Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG Sebut Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek

3 min read
BMKG Sebut Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek
Sejumlah pengendara motor melintasi Bundaran Burung saat kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (29/9/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/rwa.)
  • BMKG menyatakan asap karhutla yang sempat memasuki Jawa barat dan Jabodetabek sejak 17 Oktober 2026 mulai menjauh, dengan sisa sebaran terdeteksi di pesisir barat Banten.
  • Pemantauan satelit menunjukkan asap tidak berdampak pada kualitas udara permukaan, meski PM2.5 di Kemayoran berada pada kategori sedang hingga tidak sehat dan ISPU Jakarta bervariasi.
  • Asap karhutla masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia, seiring 478 titik panas terdeteksi pada 16 Oktober; Sumatra Selatan mencatat 189 titik, terbanyak secara nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mempir ke wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), sejak Sabtu, 17 Oktober 2026, kini mulai menjauh.

Meski demikian, BMKG masih mendeteksi sisa sebaran asap karhutla di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000–18.000 kaki atau 3–5,4 kilometer.

  1. 1. BMKG klaim asap karhutla tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan

    BMKG Sebut Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek
    Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar)

    Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan hasil pemantauan citra satelit pada Jumat, 16 Oktober 2026, menunjukkan asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat secara sesaat, termasuk Jabodetabek, tetapi tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.

    Sementara hasil pemantauan pada Sabtu (17/10/2026) pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB, kata Guswanto, menunjukkan sebaran asap karhutla di wilayah tersebut mulai bergerak menjauh secara bertahap.

    Guswanto menjelaskan perubahan arah dan pergerakan angin yang mulai melemah pada ketinggian tersebut memengaruhi pergeseran sebaran asap dari wilayah Jawa. Ia menegaskan keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak selalu menunjukkan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan, sehingga masyarakat tidak perlu panik.

    "Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif," kata Guswanto, dalam keterangan tertulis, Sabtu.

  2. 2. Konsentrasi partikulat kategori sedang hingga tidak sehat

    BMKG Sebut Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek
    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Guswanto menjelaskan berdasarkan pengukuran konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kemayoran, Jakarta, konsentrasinya berkisar 46,7–109,7 µg/m³, yang berada pada rentang kategori sedang hingga tidak sehat.

    Sementara, data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup, menunjukkan kualitas udara Jakarta bervariasi, dari kategori baik hingga tidak sehat, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.

    ISPU di Marunda tercatat 49 (baik), Tanah Abang 60 (sedang), Kelapa Gading 103 (tidak sehat), Menteng 116 (tidak sehat), dan Kebun Jeruk 120 (tidak sehat).

  3. 3. Asap karhutla masih menyebar di Indonesia

    BMKG Sebut Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek
    Kabut asap akibat karhutla yang terjadi di Pulau Kalimantan sudah berembus ke Jakarta sejak Kamis, 15 Oktober 2026. (Istimewa)

    Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan hingga saat ini sebaran asap karhutla di wilayah lain masih terpantau di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.

    Asap di wilayah-wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Kondisi tersebut terjadi karena masih terdeteksinya titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Indonesia.

    Berdasarkan pemantauan pada 16 Oktober 2026 pukul 00.00–23.59 WIB, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sumatra Selatan mencatat jumlah terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik, Papua Selatan 63 titik, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing 26 titik.

    "Meski demikian, jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dibandingkan pemantauan pada 15 Oktober 2026, dari 485 titik menjadi 26 titik. Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," ujar Andri.

    Kondisi cuaca di Indonesia masih bervariasi. Sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan, masih mengalami kondisi relatif kering. BMKG memprakirakan kondisi tersebut berlanjut pada 17–24 Oktober 2026 seiring dengan rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan.

    Sebaliknya, peluang pertumbuhan awan hujan lebih dari 70 persen masih terdapat di sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. Kondisi ini mendukung potensi hujan ringan hingga sedang.

    BMKG juga mewaspadai potensi hujan deras di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Papua Pegunungan.

    "Sementara pola angin pada lapisan atmosfer 925–500 hPa secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5–34 knot. Pola tersebut memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia," ujar Andri.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More