Jalan Ambles akibat Proyek Kereta, Puluhan Warga Bangkok Dievakuasi

- Jalan di dekat Wongwian Yai, Bangkok ambles akibat kebocoran air dari proyek terowongan bawah tanah jalur Purple Line yang mengikis lapisan tanah hingga menyebabkan rongga besar di bawah permukaan jalan.
- Pemerintah mengevakuasi sekitar 60 warga dalam radius 30 meter dan menutup total Jalan Prajadhipok untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, sementara kontraktor menanggung biaya penginapan serta ganti rugi.
- Otoritas memasang sensor Rescue Guardian guna memantau kemiringan gedung sekitar, dengan perbaikan terowongan dan pengisian rongga diperkirakan selesai dalam 12 hari sebelum akses jalan dibuka kembali.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Kota Bangkok mengevakuasi puluhan warga dari area permukiman setelah terjadi penurunan permukaan tanah, pada Kamis (9/7/2026). Peristiwa amblesnya jalan di dekat Wongwian Yai ini diduga dipicu oleh kebocoran air pada proyek terowongan bawah tanah jalur kereta Purple Line.
Sebagai langkah penanganan cepat, petugas langsung menutup total Jalan Prajadhipok sepanjang 200 meter untuk mencegah kecelakaan. Pemerintah setempat juga memasang sensor darurat guna mengawasi potensi kerusakan struktur pada gedung-gedung komersial di sekitarnya.
1. Penyebab kebocoran air di terowongan bawah tanah

Rembesan air awalnya terdeteksi di sambungan bak penampungan drainase pada titik terendah terowongan proyek jalur Purple Line. Celah kebocoran di kedalaman 30 meter bawah tanah ini menyebabkan lapisan pasir dan tanah di sekelilingnya terkikis secara terus-menerus.
Kikisan tanah yang masuk ke terowongan akhirnya memicu rongga bawah tanah hingga membuat jalan raya di atasnya ambles. Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Bangkok turut memperparah kebocoran karena meningkatkan volume air di area galian.
Kondisi tersebut membuat tekanan tanah di luar dinding penahan menjadi tidak stabil dan memicu retakan jalan yang semakin melebar. Tim teknis segera mengerahkan pompa darurat untuk menguras air demi mengendalikan genangan di dalam terowongan.
"Saat ini, kami sudah bisa mengendalikan volume air di dalam terowongan," kata Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, dilansir National Thailand.
2. Evakuasi warga dalam radius 30 meter

Penurunan permukaan tanah yang mencapai kedalaman 20 sentimeter memaksa petugas menutup semua lajur Jalan Prajadhipok menuju Wongwian Yai. Penutupan jalur darat ini dilakukan untuk mengurangi getaran dari kendaraan berat agar keretakan jalan tidak semakin parah.
Dampaknya, otoritas transportasi harus mengalihkan rute umum bagi lima trayek bus kota. Selain itu, sebanyak 60 warga yang menempati tiga gedung ruko dalam radius 30 meter dari lokasi kejadian diminta segera mengungsi ke tempat penampungan sementara.
Seluruh biaya penginapan darurat beserta uang ganti rugi warga terdampak akan ditanggung oleh pihak kontraktor proyek. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko runtuhnya ruko-ruko tua yang menggunakan fondasi tiang pancang pendek.
"Kami belajar dari pengalaman sebelumnya di Rumah Sakit Vajira, sehingga keselamatan masyarakat kini menjadi prioritas utama kami," ujar Anutin Charnvirakul.
3. Pemasangan sensor pemantau gedung

Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana bekerja sama dengan Tim Pencarian dan Penyelamatan Perkotaan nasional Thailand untuk memasang alat sensor pemantau bernama Rescue Guardian di lokasi kejadian. Sensor ini berfungsi mengukur sudut kemiringan gedung ruko secara langsung untuk memberikan peringatan dini jika ada pergerakan struktur bangunan.
Berdasarkan hasil pemindaian awal, salah satu gedung klinik gigi dilaporkan telah mengalami kemiringan sekitar 10 derajat. Proses perbaikan terowongan bawah tanah dan pengisian rongga jalan yang ambles tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga 12 hari.
Kontraktor pelaksana proyek, Unique Engineering and Construction, sedang mempercepat pengisian semen cepat keras untuk menghentikan pengikisan tanah. Akses jalan akan dibuka kembali dan larangan hunian akan dicabut setelah kondisi dinyatakan benar-benar aman.
"Seluruh situasi penanganan dan evaluasi saat ini dilakukan berdasarkan perhitungan teknis yang sangat ketat," tegas Anutin.






















