24 Perusahaan Asing Bakal Garap Proyek Sampah Jadi Listrik

- Tender perusahaan konsorsium masuk tahap final, 24 perusahaan internasional diseleksi secara terbuka dan melalui due diligence.
- Konsorsium wajib mencakup perusahaan lokal untuk memastikan transfer teknologi dan penguatan kapasitas industri nasional.
- Proyek WtE menggunakan teknologi generasi terbaru dengan sistem penyaringan berlapis untuk menangkap residu emisi, menjadi solusi konkret dalam mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 24 perusahaan internasional asal China, Prancis, Jepang, Singapura, dan Hong Kong dinyatakan lolos seleksi Daftar Penyedia Teknologi (DPT) untuk proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE).
Program itu dimandatkan melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dan ditujukan untuk menjawab persoalan darurat sampah di kota-kota besar sekaligus mendukung transisi energi yang lebih berkelanjutan.
1. Tender perusahaan konsorsium masuk tahap final

Adapun 24 perusahaan itu diseleksi secara terbuka, dan melalui due diligence. Secara total, ada lebih dari 200 perusahaan yang mendaftar dalam DPT. Seluruh peserta diwajibkan membentuk konsorsium serta menggandeng mitra lokal guna mendorong transfer teknologi dan memperkuat kapasitas nasional.
Adapun hasil tender perusahaan yang telah membentuk konsorsium, dan akan menggarap proyek WTE di empat kota percontohan akan segera diumumkan. Empat kota percontohan itu, antara lain Bekasi, Denpasar, Yogyakarta, dan Bogor.
Managing Director Investment Danantara Investment Management (DIM), Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengatakan proses seleksi dilakukan secara profesional dan kompetitif.
“Seleksi dilakukan secara ketat dan berbasis mitigasi risiko. Kami memastikan aspek tata kelola, lingkungan, dan sosial menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek,” ujar Stefanus dikutip Kamis, (19/2/2026).
2. Konsorsium wajib mencakup perusahaan lokal

Adapun konsorsium yang dimaksud wajib melibatkan perusahaan dalam negeri. Skema itu dirancang untuk memastikan terjadi transfer teknologi sekaligus memperkuat kapasitas industri nasional di sektor pengelolaan sampah dan energi.
Menurut Stefanus, proyek WtE tidak hanya soal investasi, tetapi juga penguatan ekosistem nasional. Program itu dinilai menjadi fondasi penting dalam reformasi pengelolaan sampah nasional, sekaligus membuka peluang ekonomi baru di daerah lokasi proyek.
3. Klaim pakai teknologi generasi terbaru, bukan insinerator konvensional

Menjawab kekhawatiran soal dampak lingkungan, DIM menyebut teknologi yang digunakan bukan insinerator konvensional. Stefanus menjelaskan sistem yang diterapkan merupakan mechanical-grade incinerator dengan sistem penyaringan berlapis untuk menangkap residu emisi.
“Teknologi yang digunakan merupakan teknologi WtE generasi terbaru. Sistemnya memiliki penyaringan berlapis sehingga kualitas udara yang dilepas memenuhi standar kesehatan internasional, termasuk rujukan World Health Organization (WHO),” ujar Stefanus.
Proyek WtE diproyeksikan menjadi solusi konkret dalam mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus menghasilkan energi listrik dari sampah perkotaan. Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini akan menjadi salah satu langkah besar dalam integrasi kebijakan pengelolaan sampah dan transisi energi di Indonesia.

















