Bogor, IDN Times - Kota Bogor, Jawa Barat, baru saja menorehkan prestasi dengan meraih predikat "Bogor Menuju Kota Bersih". Namun, Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menegaskan pencapaian ini hanyalah pintu pembuka.
Fokus utama Pemkot Bogor kini adalah menyukseskan program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Dedie menekankan kunci sukses teknologi Waste to Energy ini tidak hanya terletak pada mesin di hilir, melainkan pada kebiasaan warga di rumah.
Dedie mengakui tantangan pengelolaan sampah di Bogor akan naik kelas dengan adanya program PSEL. Ia menyebut teknologi ini membutuhkan persiapan matang, terutama dalam hal ketersediaan sampah yang sudah terkelola dengan baik.
"Sekarang adalah langkah awal, di mana kita harus menghadapi nanti eranya PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik). Nah, di situlah tantangannya," ujar dia.
Bogor Menuju Kota Bersih, PSEL Dikejar Lewat Pilah Sampah dari Rumah

Intinya sih...
Skema paket bundling dan penggunaan dua warna tote bagKPPG BGN Bogor menerapkan sistem Paket Bundling dan Take-Away selama libur sekolah dan Lebaran. Penerima manfaat wajib membawa kembali kantong yang diterima sehari sebelumnya sebagai syarat mendapatkan paket berikutnya.
Standar menu Ramadan, bebas menu pedas dan cepat basiBGN menginstruksikan SPPG untuk menyajikan menu yang aman secara ketahanan pangan. Rekomendasi menu meliputi telur asin, abon, dendeng kering, buah-buahan, serta kurma.
Operasional 100 SPPG untuk 250 Ribu penerima di Kota BogorHingga saat ini, sudah ada 100 SPPG yang telah
1. Hulu dan hilir harus nyambung
Menurut Dedie, membangun infrastruktur PSEL di hilir tidak akan efektif jika di bagian hulu, yakni rumah tangga, perkantoran, dan industri tidak melakukan pengelolaan sampah yang benar. Keduanya harus saling terintegrasi agar sistem pengolahan berjalan efisien.
"Sekarang adalah langkah awal di mana kita harus menghadapi nanti eranya PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik). Nah, di situlah tantangannya. Kenapa? Karena antara hulu dengan hilirnya harus nyambung," kata dia.
2. Gerakan pilah sampah dari rumah sebagai garda terdepan
Dedie menekankan peran warga adalah yang paling vital. Tanpa pemilahan sampah yang ketat dari sumbernya, operasional PSEL akan terhambat oleh sampah yang tercampur.
"Bantu ke depan supaya kita mendapatkan terus penghargaan seperti ini. Kita mulai pemilahan dari rumah, pilah dari rumah tangga masing-masing. Kemudian juga kita bantu dengan TPS 3R dan Bank Sampah, baru nanti yang sudah tidak bermanfaat lagi bisa dikirim ke PSEL," tegasnya.
3. Mengubah perilaku warga demi Kota Bogor yang lebih bersih
Program PSEL bukan hanya tentang teknologi listrik, tapi soal merapikan alur sistem sanitasi kota. Dedie optimistis warga Bogor memiliki semangat hidup lebih bersih. Ia berharap gerakan memilah sampah dari rumah bisa menjadi budaya kolektif, agar Kota Bogor tetap layak menyandang predikat kota bersih pada masa mendatang.
"Oleh karena itu, bantu ke depan supaya kita mendapatkan terus penghargaan seperti ini. Kita mulai pemilahan dari rumah, pilah dari rumah tangga masing-masing. Kemudian juga kita bantu dengan TPS 3R dan Bank Sampah," tutup Dedie.