Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Lansia di Singapura Makin Banyak Hidup Sendiri, Ini Temuan Terbarunya

Lansia di Singapura Makin Banyak Hidup Sendiri, Ini Temuan Terbarunya
ilustrasi orang tua atau lansia, taman (magnific.com/freepik)
Intinya Sih
  • Jumlah lansia yang tinggal sendiri di Singapura meningkat menjadi sekitar 88.400 orang pada 2025, namun mayoritas lansia masih memilih hidup bersama keluarga.
  • Laporan MSF menunjukkan ikatan dan rasa tanggung jawab keluarga tetap kuat, dengan lebih dari 95 persen warga merasa wajib merawat orangtua mereka.
  • Meskipun pengasuh menghadapi tekanan berat, ketahanan keluarga meningkat dan bentuk dukungan bergeser ke bantuan finansial serta emosional dibandingkan fisik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jumlah lansia yang tinggal sendiri di Singapura terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Temuan terbaru dari Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga (MSF) menunjukkan bahwa fenomena ini memang semakin terlihat, meski jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan lansia yang tinggal bersama pasangan atau anak.

Perubahan pola hidup ini menarik perhatian karena berkaitan dengan penuaan penduduk, perubahan struktur keluarga, hingga tantangan dalam sistem perawatan lansia. Di sisi lain, laporan tersebut juga memperlihatkan bahwa ikatan keluarga di Singapura masih tergolong kuat. Jadi, meskipun semakin banyak lansia yang hidup sendiri, bukan berarti hubungan keluarga di negara tersebut mulai melemah, lho.

Nah, seperti apa temuan lengkapnya? Simak ulasannya sampai selesai, ya!

1. Jumlah lansia yang tinggal sendiri terus bertambah

ilustrasi orang tua atau lansia, taman
ilustrasi orang tua atau lansia, taman (magnific.com/freepik)

Data terbaru menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat sekitar 88.400 lansia berusia 65 tahun ke atas yang tinggal sendiri di Singapura. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 87.200 orang pada 2024. Jika dibandingkan satu dekade lalu, angkanya bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat dari sekitar 41.200 orang pada 2015.

Walaupun meningkat cukup signifikan, kelompok ini sebenarnya masih menjadi minoritas. Lansia yang tinggal sendiri hanya sekitar 11,5 persen dari seluruh lansia yang tinggal di rumah tangga penduduk Singapura. Sebagian besar lansia masih tinggal bersama pasangan, anak, atau kombinasi keduanya. Artinya, pola hidup bersama keluarga masih menjadi pilihan utama bagi mayoritas masyarakat lanjut usia di negara tersebut.

2. Ikatan keluarga di Singapura ternyata masih sangat kuat

ilustrasi Singapura
ilustrasi Singapura (pexels.com/Kenny Foo)

Meningkatnya jumlah lansia yang hidup sendiri gak otomatis menunjukkan bahwa hubungan keluarga semakin renggang. Justru laporan terbaru MSF memperlihatkan bahwa rasa tanggung jawab terhadap keluarga masih sangat tinggi. Sebanyak 95,2 persen responden berusia 15 hingga 64 tahun menyatakan bahwa merawat orangtua merupakan tanggung jawab mereka. Angka ini naik dibandingkan 93,1 persen pada 2023.

Selain itu, sekitar 89,6 persen responden mengaku memiliki keluarga yang erat dan saling mendukung pada 2025. Persentase tersebut juga meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Laporan itu turut menunjukkan bahwa responden yang sudah menikah cenderung memiliki hubungan keluarga yang lebih dekat, termasuk dengan kerabat di luar keluarga inti, dibandingkan mereka yang masih lajang, bercerai, berpisah, atau menjadi duda maupun janda.

3. Ketahanan keluarga ikut mengalami peningkatan

ilustrasi keluarga (pexels.com/Huy Nguyễn)
ilustrasi keluarga (pexels.com/Huy Nguyễn)

Laporan MSF juga mengungkapkan kabar baik mengenai ketahanan keluarga. Lebih dari 90 persen keluarga melaporkan tingkat ketahanan keluarga yang berada pada kategori sedang hingga tinggi. Angka tersebut meningkat dibandingkan 85,9 persen pada 2023. Ketahanan keluarga menggambarkan kemampuan sebuah keluarga untuk menghadapi tekanan, beradaptasi dengan perubahan, dan bangkit setelah mengalami masa sulit.

Responden yang sudah menikah juga mencatat skor ketahanan keluarga yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak keluarga di Singapura masih mampu saling mendukung ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan kata lain, bertambahnya lansia yang tinggal sendiri gak selalu berarti mereka kehilangan hubungan emosional dengan keluarganya.

4. Pengasuh keluarga menghadapi tantangan yang gak ringan

ilustrasi orang tua atau lansia, caregiver
ilustrasi orang tua atau lansia, caregiver (pexels.com/Jsme MILA)

Di balik kuatnya hubungan keluarga, ada tantangan besar yang dihadapi para anggota keluarga yang menjadi pengasuh atau caregiver. Sebuah studi tahun 2025 dari National Council of Social Service menemukan bahwa pengasuh memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan orang yang tidak menjalankan peran tersebut. Mereka memperoleh skor lebih rendah pada aspek fisik, psikologis, hubungan sosial, hingga kepuasan terhadap lingkungan tempat tinggal. Meski demikian, penurunan kualitas hidup tersebut gak selalu berarti hubungan mereka dengan anggota keluarga yang dirawat ikut memburuk.

Profesor sosiologi Singapore Management University, Paulin Tay Straughan, menjelaskan bahwa merawat anggota keluarga sering kali dilakukan atas dasar kasih sayang. Karena itu, seseorang bisa saja merasa lelah atau kurang mendapat dukungan dari anggota keluarga lainnya, tapi tetap memiliki hubungan emosional yang kuat dengan orang yang dirawat. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban dalam merawat orang terkasih gak selalu mengurangi kedekatan hubungan di dalam keluarga.

Hal senada juga disampaikan oleh peneliti utama Institute of Policy Studies, National University of Singapore, Mathew Mathews. Ia menjelaskan bahwa seorang pengasuh dapat merasa kehabisan tenaga, waktu, maupun dukungan, tapi tetap menemukan makna dan kebahagiaan dalam merawat orang yang mereka cintai. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban sebagai pengasuh gak selalu mencerminkan buruknya hubungan keluarga.

5. Bentuk dukungan keluarga mulai mengalami perubahan

ilustrasi Singapura
ilustrasi Singapura (pexels.com/Ruyat Supriazi)

Laporan MSF menunjukkan bahwa keluarga masih menjadi sumber utama dalam memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang membutuhkan. Mayoritas responden mengatakan mereka bersedia memberikan bantuan finansial, emosional, maupun fisik apabila ada anggota keluarga yang memerlukan pertolongan. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen untuk saling membantu dalam keluarga masih menjadi nilai yang dijaga oleh sebagian besar masyarakat Singapura.

Namun, ada satu perubahan yang cukup menarik. Persentase responden yang bersedia memberikan bantuan fisik sehari-hari, seperti membantu mandi, berpakaian, atau makan, turun dari 81,4 persen pada 2023 menjadi 73,8 persen pada 2025. Sementara itu, kesediaan memberikan dukungan finansial dan emosional justru tetap stabil bahkan sedikit meningkat.

Menurut Mathew Mathews, penurunan tersebut bukan berarti masyarakat semakin gak peduli terhadap keluarganya. Ia menjelaskan bahwa banyak orang kini semakin menyadari betapa beratnya tanggung jawab sebagai pengasuh, terutama ketika mereka juga harus bekerja, mengurus anak, dan merawat orangtua dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, sebagian keluarga mulai mengandalkan pekerja rumah tangga atau layanan perawatan profesional untuk membantu kebutuhan perawatan sehari-hari.

Meningkatnya jumlah lansia yang tinggal sendiri di Singapura menjadi salah satu gambaran perubahan demografi yang sedang berlangsung. Meski begitu, data terbaru menunjukkan bahwa hubungan keluarga di negara tersebut masih tergolong erat, bahkan rasa tanggung jawab untuk merawat orangtua mengalami peningkatan.

Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana keluarga dapat membagi beban perawatan lansia supaya gak sepenuhnya ditanggung oleh satu orang saja. Ke depannya, dukungan dari keluarga, layanan profesional, dan kebijakan pemerintah akan sama-sama berperan penting untuk memastikan para lansia tetap mendapatkan kualitas hidup yang baik, baik saat tinggal bersama keluarga maupun ketika memilih hidup sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More