Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BEM SI Buka Suara soal Aliran Dana dari AS-George Soros saat Demo Agustus
Demo BEM SI terkait satu tahun Prabowo-Gibran di kawasan Monas, Jakarta, Senin (20/10/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu)
  • BEM SI menegaskan tidak menerima dana dari Amerika Serikat atau George Soros, dan menyebut seluruh kegiatan aksi dibiayai secara kolektif oleh mahasiswa sendiri.
  • Laporan Tempo mengungkap operasi disinformasi FIMI yang menuduh demonstrasi Agustus 2025 didanai pihak asing, melibatkan aktor pro-Rusia dan pro-China serta amplifikasi oleh akun domestik.
  • Narasi 'revolusi warna' digunakan untuk mendelegitimasi protes masyarakat, menekan partisipasi publik, serta menciptakan ketakutan terhadap media independen dan aktivis di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang bilang anak-anak kampus yang demo bulan Agustus dulu dikasih uang dari luar negeri, dari orang Amerika dan George Soros. Tapi kak Muzammil dari BEM SI bilang itu tidak benar. Katanya uang buat aksi cuma dari patungan mahasiswa sendiri. Sekarang banyak orang masih ngomong soal tuduhan itu di internet, tapi mereka tetap jalan terus berjuang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Muzammil Ihsan, membantah tudingan menerima aliran dana dari negara asing, khususnya Amerika Serikat (AS). Dalam laporan disebutkan dana itu diberikan untuk kepentingan demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025.

"Kita menolak tegas pengklaiman sepihak oleh oknum-oknum yang menyatakan bahwasannya agenda-agenda BEM SI termasuk gerakan aksi yang dilakukan kami, terindikasi adanya pembiayaan dari George Soros atau negara asing," kata dia kepada IDN Times, Selasa (26/5/2026).

1. Operasional berasal dari bantuan kolektif mahasiswa

BEM SI gelar aksi teatrikal saat demo di gerbang utama Gedung DPR RI Jakarta Pusat pada Kamis (4/9/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Muzamil memastikan, aksi yang sering dilakukan BEM SI adalah murni gerakan mahasiswa dan masyarakat, atas ketidakadilan di Indonesia. Ia menyebut operasional gerakan yang dibuat berasal dari bantuan kolektif mahasiswa.

"Agenda dan aksi yang sering kami lakukan murni dari mahasiswa dan masyarakat melihat ketidakadilan di negeri kita. Giat yang selalu kami agendakan berasal dari bantuan kolektif kawan-kawan mahasiswa, sehingga operasional dari aliansi dapat terpenuhi," tutur dia.

2. Tudingan Amerika Serikat, George Soros, NED, dan CIA beri dana untuk memicu kekacauan

Massa BEM SI menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/9/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu).

Majalah Tempo Interaktif baru-baru ini memuat artikel sebuah operasi disinformasi terkoordinasi yang menargetkan demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus 2025, yang dikenal sebagai Foreign Information Manipulation Interference (FIMI), yang bisa disimpulkan adanya dugaan tuduhan campur tangan asing.

Sejumlah aktor menuduh demonstrasi Agustus 2025 di Indonesia didanai Amerika Serikat, George Soros, National Endowment for Democracy (NED), dan CIA untuk memicu kekacauan atau "revolusi warna" (colour revolution) di Indonesia. Narasi ini muncul meskipun faktanya lembaga seperti USAID dan NED sudah menghentikan operasional atau pendanaannya sejak awal 2025.

Dalam operasi FIMI, tim kolaborasi lembaga di Indonesia mengidentifikasi 251 unggahan di berbagai media sosial dan situs. Sebagian besar menyebar di media sosial X. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya yaitu 122 unggahan, dilontarkan dalam bahasa asing. Mereka teridentifikasi sebagai aktor dari Rusia maupun pendukung Rusia dan China. Sisanya diunggah dalam Bahasa Indonesia.

Operasi ini diduga melibatkan jaringan media Rusia, seperti Sputnik, serta influencer asing pro-Rusia dan pro-China seperti Brian Barletic, S.L. Kanthan, Angelo Giuliano, dan Nury Vittachi. Narasi dari luar negeri ini kemudian diamplifikasi secara masif oleh aktor domestik pro-pemerintah, termasuk akun buzzer dan tokoh lokal, yakni mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dan Rudi Valinka (@Kurawa).

Sementara, pihak-pihak yang menjadi sasaran stigmatisasi sebagai 'agen asing' meliputi media independen seperti Konde.co, Tempo, dan Project Multatuli, serta organisasi masyarakat sipil seperti Lokataru Foundation, ICW, YLBHI, LBH Jakarta, hingga BEM SI. Bahkan, aktivis seperti Delpedro Marhaen dikriminalisasi dan diserang secara digital setelah penangkapannya.

3. Pengguna narasi revolusi warna

Demo di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat berujung ricuh pada Kamis (28/8/2025) sore. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Penggunaan narasi 'revolusi warna' bertujuan untuk mendelegitimasi protes masyarakat yang sebenarnya dipicu ketimpangan ekonomi dan frustrasi politik pasca-Pemilu 2024. Operasi ini juga disebut berfungsi untuk memvalidasi propaganda pemerintah dan menekan partisipasi publik dalam demokrasi melalui stigmatisasi.

Dalam laporan Tempo Interaktif tersebut juga disebutkan, operasi serupa oleh jaringan yang sama juga ditemukan di negara lain seperti Thailand, Sri Lanka, Nepal, dan Hong Kong, di mana protes pro-demokrasi selalu diberi label sebagai agenda terselubung Amerika Serikat.

Dalam tulisan tersebut juga disebutkan meskipun stigmatisasi 'agen asing' tidak selalu berujung pada kekerasan fisik, hal ini menciptakan ketakutan di masyarakat untuk ikut serta dalam aksi demonstrasi dan merusak kepercayaan terhadap media independen serta aktivis.

Editorial Team

Related Article