Massa BEM SI menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/9/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu).
Majalah Tempo Interaktif baru-baru ini memuat artikel sebuah operasi disinformasi terkoordinasi yang menargetkan demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus 2025, yang dikenal sebagai Foreign Information Manipulation Interference (FIMI), yang bisa disimpulkan adanya dugaan tuduhan campur tangan asing.
Sejumlah aktor menuduh demonstrasi Agustus 2025 di Indonesia didanai Amerika Serikat, George Soros, National Endowment for Democracy (NED), dan CIA untuk memicu kekacauan atau "revolusi warna" (colour revolution) di Indonesia. Narasi ini muncul meskipun faktanya lembaga seperti USAID dan NED sudah menghentikan operasional atau pendanaannya sejak awal 2025.
Dalam operasi FIMI, tim kolaborasi lembaga di Indonesia mengidentifikasi 251 unggahan di berbagai media sosial dan situs. Sebagian besar menyebar di media sosial X. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya yaitu 122 unggahan, dilontarkan dalam bahasa asing. Mereka teridentifikasi sebagai aktor dari Rusia maupun pendukung Rusia dan China. Sisanya diunggah dalam Bahasa Indonesia.
Operasi ini diduga melibatkan jaringan media Rusia, seperti Sputnik, serta influencer asing pro-Rusia dan pro-China seperti Brian Barletic, S.L. Kanthan, Angelo Giuliano, dan Nury Vittachi. Narasi dari luar negeri ini kemudian diamplifikasi secara masif oleh aktor domestik pro-pemerintah, termasuk akun buzzer dan tokoh lokal, yakni mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dan Rudi Valinka (@Kurawa).
Sementara, pihak-pihak yang menjadi sasaran stigmatisasi sebagai 'agen asing' meliputi media independen seperti Konde.co, Tempo, dan Project Multatuli, serta organisasi masyarakat sipil seperti Lokataru Foundation, ICW, YLBHI, LBH Jakarta, hingga BEM SI. Bahkan, aktivis seperti Delpedro Marhaen dikriminalisasi dan diserang secara digital setelah penangkapannya.