Jakarta, IDN Times – Keluar rumah sebentar saja, keringat mulai bercucuran. Terik matahari terasa menyengat, sementara angin yang biasanya membawa kesejukan justru terkadang terasa panas. Bagi warga Jakarta yang memiliki aktivitas di luar ruangan, menghadapi cuaca panas Ibu Kota kini menjadi tantangan sehari-hari.
Payung, topi, hingga tabir surya menjadi perlengkapan yang tak boleh tertinggal saat bepergian. Bahkan, sebagian warga mulai menambahkan kipas angin portabel untuk mengurangi rasa gerah selama beraktivitas.
Salah satunya Rose, warga Cawang, Jakarta Timur. Dia mengaku mulai merasakan perubahan suhu udara di Jakarta sejak pertengahan tahun. Menurut dia, panas yang dirasakan bukan hanya berasal dari paparan sinar matahari, tetapi juga angin.
"Sejak pertengahan tahun, iya terasa lebih panas. Bukan hanya karena panas sinar matahari, tapi anginnya pun terasa panas," kata dia kepada IDN Times.
Sebagai warga yang memiliki pekerjaan mobile dan kerap menggunakan transportasi umum, Rose harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Jika sebelumnya cukup membawa payung saat bepergian, kini dia juga menyiapkan kipas angin portabel dan lebih banyak tisu untuk mengantisipasi keringat.
"Payung sebenarnya selalu dibawa setiap pergi. Kebiasaan barunya sekarang jadi tambah bawa kipas angin portabel dan lebih banyak sedia tisu. Karena pekerjaan mobile dan sering naik transum, jadi sering gampang gerah dan berkeringat," kata dia.
Paparan cuaca panas juga membuat Rose lebih memperhatikan kondisi kulitnya. Meski belum pernah mengalami kulit terbakar matahari, dia mengaku mudah mengalami eksim ketika cuaca sedang panas.
"Sunburn sih gak, karena setiap kali di luar ruangan selalu usaha pakai topi atau payung, tapi karena tipe kulit badan saya kering, jadi mudah eksim akibat cuaca panas," kata dia.
Selain kondisi kulit, rasa haus dan tenggorokan kering juga menjadi hal yang dirasakan ketika beraktivitas di tengah cuaca panas. Meski demikian, Rose memilih tidak terlalu banyak mengonsumsi air dingin karena khawatir tenggorokannya terasa tidak nyaman.
"Iya sih, rasanya tenggorokan kering terus. Tapi dilema juga karena kalau minum air es terlalu banyak, tenggorokan jadi kayak radang gitu, berlendir. Jadi tetap lebih utamain minum air suhu ruang," kata dia.
Meski begitu, Rose menilai kondisi cuaca selama Oktober sedikit lebih sejuk dibandingkan periode Juni hingga Agustus.
"Belum terlalu merasakan efeknya sih. Cuma selama Oktober ini cuaca sedikit lebih adem dibandingkan periode Juni-Agustus, mungkin karena makin dekat musim hujan juga," kata dia.
