Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tempo Bantah Dibiayai George Soros soal Tudingan Antek Asing-Demo Agustus

Tempo Bantah Dibiayai George Soros soal Tudingan Antek Asing-Demo Agustus
Ilustrasi kantor Tempo di area Palmerah, Jakarta Barat. (Dok. Istimewa)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra, membantah tudingan bahwa Tempo dibiayai George Soros dan menegaskan pendanaan berasal dari MDIF, lembaga investasi media independen asal Serbia.
  • Tempo menerima investasi Rp21,18 miliar dari MDIF dalam bentuk utang konversi tanpa bunga yang harus dikembalikan hingga 2028 untuk mendukung pengembangan ekosistem digital dan model berlangganan.
  • Investigasi kolaboratif menemukan operasi manipulasi informasi asing terkait demonstrasi Agustus 2025 melibatkan aktor pro Rusia dan China yang menyebarkan narasi lewat jejaring media seperti Sputnik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, membantah narasi berulang bahwa majalah yang edisi perdananya diterbitkan pada 1971 itu didanai filantropis asal Amerika Serikat (AS), George Soros. Tuduhan itu kembali terungkap ketika Tempo berkolaborasi dengan tiga media lainnya serta Drone Emprit untuk membongkar operasi pembentukan narasi di media sosial terkait demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus 2025.

Berdasarkan temuan dari kolaborasi beberapa media itu, terungkap adanya dugaan operasi Foreign Information Manipulation Interference atau FIMI.

Dikutip dari laporan interaktif Tempo, operasi FIMI melibatkan aktor asing pro Rusia dan China yang diamplifikasi aktor domestik. Selain dituding dibiayai Soros, Tempo juga dituding sebagai 'antek asing' atau disponsori Pemerintah Negeri Paman Sam.

Selain Tempo, lembaga dan media lain yang dituding sebagai 'antek asing' yakni Project Multatuli, Remotivi, Yayasan Tifa, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Indonesia Corruption Watch (ICW), LBH Jakarta dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum.

"Tuduhan ini meleset karena tak sesuai faktanya. Tempo melalui cucu perusahaan (PT Indo Media Digital) mendapatkan pembiayaan investasi dari Media Development Investment Fund (MDIF). Ini merupakan lembaga yang didirikan oleh wartawan investigasi asal Serbia, Saša Vučinić pada 1995," ujar Setri kepada IDN Times melalui pesan pendek, Selasa (26/5/2026).

Setri menjelaskan MDIF fokus pada dukungan terhadap media agar tetap independen. Tempo, kata Setri, menjadi media keempat yang mendapatkan investasi dari MDIF. Tiga media lainnya yang sudah mendapat pendanaan dari MDIF yakni Hukum Online, Kata Data, dan Suara.

Setri mengatakan berdasarkan pengalaman yang panjang, MDIF sudah mendukung banyak media di Asia dan Afrika, sebagai bagian dari gerakan prodemokrasi, mengingat keberlanjutan media adalah salah satu pilar demokrasi.

1. Nilai pendanaan dari MDIF ke Tempo mencapai Rp21,18 miliar

Tempo Bantah Dibiayai George Soros soal Tudingan Kerusuhan Agustus 2025
Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra (Youtube.com/AJI Indonesia)

Lebih lanjut, Setri mengatakan, pendanaan dari MDIF harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan keterangan manajemen Tempo pada September 2024, nilai pendanaan dari MDIF mencapai Rp21,18 miliar.

Pendanaan disalurkan dalam bentuk Convertible Promissory Debt (CPD) yakni utang yang dapat dikonversi menjadi saham. Berdasarkan kesepakatan, obligasi konversi ini memiliki tenggat jatuh tempo hingga 31 Desember 2028, dan tidak dikenakan bunga.

"Pendanaan MDIF untuk mendukung Tempo mengembangkan ekosistem digital, sehingga Tempo bisa independen dalam pengembangan bisnis model artikel berlangganan," kata Setri.

Tempo pun merupakan perusahaan terbuka, sehingga pendanaan dari MDIF itu diumumkan ke publik. "Jadi, siapa pun bisa melihat dan membacanya," imbuhnya.

2. MDIF dapat dukungan dari sejumlah lembaga donor

Tempo Bantah Dibiayai George Soros soal Tudingan Antek Asing-Kerusuhan Agustus
Ilustrasi logo Media Development Investment Fund (MDIF). (Tangkapan layar situs resmi MDIF)

Namun, Setri tak menampik, MDIF sebagai lembaga investasi mendapat dukungan dari banyak lembaga. Salah satunya Open Society Foundation (OSF). Yayasan itu memang diakui kini dipimpin anak George Soros, Alex Soros. Meskipun begitu, Setri tetap menepis Tempo mendapat pendanaan secara langsung dari keluarga filantropi Soros.

"Jadi tidak benar jika Tempo mendapat pendanaan dari Open Society Foundation (OSF) yang kini dipimpin oleh salah satu anak George Soros. Karena faktanya, kami mendapatkan investasi yang harus dikembalikan dari MDIF," tutur dia.

3. Operasi informasi asing soal demonstrasi disebar lewat jejaring media Pemerintah Rusia

Tempo Bantah Dibiayai George Soros soal Tudingan Antek Asing-Kerusuhan Agustus
ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)

Sebagaimana diketahui, dalam operasi Foreign Information Manipulation Interference atau FIMI, tim kolaborasi lembaga di Indonesia mengidentifikasi 251 unggahan di berbagai media sosial dan situs. Sebagian besar menyebar di media sosial X. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya yaitu 122 unggahan, dilontarkan dalam bahasa asing. Mereka teridentifikasi sebagai aktor dari Rusia maupun pendukung Rusia dan China. Sisanya diunggah dalam Bahasa Indonesia.

Unggahan dari aktor asing dibagikan ulang hampir 4.500 kali dengan engagement nyaris 16 ribu kali. Sedangkan, unggahan dari aktor domestik dibagikan ulang hampir 250 ribu kali. Engagement-nya pun nyaris seperempat juta. Para aktor asing dan domestik itu menuding sejumlah pihak sebagai dalang unjuk rasa pada Agustus 2025.

Dalam temuan kolaborasi itu, upaya membelokan narasi bermula dari pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono pada 28 Agustus 2025. Di Istana Kepresidenan, Jakarta Hendro menuding ada pihak asing seperti George Soros di balik demonstrasi yang berakhir rusuh.

Lonjakan narasi terrjadi pada 31 Agustus 2025, yang berpusat pada Sputnik, jaringan media yang dikendalikan Pemerintah Rusia. Media itu menerbitkan artikel dengan judul 'Soros, NED Could Be Behind Indonesian Protests'. Artikel itu lalu diterbitkan ulang oleh Sputnik Afrika dan Sputnik China dalam Bahasa Mandarin.

Share Article
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More