Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pakar: Cuaca Panas Bisa Picu Emosi dan Konflik di Ruang Publik

2 min read
Pakar: Cuaca Panas Bisa Picu Emosi dan Konflik di Ruang Publik
Ilustrasi Jakarta, Bundaran HI (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • Pakar UNAIR Suko Widodo menyebut cuaca panas ekstrem dapat mengganggu emosi, konsentrasi, dan kontrol diri, sehingga kesalahpahaman kecil di ruang publik berpotensi memicu pertengkaran.

  • Kemacetan, klakson, pantulan panas aspal, kelelahan, dan dehidrasi dapat memicu perilaku agresif; masyarakat diimbau cukup minum, beristirahat, serta menjaga kesabaran dan saling pengertian.

  • BMKG mencatat suhu maksimum hingga 38,5°C pada pertengahan Oktober 2026; minim awan akibat El Niño kuat dan IOD positif meningkatkan pemanasan serta risiko kebakaran hutan dan lahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Suko Widodo mengingatkan cuaca panas ekstrem dapat memengaruhi emosi dan konsentrasi seseorang.

Menurutnya, kondisi tubuh yang tidak nyaman akibat terik matahari secara langsung memengaruhi mekanisme kontrol diri saat berinteraksi di ruang publik.

"Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Suko dikutip laman resmi UNAIR, Jumat (30/10/2026).

  1. 1. Lelah dan dehidrasi picu emosi

    WhatsApp Image 2025-08-13 at 14.55.09.jpeg
    Koridor 9 Transjakarta (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Dia mengungkapkan fenomena ini terasa di lokasi-lokasi padat seperti jalan raya. Kombinasi antara kemacetan lalu lintas, suara klakson, dan pantulan panas dari aspal dapat menguji tingkat kesabaran para pengguna jalan hingga memicu perilaku agresif.

    "Kondisi tubuh yang tidak nyaman akibat suhu tinggi, kelelahan, dan dehidrasi dapat mengganggu kemampuan seseorang mengendalikan emosi," ucapnya.

  2. 2. Tingkatkan rasa sabar dan penuhi cairan

    Massa demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti (Demo Trisakti) menyanyikan lagu “Tanah Air” dan "Indonesia Pusaka"  di kawasan Patung Kuda
    Massa demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti (Demo Trisakti) menyanyikan lagu “Tanah Air” dan "Indonesia Pusaka" di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Suko yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur itu mengimbau masyarakat menjaga kondisi fisik sekaligus mengendalikan emosi selama cuaca panas berlangsung.

    Masyarakat disarankan mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan beristirahat ketika merasa lelah. Selain itu, kesabaran dan sikap saling memahami perlu dijaga saat berinteraksi di lingkungan keluarga, kampus, maupun tempat kerja.

    “Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” imbaunya.

  3. 3. Kondisi panas di sejumlah tempat

    Langit Kota Banda Aceh, Aceh, pada musim panas. Suhu mencapai 36 derajat celcius. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
    Langit Kota Banda Aceh, Aceh, pada musim panas. Suhu mencapai 36 derajat celcius. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

    Berdasarkan data BMKG, kondisi cuaca panas dan relatif kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026.

    Suhu udara maksimum tercatat mencapai 38,5°C di Jawa Barat serta 38°C di Lampung dan Jawa Tengah pada tanggal 17 Oktober 2026, sementara di Jawa Timur suhu maksimum mencapai 38°C pada tanggal 16 Oktober 2026.

    Kondisi ini berlangsung di tengah minimnya tutupan awan di wilayah Indonesia akibat pengaruh fenomena El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

    "Berkurangnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah daerah dapat meningkatkan pemanasan permukaan pada siang hari serta mempercepat pengeringan vegetasi, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan," tulis BMKG.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More