Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ciliwung Terancam Erosi, Wamen LH Soroti Ikan Sapu-sapu hingga Potensi Mikrohidro
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono menyusuri Sungai Ciliwung dalam rangka memperingati Hari Sungai Sedunia 2026 (kemenlh.go.id)
  • Wamen LH Diaz Hendropriyono menilai bantaran Ciliwung rentan erosi dan mendorong penanaman pohon elo, kemudian bambu, untuk memperkuat tanah.

  • Ikan sapu-sapu invasif disorot karena membuat lubang di sekitar bantaran bawah air yang dapat memperparah erosi; pegiat lingkungan diapresiasi atas pembersihannya.

  • Arus Ciliwung berpotensi dikembangkan menjadi mikrohidro, tetapi pemerintah menekankan perbaikan kualitas sungai lewat trashboom, wetlands, penanganan sampah, dan bangunan di sempadan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sungai Ciliwung mudah terkikis. Pak Diaz melihat ikan sapu-sapu membuat lubang dekat pinggir sungai. Pemerintah ingin menanam pohon elo dan mungkin bambu agar tanah kuat. Sungai juga masih ada sampah dan bangunan di pinggirnya. Airnya deras dan bisa dipakai buat listrik kecil kalau sungainya sudah lebih bersih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rangkaian aksi peduli sungai di sembilan titik memperlihatkan perhatian yang semakin menyeluruh terhadap Ciliwung: penguatan bantaran melalui pohon elo dan bambu, pembersihan ikan invasif oleh pegiat lingkungan, serta gagasan trashboom dan wetlands. Pendekatan bertahap ini juga membuka ruang untuk melihat aliran deras Ciliwung sebagai potensi mikrohidro setelah kondisi sungai diperbaiki.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menyoroti kerentanan bantaran Sungai Ciliwung terhadap erosi. Salah satu upaya yang didorong ialah penanaman pohon elo yang dinilai memiliki akar kuat untuk membantu menahan tanah di sepanjang bantaran sungai.

Hal itu disampaikan Diaz saat menyusuri Sungai Ciliwung dalam rangka memperingati Hari Sungai Sedunia 2026 melalui aksi peduli sungai yang digelar serentak di sembilan titik, mulai dari Jabodetabek hingga Surabaya dan Bali, pada Minggu (27/9/2026).

"Kami lihat Sungai Ciliwung sedikit rentan erosi, jadi perlu ada penanaman pohon elo di bantaran sungai untuk mencegah itu," kata Diaz, melansir laman Kemenlh.go.id.

Menurut dia, pohon elo dapat menjadi salah satu pilihan vegetasi untuk memperkuat bantaran sungai karena memiliki akar yang dapat tumbuh hingga ke bagian bawah tanah. Setelah penanaman pohon elo, pemerintah juga mempertimbangkan penanaman bambu di kawasan tersebut.

Selain vegetasi, Diaz menyoroti keberadaan ikan invasif, khususnya ikan sapu-sapu, yang masih banyak ditemukan di Sungai Ciliwung.

Dia menyebut ikan tersebut dapat membuat lubang di bawah permukaan air di sekitar bantaran sungai. Kondisi itu dinilai turut berdampak terhadap kerentanan bantaran sungai terhadap erosi.

"Salah satu hal yang berdampak pada erosi ini adalah ikan sapu-sapu. Ikan ini buat lubang bawah air di sekitar bantaran sungai," ujar Diaz.

Dia juga mengapresiasi para pegiat lingkungan yang melakukan pembersihan Sungai Ciliwung dari ikan invasif tersebut.

Persoalan erosi dan ikan invasif menunjukkan bahwa pengelolaan sungai tidak hanya berkaitan dengan persoalan sampah, tetapi juga kondisi ekosistem di sepanjang aliran sungai dan bantaran.

Di sisi lain, Diaz melihat derasnya aliran Sungai Ciliwung sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Menurut Diaz, debit air Ciliwung yang cukup deras, bahkan memungkinkan aktivitas arung jeram, menunjukkan adanya potensi elevasi dan energi dari aliran air yang dapat dikembangkan.

"Kami juga mendiskusikan pemanfaatan debit air, Sungai Ciliwung debit airnya cukup deras sampai bisa main arung jeram, artinya di sini ada elevasi dan bisa kita kembangkan mikrohidro," katanya.

Namun, pengembangan energi tersebut dinilai perlu didahului dengan upaya memperbaiki kualitas dan kondisi sungai. Diaz menyebut pemasangan trashboom dan pembangunan wetlands dapat menjadi langkah awal sebelum pemanfaatan aliran sungai untuk mikrohidro.

"Mungkin langkah pertama perlu ada trashboom, lalu kita buat wetlands untuk menyerap polutan, setelah itu baru kita kembangkan mikrohidro," ujarnya.

Diaz menegaskan sungai memiliki peran penting sebagai sumber kehidupan sekaligus berpotensi menjadi sumber bencana apabila tidak dikelola dengan baik.

Dalam peninjauannya di Ciliwung, dia masih menemukan sampah serta bangunan yang berada di sempadan sungai.

"Sungai ini penting sebagai sumber kehidupan tapi juga bisa menjadi sumber bencana, kami lihat tadi sampah masih banyak dan bangunan di sempadan sungai juga masih ada," kata Diaz.

Karena itu, momentum Hari Sungai Sedunia 2026 diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.

"Semoga dengan peringatan Hari Sungai Sedunia, kita bisa meningkatkan awareness terhadap pentingnya sungai," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article