Antrian BBM di salah satu SPBU Kota Bogor pasca kenaikan pertamax. IDN Times/Linna Susantu
Kenaikan harga BBM juga menghantam sektor jasa transportasi online. Meski sebagian pengemudi ojek online (ojol) menggunakan BBM subsidi jenis Pertalite, beberapa pengemudi ojol kerap mengisi tangki mereka dengan Pertamax untuk menjaga performa mesin kendaraan.
Kini, BBM jenis Pertamax dibanderol Rp16.250 per liter. Kenaikan harga BBM jenis ini cukup terasa karena sebelumnya dibanderol sekitar Rp12.300 per liter. Alhasil, hal ini mempengaruhi pendapatan bersih pengemudi ojol.
Salah seorang pengemudi, Tajudin (35), mengeluh harga Pertamax naik. Meski sering menggunakan BBM jenis Pertalite, Tajudin sesekali mengisi tangki motornya dengan Pertamax. Alasannya, Tajudin menilai upaya itu bisa menjaga performa dan ketahanan mesin.
"Sesekali saya beli Pertamax, Kenaikan harga ini jelas menjadi beban tambahan yang cukup berat buat kami di lapangan. Terlebih lagi, pendapatan kami kadang tidak menentu dan sering kali tekor di biaya bensin jika terus-menerus mengandalkan Pertamax untuk operasional harian," ucap dia.
Sebelumnya harga BBM nonsubsidi naik, Tajudin mengeluarkan biaya sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu untuk membeli bensin setiap hari. Kini, ia terpaksa merogoh kocek sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari buat membeli bahan bakar.
"Jika pengeluaran bensin terus naik sementara pendapatan harian tidak ikut menyesuaikan, tentu alokasi untuk kebutuhan sehari-hari menjadi semakin menipis," jelas Tajudin.