Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bencana Ganggu Layanan, Risiko Kekerasan pada Perempuan dan Anak Naik
Barisan truk pengirim bantuan dari Jatim untuk korban bencana Sumatra. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Kemen PPPA memperkuat perlindungan perempuan dan anak di Sumatera Barat setelah bencana, termasuk melalui layanan yang aman, inklusif, dan responsif gender.

  • Perempuan terdampak didorong memulihkan penghidupan, ikut mengambil keputusan, serta berkontribusi dalam pemulihan komunitas.

  • Koordinasi lintas sektor, penguatan kelembagaan, pemetaan peran, dan rencana aksi menjadi bagian dari pemulihan di Sumatera Barat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
6–8 Oktober 2026

Penguatan Subklaster PPKBGPP berlangsung bersama pemerintah daerah dan lembaga masyarakat di Padang. Kemen PPPA dan pemangku kepentingan memetakan peran, memperkuat kelembagaan, serta menyusun rencana aksi.

Rabu (7/10/2026)

Dian Ekawati menyampaikan bahwa pemulihan di Sumatera Barat perlu memastikan perspektif gender dan perlindungan perempuan serta anak menjadi bagian dari seluruh proses pemulihan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kemen PPPA memperkuat perlindungan perempuan dan anak setelah bencana, termasuk layanan, rujukan, dan pencegahan kekerasan berbasis gender.
  • Who?
    Kemen PPPA, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, DP3AP2KB Sumatera Barat, dan pemangku kepentingan terlibat dalam penguatan perlindungan.
  • Where?
    Penguatan berlangsung di Padang dan mencakup rencana aksi di tingkat provinsi serta kabupaten/kota di Sumatera Barat.
  • When?
    Kegiatan penguatan berlangsung pada 6–8 Oktober 2026. Pernyataan Dian dikutip Rabu (7/10/2026).
  • Why?
    Gangguan layanan dasar, mata pencaharian, ruang aman, dan privasi setelah bencana dapat meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender.
  • How?
    Melalui penguatan Subklaster PPKBGPP, koordinasi lintas sektor, pemetaan peran, rencana aksi, layanan rujukan, dan pengelolaan data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setelah bencana di Sumatera Barat, Kemen PPPA membantu menjaga perempuan dan anak agar lebih aman. Layanan dasar dan tempat aman bisa terganggu, sehingga risiko kekerasan meningkat. Dian dan Herlin mendorong kerja bersama, rujukan yang aman, serta kesempatan bagi perempuan untuk memulihkan penghidupan. Kegiatan penguatan dilakukan di Padang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penguatan perlindungan di Sumatera Barat tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur. Perempuan terdampak juga didorong memulihkan penghidupan, ikut mengambil keputusan, dan berkontribusi dalam pemulihan komunitas. Koordinasi lintas sektor, layanan rujukan, serta pemetaan peran memberi ruang bagi perlindungan yang lebih terpadu bagi perempuan dan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) memperkuat perlindungan perempuan dan anak di Sumatra Barat setelah bencana. Pemerintah menilai kondisi pascabencana dapat meningkatkan kerentanan terhadap kekerasan berbasis gender, mulai dari kekerasan fisik, seksual, KDRT, pernikahan anak hingga risiko perdagangan orang.

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga, Kondisi Khusus, dan Situasi Darurat Kemen PPPA Dian Ekawati mengatakan, pemulihan tidak cukup hanya membangun infrastruktur. “Dalam PRRP di Sumatra Barat, kita perlu memastikan perspektif gender dan perlindungan perempuan dan anak menjadi bagian yang melekat dalam seluruh proses pemulihan,” ujar Dian, dikutip Rabu (7/10/2026).

1. Risiko kekerasan meningkat

Basarnas mengirimkan KN SAR Ganesha 105 untuk mendukung Operasi SAR bencana Sumatra (dok. Basarnas)

Dian mengatakan, gangguan terhadap layanan dasar, mata pencaharian, ruang aman, dan privasi setelah bencana dapat meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender. Karena itu, Subklaster Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender dan Pemberdayaan Perempuan (PPKBGPP) diperkuat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Subklaster PPKBGPP bukan sekadar forum untuk bertemu dan berkoordinasi, tetapi harus menjadi mekanisme kerja bersama yang jelas, mulai dari pembagian peran, koordinasi, layanan, hingga mekanisme rujukan yang aman, inklusif, dan responsif gender,” ujar Dian.

Penguatan tersebut berlangsung bersama pemerintah daerah dan lembaga masyarakat pada 6–8 Oktober 2026 di Padang. Kemen PPPA juga mendorong perlindungan mencakup kebutuhan kelompok rentan dan mekanisme layanan yang dapat berjalan sejak prabencana hingga pascabencana.

2. Perempuan didorong pulihkan penghidupan

Situasi Pantai Parkit, Padang yang masih dipenuhi kayu-kayu sisa banjir Sumatra. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Kemen PPPA tidak hanya menempatkan perempuan terdampak sebagai penerima bantuan. Dian mengatakan, perempuan perlu memiliki kesempatan memulihkan penghidupan, ikut mengambil keputusan, serta berkontribusi dalam pemulihan komunitas.

Salah satunya melalui pengembangan Kebun Pangan Perempuan sebagai bagian dari implementasi Ruang Bersama Indonesia,” kata Dian.

3. Sistem rujukan diperkuat

Situasi Pantai Parkit, Padang yang masih dipenuhi kayu-kayu sisa banjir Sumatra. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Sementara Kepala DP3AP2KB Sumatra Barat Herlin Sridiani mengatakan, koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting agar perlindungan dapat berjalan terpadu.

“Penguatan koordinasi menjadi kunci agar setiap pihak memahami perannya dan mampu bergerak bersama dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak,” ujar Herlin.

Selama tiga hari kegiatan, Kemen PPPA bersama pemangku kepentingan memetakan peran dan mitra strategis, memperkuat kelembagaan Subklaster PPKBGPP, serta menyusun rencana aksi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Peserta juga mendapat penguatan mengenai kebijakan PRRP Sumatra, Permen PPPA Nomor 8 Tahun 2024, standar minimum pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender, identifikasi risiko, kebutuhan kelompok rentan, layanan dan rujukan, hingga pengelolaan data.

Curated For You

Editorial Team

Related Article