Tabrakan Maut Minibus dan Truk di Mesir Tewaskan 10 Pekerja

- Minibus rombongan pekerja menabrak truk kontainer di kawasan barat Kairo pada 31 Oktober 2026, menewaskan 10 orang dan melukai 24 lainnya.
- Petugas mengerahkan 20 ambulans, mengevakuasi korban ke dua rumah sakit, serta menyiagakan dokter bedah, darah, dan obat-obatan; pemerintah memberikan santunan kepada ahli waris.
- Kejaksaan menyelidiki sopir, CCTV, rem, kecepatan, muatan, dan parkir truk. Data CAPMAS mencatat kematian kecelakaan Mesir naik 10,8 persen menjadi 5.829 pada 2025.
Jakarta, IDN Times - Sebuah minibus pembawa rombongan pekerja menabrak truk bermuatan berat di jalan raya kawasan barat Kairo, Mesir, pada Sabtu (31/10/2026). Kecelakaan maut tersebut mengakibatkan 10 orang meninggal dunia dan 24 orang lainnya mengalami luka-luka.
Kementerian Kesehatan bersama aparat kepolisian langsung mengerahkan puluhan armada darurat untuk mengevakuasi para korban dan membersihkan jalur tol. Pada saat yang sama, pihak kejaksaan menggelar penyidikan resmi guna mengusut tuntas penyebab tabrakan tersebut.
1. Kronologi kecelakaan maut
Kecelakaan maut tersebut terjadi di persimpangan Jalan Lingkar Tengah dan Jalan Poros Al-Dabaa, Kota 6 Oktober, Provinsi Giza. Minibus tersebut membawa rombongan pekerja asal Ezbet Tadros, Provinsi Fayoum, yang hendak menuju lokasi perkebunan.
Minibus yang melaju kencang diduga hilang kendali hingga menabrak bagian belakang truk kontainer yang sedang berhenti di bahu jalan. Kerasnya benturan membuat badan minibus ringsek parah sehingga petugas penyelamat harus memotong kerangka kendaraan guna mengeluarkan korban yang terjepit.
"Pihak berwenang mengerahkan 20 unit ambulans ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi korban luka ke rumah sakit terdekat," ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Dr. Hossam Abdel Ghaffar, dilansir Arab News.
Seluruh jenazah korban tewas dibawa ke Rumah Sakit Sentral 6 Oktober untuk menjalani proses visum dan identifikasi.
2. Kondisi dan penanganan korban di rumah sakit
Kementerian Kesehatan mencatat 10 korban luka berada dalam kondisi kritis, sedangkan 14 korban lainnya mengalami luka ringan hingga sedang. Seluruh korban kini mendapatkan perawatan intensif di RS Sentral 6 Oktober dan RS Khusus Sheikh Zayed.
Menteri Kesehatan Dr. Khaled Abdel Ghaffar menginstruksikan pihak rumah sakit untuk menyiagakan dokter bedah serta memastikan ketersediaan pasokan darah dan obat-obatan. Perdana Menteri Dr. Moustafa Madbouly turut memantau penanganan medis sekaligus menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban.
Sebagai bentuk santunan, pemerintah menyalurkan uang asuransi sebesar 100.000 pound Mesir (Rp32,52 juta) bagi ahli waris korban tewas, serta bantuan bagi korban yang mengalami disabilitas.
3. Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Mesir
Pihak kejaksaan langsung memeriksa sopir minibus di rumah sakit, rekaman kamera pengawas (CCTV), kelaikan sistem rem, serta batas kecepatan kendaraan. Pemeriksaan juga dilakukan untuk mencari tahu adanya indikasi kelebihan muatan serta mengecek aturan parkir darurat truk di tepi jalan.
Peristiwa ini menambah panjang catatan kecelakaan maut di jalan tol Mesir. Pada pertengahan Oktober 2026, tabrakan truk dan bus wisata di barat Kairo menewaskan 13 orang. Sebulan sebelumnya, sebuah bus terguling di Semenanjung Sinai dan menewaskan 22 orang. Selain itu, pada Agustus lalu, 18 buruh tani juga tewas akibat tabrakan kendaraan di Mesir utara.
Badan Statistik Mesir (CAPMAS) mencatat jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas naik 10,8 persen dari 5.260 jiwa pada 2024 menjadi 5.829 jiwa pada 2025. Jumlah korban luka juga melonjak 10,7 persen menjadi 84.553 orang, yang sebagian besar dipicu oleh faktor kelalaian pengemudi dan pelanggaran batas kecepatan.






















