Anna mengatakan, kepergian seorang dokter muda adalah kehilangan yang sangat berarti. Wafatnya Zulfikar mengingatkan bahwa di balik tugas, tanggung jawab, dan tuntutan pelayanan, setiap dokter tetaplah manusia yang memiliki batas, membutuhkan dukungan, dan berhak berada dalam lingkungan kerja yang aman, sehat, serta bermartabat.
"Program internship berada di luar tata kelola langsung universitas. Namun, sebagai almamater dan bagian dari ekosistem pendidikan kedokteran, kami memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengingatkan pentingnya komunikasi yang terbuka, pendampingan yang nyata, pembagian beban kerja yang wajar, serta budaya kerja yang saling menghormati dan saling menjaga," tutur Anna.
Ia menekankan, tidak seharusnya kelelahan, tekanan, atau rasa sendiri dipandang sebagai hal biasa dalam perjalanan menjadi dokter. Ketangguhan profesional tidak dibangun dengan mengabaikan kemanusiaan, melainkan dengan sistem yang mampu mendengar, melindungi, dan hadir ketika seseorang membutuhkan pertolongan.
"Kami menghormati seluruh proses yang sedang berjalan dan mengajak semua pihak untuk menahan diri dari spekulasi maupun penilaian yang belum memiliki dasar yang jelas. Pada saat yang sama, setiap suara, pengalaman, dan keluhan dari dokter muda perlu diterima sebagai bahan refleksi dan perbaikan bersama. Semoga kepergian almarhum menjadi pengingat bagi kita semua: tidak ada pelayanan yang bermutu tanpa tenaga kesehatan yang dijaga, dan tidak ada pendidikan kedokteran yang unggul tanpa nilai kemanusiaan. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT," imbuh Anna.