Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kondisi Terkini Karhutla di Kawasan Way Kambas, Gajah Ikut Terdampak?

4 min read
Kondisi Terkini Karhutla di Kawasan Way Kambas, Gajah Ikut Terdampak?
Kepala BNPB Kristomei Sianturi saat mengunjungi lokasi karhutla. (Dok. BNPB)
  • Karhutla masih terjadi di TN Way Kambas, dengan 110 titik api dan 68 hektare area yang belum berhasil dipadamkan.

  • BNPB mengerahkan pasukan darat, pompa air, dan selang hampir tiga kilometer untuk memperluas jangkauan pemadaman.

  • Satwa di Pusat Latihan Gajah sementara masih aman, sementara penyebab kebakaran akan dievaluasi bersama sejumlah unsur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Upaya pemadaman terus dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengancam ekosistem di kawasan konservasi tersebut, termasuk habitat satwa liar seperti gajah Sumatra.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan, berdasarkan pemantauan satelit pada Minggu (1/11/2026) pukul 06.44 WIB, terdapat 110 titik api di Provinsi Lampung. Dari jumlah tersebut, masih ada area seluas 68 hektare yang belum berhasil dipadamkan.

Kristomei juga telah meninjau langsung sejumlah lokasi kebakaran menggunakan helikopter. Dari hasil pemantauan udara, masih ditemukan beberapa titik api yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Kita melihat kebakaran hutan yang ada di wilayah TNWK (Taman Nasional Way Kambas) ini. Secara data satelit per jam 06.44 tadi pagi, itu saya melihat bahwa ada 110 titik api di Provinsi Lampung ini ya. Dan di antaranya masih ada 68 hektare lagi yang belum padam, kemudian tadi saya sudah melakukan peninjauan melalui helikopter, memang ada beberapa titik api yang perlu mendapatkan perhatian," ujar Kristomei dalam pernyataannya di kanal YouTube BNPB.

  1. 1. BNPB kerahkan pasukan darat dan peralatan pemadaman

    Kondisi Terkini Karhutla di Kawasan Way Kambas, Gajah Ikut Terdampak?
    Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi saat memimpin rapat koordinasi terkait karhutla di Sumsel. (Dok. BNPB).

    Untuk mempercepat penanganan, BNPB bersama unsur terkait membagi personel pemadam ke sejumlah daerah operasi di kawasan Way Kambas. Pembagian tersebut dilakukan agar proses pemadaman berjalan lebih efektif dan target penanganan dapat diukur.

    Selain mengandalkan personel di lapangan, petugas juga menggunakan pompa air dan selang dengan panjang hampir tiga kilometer. Peralatan tersebut dinilai cukup efektif untuk menjangkau area yang terdampak kebakaran.

    Kristomei mengatakan, BNPB berencana menambah jumlah peralatan serupa agar jangkauan pemadaman semakin luas.

    "Nah, memang kita sudah mengatur sendiri untuk di Way Kambas ini, ada pasukan-pasukan darat yang memang kita bagi per daerah-daerah operasi sehingga untuk mengefektifkan dan pencapaian targetnya terukur. Dan kita juga sudah mencoba menggunakan pompa dan selang yang sepanjang hampir 3 kilo ini, ternyata cukup efektif. Nanti akan kita perbanyak lagi sehingga luasan pemadamannya cukup efektif dan bisa bertambah luas," ujar dia.

  2. 2. BNPB ingatkan masyarakat tak bakar hutan

    Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi (dok. Sekretariat Presiden)
    Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi (dok. Sekretariat Presiden)

    Di tengah upaya pemadaman, Kristomei mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan. Menurut dia, tindakan tersebut justru menambah beban petugas yang sedang berjuang mengendalikan api.

    Dia menilai, dampak kebakaran tidak hanya dirasakan oleh petugas dan masyarakat di sekitar lokasi, tetapi juga lingkungan secara lebih luas. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan bersama agar kebakaran serupa tidak terus berulang.

    "Dan dalam kesempatan ini juga saya mengimbau dan meminta kepada seluruh masyarakat, artinya di satu sisi ada teman-teman kita, ada saudara-saudara kita yang berjuang untuk memadamkan api, tetapi kalau di sisi lain ada lagi saudara-saudara kita yang masih melakukan pembakaran, ya mau sampai kapan ini ya. Sementara dampak dan efeknya dirasakan oleh bersama. Jadi mari sama-sama jangan ada lagi pembakaran hutan," kata dia.

  3. 3. Gajah Sumatra di Way Kambas disebut masih aman

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi.
    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi. (IDN Times/Trio Hamdani

    Kebakaran di kawasan TNWK turut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan habitat satwa liar, terutama gajah Sumatra. Way Kambas merupakan salah satu kawasan konservasi penting bagi satwa tersebut.

    Kristomei menjelaskan, lokasi kebakaran yang saat ini menjadi perhatian berada di bagian utara kawasan. Sementara itu, Pusat Latihan Gajah (PLG) berada di bagian selatan.

    Berdasarkan kondisi tersebut, satwa di kawasan PLG untuk sementara masih dalam keadaan aman. Meski demikian, dia mengakui kebakaran tetap berpotensi memberikan dampak terhadap habitat satwa meskipun tidak terlalu besar.

    "Ya, secara umum pasti berdampak, tapi untuk habitat gajah, memang ini kan lebih ke utara, sementara yang di PLG ada di selatan. Jadi sementara ini satwa-satwa kita aman, tapi kan pasti juga berdampak walaupun tidak terlalu besar ya. Tapi kalau bisa tidak ada api, kenapa harus ada api. Jadi ya kita harus cepat tanggap responnya, cepat memadamkannya," ujar dia.

    Selain memprioritaskan pemadaman, BNPB juga akan mengevaluasi penyebab kebakaran di kawasan Way Kambas. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah lokasi kebakaran yang berada tidak jauh dari permukiman di bagian utara.

    Kristomei menyebut, penelusuran akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat kepolisian, TNI, Manggala Agni, hingga masyarakat peduli api. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan sumber kebakaran, termasuk kemungkinan adanya unsur kesengajaan.

    Pemeriksaan akan dilakukan untuk mengetahui apakah kebakaran dipicu faktor alam atau tindakan manusia. Hasil penelusuran diharapkan dapat menjadi dasar penanganan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.

    "Dan yang menjadi indikasi kita adalah kenapa yang terbakar dekat dengan pemukiman di arah utara. Nah ini yang perlu kita cari tahu, makanya nanti kita bergerak bersama-sama aparat penegak hukum, kepolisian, kemudian TNI, kemudian Manggala Agni, masyarakat peduli api, untuk sama-sama mengevaluasi kenapa ini penyebabnya? Apakah murni alam atau memang ada perbuatan-perbuatan dari saudara-saudara kita yang berusaha untuk membakar hutan," ucap dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More