Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Demo 12 Juni Bukan Akhir, BEM UI Pastikan Ada Aksi Lanjutan
Mahasiswa UI berorasi di area Tosari karena dilarang menuju ke Bunderan Hotel Indonesia pada 12 Juni 2026. (Dokumentasi LBH Jakarta)
  • BEM UI memastikan aksi #IndonesiaMenujuBangkrut akan berlanjut di Bundaran HI dengan tuntutan yang lebih luas namun tetap fokus pada aspirasi masyarakat.
  • Mahasiswa menilai demo di DPR tidak efektif karena hilangnya fungsi oposisi dan mendesak Presiden Prabowo mengakui kondisi ekonomi Indonesia sedang krisis.
  • Pengerahan ratusan personel TNI dalam aksi 12 Juni dikritik mahasiswa sebagai tanda pemerintahan condong militeristik, sementara TNI menyebut keterlibatan mereka atas permintaan kepolisian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
12 Juni 2026

BEM UI dan mahasiswa dari berbagai kampus menggelar aksi demo #IndonesiaMenujuBangkrut di Bundaran Hotel Indonesia. Aksi ini diblokade oleh polisi dan TNI, sehingga mahasiswa gagal menyampaikan aspirasi.

14 Juni 2026

Ketua BEM FH UI, Dimas Rumi Chattaristo, menyoroti pengerahan sekitar 500 personel TNI dalam aksi 12 Juni 2026. Ia menilai hal itu menunjukkan pemerintahan Prabowo bersifat militeristik.

15 Juni 2026

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, memastikan akan ada aksi lanjutan di Bundaran HI. Ia menyatakan tuntutan mahasiswa akan diperluas namun tetap sesuai aspirasi masyarakat.

tahun 2025

Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2025 dilaporkan tetap rendah meski kejaksaan beberapa kali memamerkan uang hasil sitaan korupsi.

kini

BEM UI masih membahas waktu pelaksanaan aksi lanjutan dan terus menyerukan agar pemerintah mengakui kondisi ekonomi yang sedang krisis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    BEM Universitas Indonesia memastikan akan menggelar aksi lanjutan setelah demonstrasi bertema #IndonesiaMenujuBangkrut pada 12 Juni 2026 di Bundaran Hotel Indonesia.
  • Who?
    Aksi ini digerakkan oleh BEM UI yang dipimpin Yatalathof Ma’shum Imawan, dengan dukungan mahasiswa dari berbagai kampus. Aparat kepolisian dan TNI turut terlibat dalam pengamanan sebelumnya.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, lokasi yang juga menjadi titik utama aksi sebelumnya.
  • When?
    Aksi lanjutan direncanakan setelah demonstrasi 12 Juni 2026, namun waktu pastinya masih dalam tahap pembahasan dan belum diumumkan secara resmi.
  • Why?
    Mahasiswa menilai kondisi ekonomi nasional memburuk dan menuntut Presiden Prabowo Subianto mengakui adanya krisis serta memperbaiki kebijakan yang dianggap memberatkan rakyat.
  • How?
    BEM UI menyampaikan rencana aksi melalui pernyataan resmi dan unggahan media sosial. Mereka berkomitmen melanjutkan demonstrasi damai di lokasi yang sama untuk menyalurkan aspirasi publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Mahasiswa dari Universitas Indonesia demo di Bundaran HI karena mereka bilang keadaan ekonomi sedang susah. Mereka mau Presiden Prabowo bilang kalau negara lagi krisis. Waktu demo dulu banyak polisi dan tentara jaga, jadi mahasiswa belum bisa bicara banyak. Sekarang mereka mau demo lagi di tempat yang sama tapi belum bilang kapan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Aksi lanjutan yang direncanakan BEM UI menunjukkan semangat konsisten mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi publik dengan cara terbuka dan terorganisir. Pernyataan mereka tentang menjaga tuntutan agar tetap jelas dan sesuai kebutuhan masyarakat mencerminkan kedewasaan berpikir serta tanggung jawab sosial yang kuat di kalangan generasi muda akademisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia memastikan aksi demo #IndonesiaMenujuBangkrut tidak berakhir pada Jumat (12/6/2026). Mereka bakal menggelar aksi lanjutan di Bunderan Hotel Indonesia. Konfirmasi adanya aksi lanjutan disampaikan oleh Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan.

"Masih ada aksi lanjutan. Kami akan ada aksi lagi di tempat yang sama," ujar Yatalathof kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Senin (15/6/2/2026).

Ketika ditanyakan mengenai tuntutan, mahasiswa yang akrab disapa Athof itu menyebut isi tuntutan akan lebih luas. Namun, dia memastikan isi tuntutan tetap sesuai dengan aspirasi masyarakat.

"Yang kami inginkan adalah jumlah dan isinya tetap on point agar tidak ada kebingungan di benak masyarakat," kata dia.

Notifikasi adanya aksi lanjutan juga disampaikan lewat akun media sosial resmi BEM UI. Di akun tersebut tertulis 'Kami akan datang lagi merebut Bundaran HI, merebut kemenangan rakyat. #MenujuIndonesiaBangkrut.'

"Kami tidak akan pernah menyerah. Selama keadilan belum berpihak kepada rakyat, perjuangan ini tidak akan pernah berhenti. Kami akan datang lagi, kami akan merebut Bunderan HI. Kami akan merebut kemenangan," demikian isi tulisan di unggahan BEM UI tersebut.

Ketika IDN Times tanyakan kapan aksi lanjutan itu dilakukan BEM UI, Athof mengaku belum bisa membocorkannya. Sebab, saat ini masih dalam tahap diskusi. Dalam aksi Jumat lalu, mahasiswa UI dan sejumlah kampus lainnya belum berhasil menyampaikan aspirasi di Bunderan Hotel Indonesia lantaran diblokade oleh personel kepolisian dan TNI.

Bahkan, polisi sempat mengarahkan agar aksi unjuk rasa dilakukan di depan gedung DPR. Arahan itu ditolak mentah-mentah oleh mahasiswa UI.

1. Mahasiswa UI nilai berdemo di depan gedung DPR tak ada manfaatnya

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, Yatalathof Ma'shum Imawan di lokasi demonstrasi #MenujuIndonesiaBangkrut pada Jumat, 12 Juni 2026. (IDN Times/Fauzan)

Yatalathof mengatakan, penyampaian aspirasi di Gedung DPR sudah tak ada lagi manfaatnya. Sebab, mereka menilai sudah tak ada lagi pihak oposisi yang menjadi penyeimbang koalisi pemerintah di parlemen.

"Pada faktanya, saat ini eksekutif dan legislatif tidak ada bedanya. Mereka sudah jadi satu koalisi dan sepakat untuk menyengsarakan rakyat. Dari mana buktinya? Tadi saya sebutkan bagaimana pemerintah memajaki rakyat banyak lewat PP Nomor 20 Tahun 2026 untuk UMKM, tetapi pemerintah membatalkan royalti minerba yang sudah diterapkan kepada para oligarki. Sedangkan, kondisi saat ini sedang krisis," ujar Athof di Bundaran HI pada Jumat lalu.

"Bagaimana mungkin rakyat banyak yang sekarang sedang sengsara malah ditagih pajak lebih besar?" kata dia.

Alasan kedua mahasiswa tak berunjuk rasa di DPR, selain fungsi pengawasan sudah tak lagi berjalan, karena pemerintah yang memegang fungsi kebijakan.

"Pemerintah sudah bobrok dengan membuat program-program pemborosan, tapi mereka (DPR) tak menjalankan fungsi pengawasannya. Kami mending demo di Bunderan HI dan menyadarkan rakyat banyak bahwa kondisi saat ini tidak sedang baik-baik saja," kata dia.

2. Mahasiswa desak Prabowo mengakui kondisi ekonomi tidak baik-baik saja

Situasi aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat pada Jumat (12/6/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Athof mengatakan, pihaknya memiliki lima tuntutan untuk disampaikan ke pemerintahan Prabowo Subianto. Namun, di antara lima tuntutan itu, ada satu poin yang paling mudah dilakukan, yakni Prabowo berhenti menyangkal bahwa kondisi ekonomi di Tanah Air baik-baik saja.

"Pemerintah tinggal muncul ke publik dan lakukan tuntutan kelima. Prabowo berhenti mengelak dan mengakui ada krisis. Sekarang, kondisi sudah krisis dan itu ada di mana-mana. Tapi, pemerintah masih menganggap kondisi baik-baik saja," kata dia.

Bahkan, tingkat kepercayaan publik ke pemerintah terus menurun. Sebagai bukti, meski kejaksaan sudah beberapa kali memamerkan uang hasil sitaan dari tersangka kasus korupsi, tetapi Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2025 tetap jeblok.

"Jadi, penindakan korupsi untuk menyingkirkan lawan politik atau penegakan hukum. Itu kan sekarang yang jadi pertanyaan banyak orang," ujar dia.

3. Mahasiswa sebut pemerintahan Prabowo condong militeristik

Mahasiswa UI diadang TNI untuk bisa berunjuk rasa di Bunderan Hotel Indonesia (HI). (IDN Times/Santi Dewi)

Salah satu poin yang menjadi catatan dalam aksi demo mahasiswa 12 Juni yakni adanya pengerahan personel TNI dalam jumlah besar. Berdasarkan keterangan kepolisian, dalam pengamanan kemarin, ada 500 personel militer yang ikut dikerahkan. Mereka bahkan sempat berada di lapis terdepan dan berhadapan langsung dengan mahasiswa.

Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Dimas Rumi Chattaristo, menyadari banyaknya personel TNI dalam aksi 12 Juni 2026. Hal itu menunjukkan pemerintahan Prabowo condong militeristik.

"Selain itu, pemerintah juga tidak mau mendengarkan rakyatnya. Pengerahan militer untuk mengamankan demo yang dilakukan oleh warga sipil, jumlahnya tidak proporsional. Bukan tugas TNI juga untuk mengamankan demo," ujar Dimas kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Minggu (14/6/2026).

Tugas militer yakni menjaga pertahanan dari ancaman luar Indonesia. "Mereka dilatih memegang senjata untuk menghadapi musuh negara, bukan mahasiswa yang terbiasa dengan buku dan pemikiran kritis sebagai senjatanya," katanya.

Sementara, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Brigjen TNI Muhammad Nas, mengatakan pengerahan personel TNI di dalam aksi unjuk rasa pada Jumat lalu lantaran ada permintaan bantuan dari kepolisian. Nas menegaskan anggota kepolisian tetap berada di garda terdepan dalam upaya penanganan aksi unjuk rasa.

"Penanganan demo adalah tanggung jawab kepolisian. Pengerahan TNI atas dasar permintaan untuk membantu. Artinya, polisi tetap berada di garda terdepan," ujar Nas kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Jumat.

Editorial Team

Related Article