Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BGN Tutup 2 SPPG Usai Terima Laporan Dugaan Intimidasi dari Cucu Menteri
Badan Gizi Nasional (BGN) (bgn.go.id)
  • BGN menangguhkan dua SPPG di Ponorogo setelah laporan intimidasi terhadap kepala dapur oleh yayasan yang mengaku dimiliki cucu seorang menteri.
  • Dua kepala SPPG melaporkan tekanan dan dugaan penyunatan anggaran MBG dari Rp10 ribu menjadi Rp6.500 per porsi, memaksa mereka menutup kekurangan dengan dana pribadi.
  • Nanik Deyang mengecam tindakan yayasan, memerintahkan inspeksi lapangan, serta menghentikan operasional dapur setelah menteri terkait membantah adanya hubungan keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menangguhkan operasional dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ponorogo, Jawa Timur, setelah muncul laporan dugaan intimidasi terhadap kepala dapur oleh pihak yayasan yang mengaku sebagai cucu seorang menteri.

Kasus ini terungkap ketika dua kepala SPPG dari Ponorogo mendatangi Nanik di Blitar, Jawa Timur, akhir pekan lalu. Saat itu, Nanik tengah menggelar sosialisasi dan evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kedua kepala SPPG tersebut datang untuk meminta perlindungan.

“Dua kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya, karena minta perlindungan,” kata Nanik dalam keterangan, Senin (16/2/2026).

1. Dua kepala SPPG mengadu dapat intimidasi yayasan ngaku cucu menteri

ilustrasi distribusi MBG (bgn.go.id)

Dua kepala SPPG tersebut adalah Rizal Zulfikar Fikri, Kepala SPPG Ponorogo Kauman Somoroto, dan Moch. Syafi’i Misbachul Mufid, Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet.

Kepada Wakil Kepala BGN, keduanya mengadukan tekanan yang mereka alami selama mengelola dapur MBG di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara.

Menurut pengakuan mereka, selama berbulan-bulan kepala SPPG bersama Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan kerap mendapat tekanan dan intimidasi, dari yayasan yang mengaku dimiliki cucu seorang menteri.

2. Minta disunat anggaran MBG jadi Rp6.500

SPPG Gagaksipat, Ngemplak, Boyolali. (IDN Times/Larasati Rey)

Selain dugaan intimidasi, yayasan tersebut juga disinyalir merekayasa pembelian bahan pangan MBG. Dari anggaran Rp10 ribu per porsi yang ditetapkan BGN untuk bahan makanan, yayasan hanya membelanjakan sekitar Rp6.500 per porsi.

Kondisi itu membuat kedua kepala SPPG harus menutup kekurangan biaya dengan uang pribadi, agar makanan yang disajikan tetap layak bagi siswa penerima manfaat.

“Mau gak mau, Pak, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat,” kata Mufid, sambil terisak.

3. Pihak yayasan dinilai tidak manusiawi dan tidak pantas

Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Nanik menilai tindakan pihak yayasan tidak manusiawi dan tidak pantas. Ia mengatakan kedua kepala SPPG tersebut selama ini juga diancam akan dilaporkan ke polisi, atau didatangkan pengacara jika tidak mengikuti keinginan yayasan.

Tak hanya itu, relawan dan sekolah penerima manfaat juga disebut diminta menandatangani pernyataan untuk mengusir kedua kepala SPPG tersebut.

Mendengar laporan itu, Nanik langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II, Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro, bersama Tenaga Ahli Utama Waka BGN bidang Media Hanibal Wijayanta dan tim, untuk melakukan inspeksi langsung ke lokasi dapur.

4. BGN hubungi pihak menteri yang diklaim sebagai keluarga pemilik yayasan SPPG

Kepala BGN Dadan Hindayana (bgn.go.id)

Nanik mengaku marah karena kedua kepala SPPG tersebut merupakan perwakilan resmi BGN, yang justru mendapat tekanan dari yayasan pengelola dapur. Karena itu, ia memerintahkan agar operasional dapur tersebut dihentikan.

“Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Nanik juga menghubungi menteri yang namanya dikaitkan dengan klaim kepemilikan dapur SPPG tersebut. Menteri yang dimaksud menegaskan tidak memiliki cucu dengan nama yang disebut terkait pengelolaan dapur MBG tersebut.

Sang menteri bahkan menyatakan jika ada pihak yang mengaku sebagai keluarganya untuk mendapatkan fasilitas SPPG, dapur tersebut sebaiknya ditutup.

“Tutup saja dapurnya!” ujar Nanik.

Editorial Team