Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Guru Kerja di Katering Demi Bayar SPP Anak karena TPG Belum Cair
Seorang guru memperkenalkan smart TV bagi tiga siswa baru di SDN Purwoyoso 01. (IDN Times/bt)
  • Guru SMP swasta di Jakarta Pusat, Romlah, bekerja sambilan di katering setiap akhir pekan karena tunjangan profesi guru selama dua bulan belum cair.

  • Romlah seharusnya menerima TPG Rp1,9 juta per bulan; tunggakan Rp3,8 juta memperberat pembayaran SPP dan cicilan uang gedung pondok pesantren anaknya.

  • Komisi X DPR mendesak pemerintah segera membayar tunggakan TPG hingga tiga bulan, yang disebut terkendala birokrasi di Kementerian Keuangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Romlah, guru SMP Islam swasta, bekerja sambilan di katering pada akhir pekan karena tunjangan profesi guru sebesar Rp3,8 juta selama dua bulan belum diterimanya.
  • Who?
    Romlah, guru SMP Islam swasta di Jakarta Pusat; Komisi X DPR RI; pemerintah; Kementerian Keuangan; serta Lalu Hadrian Irfani selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI.
  • Where?
    Romlah mengajar di Jakarta Pusat dan bekerja sambilan di tempat katering. Lalu Hadrian Irfani menyampaikan keterangan di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat.
  • When?
    TPG Romlah belum cair selama dua bulan hingga 13 Oktober 2026. Lalu Hadrian Irfani menyampaikan keterangan pada 12 Oktober 2026.
  • Why?
    Romlah membutuhkan penghasilan tambahan untuk kebutuhan keluarga, SPP anak di pondok pesantren, dan cicilan uang gedung. Keterlambatan pembayaran disebut terkait kendala birokrasi di Kementerian Keuangan.
  • How?
    Romlah bekerja di katering setiap Sabtu dan Minggu di luar tugas mengajar. Komisi X DPR RI mendesak pemerintah segera membayarkan TPG dan tunjangan sertifikasi yang dilaporkan menunggak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bu Romlah adalah guru di Jakarta. Uang tunjangan gurunya belum dibayar selama dua bulan, padahal ia perlu bayar sekolah anak di pesantren. Jadi, Sabtu dan Minggu ia bekerja di tempat katering. Bu Romlah tetap mengajar. DPR meminta pemerintah segera membayar tunjangan guru yang terlambat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah penundaan tunjangan, Romlah memperlihatkan keteguhan dalam menjaga kebutuhan pendidikan anak sekaligus tetap menjalankan perannya sebagai guru. Kesediaannya bekerja pada akhir pekan menunjukkan daya juang keluarga, sementara desakan Komisi X DPR agar hak tenaga pendidik segera dipenuhi memberi perhatian institusional pada persoalan yang dihadapinya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jika hari Sabtu dan Minggu biasanya dimanfaatkan untuk beristirahat, tetapi bagi Romlah, itu adalah waktu untuk mencari penghasilan tambahan.

Romlah adalah Guru SMP Islam swasta di Jakarta Pusat yang bekerja di tempat katering. Hal itu dia lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah tunjangan profesi guru (TPG) yang belum cair selama dua bulan.

Di rumah, ada biaya pendidikan anaknya di pondok pesantren yang tetap harus dibayar. Selain SPP, Romlah juga memiliki kewajiban mencicil uang gedung pondok pesantren anaknya. Keterlambatan tunjangan pun membuat kondisi keuangan keluarganya semakin berat.

“Berdampak sekali karena untuk bayar SPP anak di pondok ada bayar cicilan uang gedung pondok pesantren anak saya,” ujar Romlah kepada IDN Times, Selasa (13/10/2026).

1. TPG belum cair dua bulan

Seorang guru membetulkan papan informasi yang tertera di blok asrama putri Sekolah Rakyat Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Romlah seharusnya menerima TPG sebesar Rp1,9 juta per bulan. Karena tunjangan tersebut belum cair selama dua bulan, total hak yang belum diterimanya mencapai Rp3,8 juta.

"Tidak ada informasi alasan keterlambatan apa dan ini sudah dua bulan gak cair," kata dia dengan raut wajah lesu.

2. Mencari kerja sambilan

Pembina PB PGSI (Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia), Muh. Zen Adv, selaku koordinator steering committee audiensi di DPR RI. (IDN Times/Zahira)

Sementara itu, kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anaknya tetap berjalan. Bahkan, SPP anaknya masih belum terbayarkan. Untuk menutup kebutuhan tersebut, Romlah memilih bekerja tambahan pada akhir pekan di tempat katering. Pekerjaan itu dijalaninya di luar kewajibannya sebagai guru.

"Jadi saya kerja Sabtu-Minggu di tempat katering," ujar dia.

3. Pemerintah diminta cairkan TPG

Pembina PB PGSI (Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia), Muh. Zen Adv, selaku koordinator steering committee audiensi di DPR RI. (IDN Times/Zahira)

Meski harus membagi waktu untuk mencari penghasilan tambahan, Romlah mengatakan, keterlambatan TPG tidak memengaruhi semangatnya dalam mengajar. Dia tetap menjalankan tugasnya mengajar seperti biasa.

Romlah berharap pemerintah dapat menyalurkan tunjangan profesi guru tepat waktu sehingga para guru bisa memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus menghadapi ketidakpastian pencairan.

“Tolong untuk bisa tepat waktu dan tidak di tunda dalam penyaluran TPG,” kata dia.

Komisi X DPR RI mendesak pemerintah segera membayarkan TPG atau tunjangan sertifikasi yang dilaporkan menunggak hingga tiga bulan. DPR menilai hak para tenaga pendidik tersebut harus segera dipenuhi.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengatakan, keterlambatan pembayaran tunjangan guru disebabkan kendala birokrasi di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Sampai dengan hari ini, tunjangan profesi dan sertifikasinya belum terbayarkan. Padahal surat permohonan dari Kemendikdasmen sudah masuk sejak lama, bahkan saat Menkeu yang lama," ujar Lalu di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

Curated For You

Editorial Team

Related Article