratkan, PDIP bisa tidak ikut meramaikan Pilkada Jakarta dan mengulang sejarah yang pernah ada.

"Secara empiris 1997 kami (PDIP) dilarang ikut pemilu, tetapi akhirnya pemilu tidak memiliki legitimasi, dan kemudian pemerintah jatuh oleh gerakan mahasiswa. Siapa yang membendung suara rakyat akan berhadapan dengan kekuatan rakyat. Siapa yang menanam angin akan menuai badai. Itu falsafah yang harus kita yakini. Jangan kerdilkan suara rakyat. Jangan bodohi rakyat. Biarlah mereka dengan kedaulatannya menentukan pemimpinnya," tutur Hasto.

3. PDIP harus berkoalisi dengan partai lain

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memimpin upacara peringatan HUT ke-79 RI di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. (IDN Times/Aryodamar)

Diketahui, PDIP tidak memiliki cukup kursi untuk mengusung calon kepala daerah sendirian. PDIP hanya memperoleh 15 kursi di DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 2024.

Sesuai Undang-Undang Pilkada, partai politik yang akan mencalonkan kandidatnya minimal harus memiliki perwakilan di DPRD 22 kursi.

Oleh karena itu, PDIP harus berkoalisi dengan partai politik lain untuk memenuhi syarat pencalonan tersebut. Sementara, PKB, PKS, dan Partai NasDem yang punya potensi berkoalisi dengan PDIP, disebut-sebut akan merapat ke KIM Plus di Pilkada 2024.

Curated For You

Editorial Team

Related Article